Universitas Gadjah Mada dan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) mengadakan forum strategis yang dirancang untuk mempertemukan inovasi dan pemikiran hasil riset unggulan kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia usaha. Dikemas melalui Kagama Policy Dialogue, kegiatan ini dirancang untuk mendorong kebijakan publik berbasis evidence ini memiliki beberapa output, diantaranya policy brief, publikasi hasil diskusi, serta peta jejaring action plan akademisi-praktisi sebagai implementasi kebijakan.
Anggota Dewan Pakar PP Kagama sekaligus Direktur LPS, Prof. Anggito Abimanyu, mengatakan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kesalahan dalam melaksanakan kebijakan yang tidak berbasis kajian akademik dan riset. Ia mendorong semakin banyak kebijakan publik yang berasal dari temuan hasil riset yang mendalam. “Nah, jadi ide ini sebetulnya mendorong agar setiap policy berdasarkan hasil riset dan publikasi yang tereputasi,” ungkapnya, Sabtu (14/12), di ruang multimedia Gedung Pusat UGM.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi antara akademisi dan praktisi agar dapat tercipta kebijakan publik berbasis evidence. Ova menegaskan langkah yang dilakukan tersebut merupakan bagian dari cita-cita UGM dan kini sedang berada pada perubahan paradigma. “Kita juga sedang mengubah paradigma dari teaching center menjadi research and development center,” jelasnya.
Ketua Umum PP Kagama, Basuki Hadimuljono, berharap bahwa kedepannya kegiatan ini menjadi kalender tahunan dari Dies Natalis UGM sekaligus penelitian yang dilakukan dapat dilaporkan langsung kepada masyarakat.
Selaras dengan Basuki, Wakil Rektor UGM Dr. Danang Sri Hadmoko menuturkan bahwa Kagama Policy Dialogue akali ini membahas beberapa tema diantaranya transformasi digital dan AI, transisi energi, bidang ketahanan pangan, informasi kesehatan, pengembangan ekonomi dan ekologi. Terkait dengan program pengembangan transisi energi, pihaknya melaksanakan penandatangan kerja sama dengan mitra industri yang tergabung dalam konsorsium bioetanol. “Berkaitan dengan transisi energi, langsung ditindaklanjuti dengan MoU dan PKS berkaitan dengan konsorsium bioetanol,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, juga dilaksanakan penandatangan piagam kerja sama untuk kegiatan penelitian dan pengembangan advokasi bioetanol di Indonesia antara UGM dengan PT Sinergi Gula Nusantara, PT Pertamina Patra Niaga, dan PT Medco Intidinamika. Nota kesepahaman bersama ini, para pihak menyepakati dalam melakukan kajian terhadap rencana akselerasi dan revitalisasi sebagai program quick win dalam pengembangan bioetanol di Indonesia.
Lebih jauh Danang menjelaskan ruang lingkup kerja sama meliputi kajian terhadap potensi bahan baku feedstock jangka panjang untuk mendukung keberlanjutan industri bioetanol, melakukan analisis terhadap permasalahan pada sektor hidup terkait pemanfaatan etanol sebagai substitusi LPG, melakukan kajian terhadap pengaruh persatuan planning etanol hingga 10% atau lebih terhadap kinerja mesin pembakaran, melakukan penelusuran rekomendasi serta advokasi pendidikan pengembangan bioetanol di Indonesia.
Di akhir sesi Kagama Policy Dialogue ini juga dilaksanakan penandatanganan Letter Of Intent (LOI) antara UGM dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang diwakilkan oleh Kepala Divisi Kehumasan LPS, Nur Budiantoro. Kedua belah pihak sepakat mengerjakan kerjasama dengan ruang lingkup forum diskusi bersama untuk mempertemukan para pemimpin industri, akademisi, serta beberapa pejabat untuk berdiskusi mengenai beberapa isu strategis, sektor keuangan dan ekonomi, serta membuka peluang kolaborasi dan konstruktif.
Penulis : Salwa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
