Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, adalah desa produsen beras. Ironisnya, meskipun sebagai salah satu daerah penghasil beras, petani di daerah tersebut hingga kini masih harus mencukupi kebutuhan berasnya dengan cara membeli. "Mirip dengan kondisi negara kita. Meski sebagai produsen utama beras dunia, Indonesia hampir setiap tahun selalu menghadapi masalah pemenuhan kebutuhan pangan," kata Diana Kusumawijaya, peneliti Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, Jumat (12/2).
Menurut Diana, peristiwa gempa 27 Mei 2006 silam turut memberi andil dalam perubahan dan perkembangan masyarakat desa di Kabupaten Bantul. Kondisi ekonomi masyarakat dinilainya belum pulih sepenuhnya, terutama di sektor perekonomian rumah tangga. Hal ini tentu saja berpengaruh pada kualitas konsumsi pangan masyarakat.
"Meskipun gempa telah terjadi 3,5 tahun yang lalu, dampaknya masih terasa. Lumpuhnya sektor industri menyebabkan sebagian masyarakat yang biasanya mendapatkan penghasilan tambahan sebagai pekerja tidak tetap menjadi kehilangan pendapatan dari sumber tersebut," jelasnya di kampus UGM saat mengupas buku Ketahanan Pangan di Berbagai Tipologi Area Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selain perubahan eksternal seperti gempa, perkembangan komunikasi modern yang merambah desa turut berperan menggeser gaya hidup pedesaan ke gaya hidup modern. Akibatnya, hal itu mempertipis perbedaan desa dan kota, khususnya untuk kebutuhan nonprimer.
Secara umum, hasil penelitian Diana memperlihatkan produksi sawah masyarakat Gadingsari sesungguhnya telah mencukupi kebutuhan konsumsi untuk keluarga mereka sendiri. Hanya saja, masih didapati sebagian masyarakat yang membeli beras. Hal ini disebabkan muncul kecenderungan masyarakat menjual hasil panennya untuk keperluan lain, seperti menutupi kekurangan biaya rumah tangga, biaya sosial, cicilan kredit, dan sebagainya. "Permasalahan tersebut dapat dipahami karena memang pendapatan masyarakat dari usaha tani tanaman pangan proporsinya 38%, sementara kontribusi terbesar berasal dari luar usaha tani yang proporsinya mencapai 59%," tutur Diana.
Sebagai peneliti, Diana meyakini kontribusi pendapatan yang berasal dari luar usaha tani. Hanya saja, kontribusi tersebut saat ini masih belum optimal. Di samping gempa yang menyebabkan sektor usaha produktif belum pulih, faktor resesi global juga menjadi penyebab sektor kerajinan di Bantul mengalami kesulitan.
Dalam buku setebal 116 halaman dan diterbitkan oleh Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM ini disajikan pula beberapa topik menarik, antara lain, "Desa Mandiri Pangan: Ujung Tombak Ketahanan Pangan Nasional", "Konsumtivisme dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Masyarakat Sub-Urban", "Pemanfaatan Kawasan Pantai Selatan sebagai Karakter Ketahanan Pangan Masyarakat Pesisir, Kiat Hidup Masyarakat di Lahan Kering (Kasus Desa Giring Panggung, Tepus, Gunungkidul)", dan "Kayu untuk Air Bersih". (Humas UGM/Agung)
