Fakultas Kehutanan

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, salah satu program pembangunan yang dicanangkan adalah pembangunan universitas untuk mewujudkan cita?cita mencerdaskan bangsa. Maka pada tanggal 19 Desember 1949 didirikanlah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berkedudukan di Yogyakarta.
Pemerintah Republik Indonesia yang masih baru juga menyadari bahwa Indonesia memiliki sumber daya hutan (SDH) yang harus didukung SDM dengan latar belakang pendidikan yang profesional. Sampai tahun 1949 pendidikan profesi kehutanan yang ada hanya tingkat menengah, yaitu SMKA (Sekolah Menengah Kehutanan Atas), pada jaman Hindia Belanda bernama MBS atau SMKA. Lama pendidikan di Akademi Kehutanan ini 2 tahun, yang diasuh oleh sarjana kehutanan Belanda yang bekerja pada Pemerintah Indonesia.

Mengingat pendidikan pada Akademi Kehutanan ini bersifat penataran pegawai, maka kelembagaannya juga bersifat sementara. Rupanya pemerintah menyadari, pembinaan pendidikan tinggi kehutanan akan lebih berkualitas apabila ditangani universitas. Oleh karena itu, pada 1951/52 dibuka Bagian Kehutanan di Fakultas Pertanian UGM yang diresmikan dalam Rapat Senat Terbuka yang dipimpin oleh Presiden UGM waktu itu, Prof. Dr. Sardjito. Sejak itu Fakultas Pertanian berubah menjadi Fakultas Pertanian dan Kehutanan.

Menjadi lembaga pendidikan tinggi di bidang kehutanan tropika yang unggul dan bermartabat di tingkat nasional dan diakui secara internasional, dijiwai Pancasila dan berdedikasi kepada kepentingan dan kemakmuran bangsa.

Bagian Kehutanan dibina oleh pengasuh Akademi Kehutanan, yang semuanya tinggal di Bogor, seperti Prof. Ir. PKM Steuf, Prof. Ir. C.Gartner, Prof. Ir. EHP Juta, Prof. Ir. F.Versteegh, Prof. Ir. AH Verkuyl, Prof. Ir. J. Becking dan Dipl.Ing. Hollerworger. Dosen-dosen tersebut juga mengajar di program Kehutanan Universitas Indonesia cabang Bogor, yang kemudian menjadi IPB (Institut Pertanian Bogor).

Mahasiswa Bagian Kehutanan angkatan pertama (1951/52) antara lain Koesniobari, Soediarto, RIS Pramoedibyo, Widayat Eddy Pranoto, M. Soebagyo, Simatoepang, Soeyono dan Moch. Fadil. Angkatan pertama ini mulai lulus dan memperoleh gelar Ir pada tahun 1957. Saat itu gengsi gelar "Ir" di kalangan masyarakat masih sangat tinggi, dan mereka langsung mendapat jabatan yang tinggi pula di lingkungan jawatan Kehutanan.

Perkembangan Awal-awal Dosen
Pada waktu dosen?dosen Belanda meninggalkan tanah air, banyak mahasiswa senior diangkat menjadi asisten. Mereka itulah yang kemudian menjadi tokoh yang membesarkan Fakultas Kehutanan UGM. Selain mahasiswa senior, beberapa pejabat Jawatan Kehutanan juga diangkat menjadi dosen honorer. Diantarany terdapat nama Ir. Soedarwono Hardjosoediro, yang pada waktu itu menjabat Kepala Seksi Tata Hutan IV di Yogyakarta. Alumnus kehutanan IPB ini lulus tahun 1955, tetapi pernah seangkatan dengan RIS Pramoedibyo di Fakultas Pertanian UGM hingga tingkat propadeus. UGM yang saat itu belum memiliki jurusan Kehutanan, maka Soedarwono pindah ke Bogor, sedang RIS Pramoedibyo tetap tinggal di Yogyakarta menunggu pembukaan jurusan Kehutanan yang kabar beritanya sudah mulai beredar.

Ir. Soedarwono kemudian memilih tetap bekerja di UGM, keluar dari Jawatan Kehutanan. Kelak Ir. Soedarwono menjadi sesepuh Fakultas Kehutanan UGM dengan menjadi Dekan dan Guru Besar pertama . Prof. Ir. Soedarwono kemudian mengasuh Fakultas Kehutanan UGM bersama Prof. Dr. Soenardi Prawiroharmodjo, Prof. Dr. Ir. Achmad Sumitro, Prof. Dr. Ir. Achmad Sulthoni MSc, Prof. Dr. Ir. Oemi Hani'in Soeseno, Dr. Ir. Setyono Sastrosoemarto, Ir. Imam Abdulrachman, Ir. Moch. Yusuf (almarhum), Prof. Dr. Ir. Soekotjo, Ir. Haryanto Yoedodibroto M.Sc. (almarhum), Ir. Soedardjo (almarhum) dan Ir. Pardiyan (almarhum) mengembangkan Fakultas Kehutanan. Beberapa dosen yang kemudian memilih bekerja di jawatan Kehutanan misalnya Ir. Soediarto (angkatan 1950), Ir. RIS Pramoedibyo (angkatan 1950), Ir. M. Soebagyo (angkatan 1951), Ir. Soehardjo (angkatan 1952), Ir. Djamaludin Suryohadikusumo (angkatan 1953), Ir. Ag Sutanto (angkatan 1953), Ir. Susilo Mislan (angkatan 1957), dan sebagainya. Disamping itu juga ada dosen honorer yang berperanan penting, seperti Ir. Apandi Mangoendikoro (almarhum, alumnus IPB), Ir. Andang Trihadi (angkatan 1951),Soekiman Atmosoedarjo, Ir RIS Pramudibyo, Ir Djamaludin Suryohadikusurno dan sebagainya.

Pemisahan dari Fakultas Pertanian
Melalui Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan tertanggal 24 Agustus 1963, Bagian Kehutanan dipisahkan dari Fakultas Pertanian dan Kehutanan menjadi fakultas yang berdiri sendiri terhitung mulai 17 Agustus 1963 . Pada saat yang bersamaan, Universitas Indonesia Cabang Bogor juga berdiri sendiri menjadi Institut Pertanian Bogor. Dengan SK tersebut, Fakultas Pertanian dan Kehutanan UGM dipisahkan menjadi Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Kehutanan. Nomor mahasiswa Kehutanan yang dulu menggunakan kode P spun berubah menjadi nomor baru berkode Kht. Mahasiswa dengan nomor 1/Kht. adalah Haryanto Yoedodibroto.

Fakultas Kehutanan memiliki Jurusan Ekonomi Perusahaan Hutan, Pembinaan Hutan, dan Teknologi Hasil Hutan. Pengurus fakultas dipimpin oleh Dekan, dibantu dua orang Pembantu Dekan. Dekan pertama adalah Ir. Soedarwono Hardjosoediro, Pembantu Dekan I adalah Soenardi, B.Sc.F, dan Pembantu Dekan II adalah Ir. Achmad Sulthoni. Ketua jurusan Ekonomi Perusahaan Hutan dirangkap oleh Ir. Soedarwono Hardjosoediro, Ketua Jurusan Pembinaan Hutan dijabat oleh Ir. Oemi Hani'in Soeseno, dan Ketua Jurusan Teknologi Hasil Hutan dirangkap oleh Soenardi, B.Sc.F.

Dalam pembinaan dan pengembangan ilmu, tiap jurusan dibentuk seksi. Jurusan Ekonomi Perusahan Hutan membentuk Seksi Statistik dan Ukur Kayu, Seksi Penafsiran Potret Udara dan Perpetaan, Seksi Eksploitasi Hasil Hutan, Seksi Politik Ekonomi Hutan, Seksi Pengaruh Hutan dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Seksi Pengelolaan Margasatwa, serta Seksi Perencanaan dan Penilaian Perusahan Hutan. Jurusan Pembinaan Hutan mempunyai Seksi Silviks, Seksi Silvikultur, Seksi Pemuliaan Pohon, Seksi Hygiene Hutan, Seksi Phytogeographi, Seksi Phytososiologi, Seksi Flora Pohon?pohonan, dan Seksi Tanah Hutan. Jurusan Teknologi Hasil Hutan mempunyai Seksi Sifat?sifat Kayu, Seksi Pengeringan dan Pengawetan Kayu, dan Seksi Pengolahan Hasil Hutan.

Sejak tahun 1962 jumlah mahasiswa baru Kehutanan sekitar 100 orang. Jurnlah tersebut bertahan hingga1994, walaupun beberapa mahasiswa angkatan 1962 sampai angkatan 1968 hanya menyelesaikan tingkat Sarjana Muda saja. Tingkat kelulusan semakin lama semakin tinggi, terutama mulai angkatan 1970.

Perubahan sistem pemerintahan mengakibatkan era baru pengelolaan hutan di Indonesia sejak tahun 1967. Sebelumnya pengelolaan hutan di Indonesia hanya terpusat pada hutan tanaman jati di Jawa. Sejak dikeluarkannya Undang?Undang Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 1967 dan disusul dengan Undang?Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tahun 1968, pengusahaan hutan alam di luar Jawa yang sangat luas itu terbuka untuk pemilik modal luar maupun dalam negeri. Perubahan politik pembangunan itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan Fakultas Kehutanan.

Dengan semaraknya pengusahaan hutan di luar Jawa oleh para pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan), maka Fakultas Kehutanan menjadi terkenal. Jumlah lulusan SMA yang berminat masuk Fakultas Kehutanan turut meningkat pesat. Sejak sekitar tahun 1974, jumlah mahasiswa baru yang diterima tetap sekitar 100 orang, namun jumlah peminatnya meningkat hingga lebih dari 1000 orang.

Perubahan Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan tinggi yang dianut pada awal perkembangan UGM belum teratur rapi dibanding sekarang. Ada yang mengatakan sistem tersebut dinamakan "sistem bebas", karena kekurangan tenaga dosen, kuliah untuk pelajaran tertentu seringkali dilakukan seperti borongan, yaitu selesai dalam beberapa hari saja. Penyebabnya adalah banyak "dosen terbang" yang tempat tinggalnya di Jakarta atau Bogor. Ujian tidak selalu diselenggarakan secara serentak.Mahasiswa yang merasa siap ujian mata kuliah tertentu dapat menghadap dosen dan menentukan waktu ujian. Ujian banyak dilaksanakan secara lisan. Pertanyaan ujian seringkali melebar, bahkan keluar dari materi kuliah. Ada juga pertanyaan yang dipengaruhi oleh masalah aktual yang di lingkungan Jawatan Kehutanan atau dipengaruhi jawaban sebelumnya.

Pada tahun 1962, UGM menerapkan sistem pendidikan tinggi baru, yang dikenal dengan "sistem semester". Dalam sistem baru ini kuliah dijadwalkan secara teratur selama empat bulan, yang diakhiri dengan ujian klasikal yang juga dijadwalkan secara teratur pula. Setiap mata kuliah diadakan sekali dalam satu minggu. Di samping ujian utama, juga diselenggarakan ujian ulangan. Periode kuliah dibedakan antara tingkat Persiapan (Propadeus), tingkat Bacaloreat (Sarjana Muda, 2 tahun), dan tingkat Doktoral (Sarjana, 2 tahun). Mereka yang lulus semua ujian, pada ujian utama dan ujian ulangan, dapat naik ke tingkat berikutnya. Jika ada satu atau dua mata kuliah belum lulus,dibolehkan mengikuti kuliah pada tingkat berikutnya tetapi harus menyelesaikan mata kuliah tersebut.

Ijazah yang diterima oleh mahasiswa ada tiga, yaitu ijazah Propadeus, ijazah Sarjana Muda (B.Sc.), dan ijazah Sarjana (Ir). Dalam kenyataan banyak puia mahasiswa yang keluar setelah memperoleh ijazah Sarjana Muda, dan secara resmi tingkat ijazah ini diterima di sistem kepegawaian nasional setingkat akademi.

Sistem semester berjalan sampai tahun 1978 dan hasilnya memang lebih jelas. Sejak1978, UGM mengganti sistem semester dengan sistem kredit. Sistem ini merupakan oleh?oleh dosen yang menyelesaikan Doktor di Amerika Serikat. Tokoh mengenalkan sistem kredit adalah Prof. Dr .Ir. Andi Hakim Nasution dari Fakultas Pertanian IPB. Bersamaan dengan berlakunya kredit, jurusan di Fakultas Kehutanan UGM berganti nama dan bertambah satu, menjadi jurusan Manajemen Hutan, Jurusan Budi Daya Hutan, Jurusan Teknologi Hasil Hutan, dan Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan.

Program Pascasarjana dan Diploma
Mulai tahun 1980 Fakultas Kehutanan mengikuti kebijakan Universitas Gadjah Mada untuk menyelenggarakan pendidikan S2, di bawah Koordinasi Program Pasca Sarjana UGM. Mula?mula tamatan S2 UGM ini diberi gelar SU (Sarjana Utama), tetapi kemudian diganti dengan MS (Magister Sains). Sekarang gelar tamatan S2 ini dirubah lagi, disesuaikan dengan program studi yang diikuti. Di samping kuliah S2, mulai tahun 1993 Fakultas Kehutanan UGM juga menyelenggarakan pendidikan Diploma Tiga (D.III), bekerja sama dengan Departemen Kehutanan . Mahasiswa D.III angkatan pertama ini seluruhnya sudah lulus tahun 1996. Mulai tahun 1996 itu dibuka pendidikan D.III umum, bukan dari pegawai Departemen Kehutanan, dan jumlah mahasiswa pada angkatan pertama mencapai 100 orang. Kecuali itu sejak tahun 1985 juga diselenggarakan pendidikan D.I. , bekerjasama dengan Departemen Kehutanan.

Keadaan Lingkungan
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada saat ini berlokasi di jalan Agro, Bulaksumur, Yogyakarta. Komplek ini berada di sebelah timur hutan mini " Pardiyan" yang berada di depan Kantor Pusat Tata Usaha Universitas Gadjah Mada dengan Balairungnya yang terkenal dengan nama "kampus biru".
Saat ini gedung yang dimiliki oleh Fakultas Kehutanan ada empat unit. Unit 1 dengan bangunan tiga lantai digunakan sebagai kantor Tata Usaha, Dekan serta Pembantu Dekan, bagian Akademik,Perpustakaan, Ruang Dosen, ruang kuliah dan laboratorium Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan (KSDH), serta ruang sidang Jurusan Konservasi SDH. Unit 2 dengan bangunan dua lantai digunakan sebagai ruang Dosen Jurusan Budidaya Hutan (BDH), ruang kuliah dan Laboratorium. Unit 3 sebagai ruang kuliah umum dan juga berfungsi sebagai ruang sidang untuk acara yang membutuhkan ruang dengan kapasitas lebih dari 200 orang. Unit 4 merupakan gedung baru 6 lantai. Lantai 1 - 3 digunakan untuk ruang kuliah, ruang dosen dan laboratorium Jurusan Teknologi Hasil Hutan (THH). Lantai 4 - 6 digunakan sebagai ruang kuliah, ruang dosen dan laboratorium Jurusan Manajemen Hutan. Ditambah lagi dengan musholla berlantai 2, ruang kantin mahasiswa dan ruang parkir sepeda motor/sepeda.
Untuk tempat tinggal mahasiswa, tersedia dua asrama yaitu asrama putra Darmaputra di komplek Baciro dan asrama putri Ratnaningsih, Yogyakarta. Ada jugasrama yang dikelola oleh Koperasi mahasiswa di jalan Kaliurang KM 5,6. Disamping asrama?asrama tersebut, mahasiswa dapat mencari pondokan/kost di rumah penduduk sekitar UGM, atau asrama yang dikelola Pemda dari berbagai Propinsi. Di sekitar UGM juga tersedia fasilitas Rumah Sakit Umum Pusat RS. DR. Sardjito, RS. Panti Rapih, RS. Bethesda. Di sekitarnya juga terdapat Bank seperti BN1 1946, Bank Mandiri, Bank Danamon dan Bank Bukopin. Selain itu, terdapat berbagai fasilitas penunjang lain seperti Koperasi mahasiswa UGM (KOPMA), Koperasi dosen UGM (KOSUDGAMA), WARTEL, Kantor POS, Mesjid Kampus, Gelanggang mahasiswa UGM, Gedung Pertemuan, hotel, lapangan olah raga, tempat penitipan anak, Gedung pertemuan untuk acara kesenian (Purna Budaya). UGM pun memiliki penginapan seperti Gadjah Mada Guest House dan Wisma KAGAMA yang terletak di pintu gerbang masuk Universitas yang dapat disewa umum, serta beberapa rumah khusus untuk tamu UGM di Sekip dan Bulaksumur. Tersedia juga penginapan/villa di Kaliurang yaitu Wisma Gadjah Mada yang dapat disewa umum. Sarana Transportasi dari luar kampus/kota ke kampus UGM dilayani oleh banyak bus kota. Hampir semua jalur bus kota melewati kampus UGM

Jl. Agro, Bulaksumur, Yogyakarta - 55281, INDONESIA;
t: +62-274-512102, 901400, 901401;
f: +62-274-550541, 523553;
e: fkt@ugm.ac.id; w: www.fkt.ugm.ac.id