Tanah longsor kembali melanda Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Minggu (16/11). Berdasarkan data geologi Banjarnegara, Pemalang, wilayah tersebut sebenarnya tidak berada pada sesar aktif, namun rekahan baru yang berkembang sejak lama menjadi pemicu utama kerapuhan lereng. Memasuki musim hujan, rekahan jenuh air dan semakin rentan bergerak sehingga menyebabkan bencana yang menewaskan 11 orang, 17 orang masih hilang, serta merusak 182 rumah. “Daerah yang rawan terjadinya longsor adalah daerah yang mempunyai lereng curam yang tersusun oleh material gembur atau batuan retak-retak,” ujar Prof. Wahyu Wilopo, Guru Besar Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Rabu (26/11).
Salah satu perhatian utama terkait peristiwa ini adalah keharusan pemasangan sistem peringatan dini longsor yang efektif. Berbeda dengan tsunami atau banjir, sistem peringatan dini longsor bersifat sangat lokal sehingga memerlukan anggaran besar serta dukungan teknis dan SDM untuk operasional harian. Wahyu menjelaskan bahwa standar SNI menetapkan perlunya sensor penakar curah hujan dan sensor deformasi lereng, namun banyak sistem di lapangan tidak berfungsi karena kurang perawatan. “Permasalahan di lapangan adalah sistem yang sering tidak terawat akibat keterbatasan dan kekurangan SDM yang bertugas mengelola,” jelasnya.
Selain itu, relokasi warga dari kawasan rentan longsor bukan tugas mudah karena menyangkut faktor ekonomi, sosial, hingga budaya yang melekat pada lokasi asal. Upaya evakuasi juga kerap terhambat oleh kondisi medan, cuaca, aksesibilitas yang minim, dan tidak adanya SOP evakuasi yang dipahami warga. Situasi diperparah dengan fenomena ‘wisata bencana’ yang menyebabkan kemacetan dan menghambat mobilisasi petugas. “Masyarakat juga tidak pernah atau jarang mengikuti gladi evakuasi bencana longsor sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan,” terang Wahyu.
Dari sisi tipologi, menurut Wahyu, longsor mematikan biasanya diawali dengan luncuran atau rotasional yang kemudian berubah menjadi aliran cepat akibat tingginya kejenuhan tanah setelah hujan intens. Karena itu masyarakat perlu memahami tanda-tanda awal longsor seperti retakan tanah, pohon miring, amblesan, air keruh di kaki lereng, atau guguran tanah. “Biasanya akan ada getaran dan suara gemuruh untuk longsor yang cukup besar,” katanya.
Langkah pencegahan dapat dilakukan masyarakat dengan melandaikan lereng, membuat drainase permukaan, memperkuat lereng, hingga menanam vegetasi akar kuat. Wahyu juga mengingatkan agar pembangunan rumah memperhatikan jarak aman dari lereng untuk mengurangi risiko ketika terjadi longsor. “Sebaiknya bangun rumah dua kali tinggi lereng atau tempatkan kamar tidur pada lokasi yang terjauh dari lereng,” paparnya.
Pemerintah memiliki peran penting dalam mitigasi jangka panjang melalui penyusunan peta kerentanan longsor yang detail, identifikasi tingkat paparan, hingga pemetaan prioritas penanganan. Selain itu, peningkatan informasi peringatan dini dari BMKG, Badan Geologi, dan BNPB harus dikomunikasikan secara cepat dan jelas kepada masyarakat di daerah rawan. “Yang bisa dilakukan pemerintah adalah meningkatkan informasi peringatan dini dan mengkomunikasikan tindakan evakuasi mandiri sementara ke lokasi aman,” tuturnya.
Penulis: Alena Damaris
Editor: Triya Andriyani
Foto: BNPB
