Peringatan Hari Ibu menjadi momen untuk kembali melihat peran ibu dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perubahan sosial, banyak ibu menjalani peran ganda sebagai pengasuh keluarga sekaligus individu yang aktif di ruang publik. Peran ini kerap dijalani dengan tuntutan untuk selalu hadir, sabar, dan mengutamakan orang lain. Di balik peran yang tampak kuat, ada kerja emosional yang sering luput dari perhatian.
Psikolog Universitas Gadjah Mada, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog., menjelaskan, dalam perspektif psikologi Hari Ibu dapat dimaknai sebagai ruang refleksi atas perjalanan emosional perempuan ketika menjadi ibu. Peran ibu tidak berhenti pada fungsi biologis, melainkan mencakup proses psikologis yang panjang dan dinamis. Perubahan peran perempuan membuka kesempatan yang lebih luas, namun turut menghadirkan tekanan emosional dalam pengasuhan. “Hari Ibu sebaiknya menjadi penghargaan atas proses psikologis yang kompleks ketika seorang perempuan menjadi ibu dan pengingat bahwa ibu tetap membutuhkan ruang untuk bertumbuh,” jelasnya Senin (22/12).
Menurut Yayie, biasa ia dipanggil, dalam keseharian seorang ibu, beban emosional menjadi bagian yang kerap menyertai peran ibu. Kelelahan emosional muncul bersamaan dengan rasa bersalah dan tekanan untuk memenuhi harapan sosial. Banyak ibu merasa perlu menekan emosi pribadi demi menjaga harmoni keluarga. Beban ini sering berjalan tanpa disadari lingkungan sekitar, “Yang sering dialami ibu adalah kelelahan emosional, rasa bersalah, dan tekanan untuk selalu memenuhi ekspektasi sosial sebagai sosok yang sabar dan kuat,” ungkapnya.
Yayie berujar kondisi psikologis ibu berpengaruh langsung pada relasi pengasuhan dalam keluarga. Ibu yang berada dalam kondisi mental yang sehat cenderung mampu merespons emosi anak dengan hangat dan konsisten. Respons ini membantu anak belajar mengenali serta mengelola emosinya sejak dini. Menurutnya, proses ini menjadi fondasi penting dalam perkembangan emosi anak. “Ibu yang sehat secara psikologis lebih mampu merespons emosi anak dengan hangat dan konsisten sehingga anak belajar regulasi emosi yang sehat,” tuturnya.
Sebaliknya, tekanan psikologis yang berat dapat memengaruhi kehadiran emosional ibu dalam pengasuhan. Kehadiran fisik ibu tidak selalu diikuti dengan kehadiran emosional ketika ibu berada dalam kondisi tertekan. Situasi ini dapat memengaruhi rasa aman dan keterikatan anak dan dampaknya kerap terasa dalam jangka panjang, “Jika ibu berada dalam tekanan berat tanpa dukungan, ia akan sulit hadir secara emosional dan hal ini memengaruhi keterikatan serta kesehatan mental anak,” kata Yayie.
Yayie melanjutkan, salah satu alasan kesehatan mental ibu kerap terabaikan adalah kuatnya normalisasi pengorbanan. Kelelahan ibu sering dianggap sebagai konsekuensi wajar dari peran keibuan. Pandangan ini membuat ruang bagi ibu untuk beristirahat dan mengeluh menjadi sangat terbatas. Penilaian sosial yang menghakimi memperkuat situasi ini. “Pengorbanan ibu sering dinormalisasi sehingga ketika ibu lelah atau mengeluh, ruang aman untuk mengekspresikan perasaan menjadi semakin sempit,” tegasnya.
Yayie menegaskan, dukungan dari lingkungan terdekat menjadi penopang penting bagi kesejahteraan psikologis ibu. Keterlibatan pasangan dalam pengasuhan dan pekerjaan domestik membantu mengurangi beban emosional ibu. Dukungan keluarga besar pun memberi pengakuan bahwa ibu boleh lelah dan membutuhkan waktu untuk diri sendiri. Dukungan semacam ini membantu ibu merasa dihargai, “Dukungan emosional, keterlibatan pasangan, dan pembagian peran yang adil sangat dibutuhkan oleh ibu,” pesannya.
Dukungan terhadap ibu perlu hadir lebih luas dari sekadar lingkup keluarga, mencakup lingkungan sosial, dunia kerja, hingga kebijakan publik. Tanpa dukungan yang memadai, banyak ibu terbiasa menekan kelelahan emosional, mengabaikan kebutuhan untuk beristirahat, dan terus menempatkan diri di posisi terakhir demi keluarga. Kondisi ini membuat pengasuhan berjalan dalam tekanan yang jarang disadari, padahal dampaknya dapat menjalar ke relasi keluarga secara keseluruhan. “Ketika ibu diberi ruang untuk beristirahat secara emosional dan didukung tanpa dihakimi, ibu akan lebih mampu hadir dengan utuh dan membangun pengasuhan yang sehat bagi anak-anaknya,” pungkasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Freepik
