Sebanyak 600 dokter yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis, dan perawat akan dikerahkan pada rumah sakit dan puskesmas yang ada di lokasi bencana Sumatera. Hal ini disampaikan oleh menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin pada Senin (15/12) lalu, di Istana Kepresidenan, Jakarta. Program ini melibatkan tenaga medis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melalui mekanisme koordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Salah satu perguruan tinggi yang turut berkontribusi dalam pengerahan tenaga medis tersebut adalah Universitas Gadjah Mada, yang sebelumnya juga telah mengirimkan tim kesehatan ke wilayah terdampak bencana melalui jejaring Academic Health System (AHS) sejak akhir november lalu.
Ketua Tim AHS UGM, Dr. dr. Sudadi, Sp.An., KNA., KAR., mengatakan pihaknya telah mengirim 7 tim secara bergantian ke Provinsi Aceh meliputi daerah Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten bener meriah. Hingga saat ini kita sudah mengirim 7 tim yang setiap pekan kita berangkatkan ke sana. “Para tim medis ini kita tempatkan selama seminggu di lokasi,” ujarnya, Rabu (24/12).
Ia menerangkan tim relawan yang terdiri dari para medis yang terdiri dari dari dokter spesialis lintas disiplin, perawat, apoteker, nutrisionis, dan sanitarian dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) dan RSA UGM serta beberapa rumah sakit mitra lainnya. “Setiap pekan itu sekitar 11-15 orang anggota tim yang diberangkatkan,” sebutnya.
Anggota Tim Pokja Bencana FK-KMK UGM, Maryami Yuliana Kosim, S.Kep., Ns., M.Kep., Ph.D., menyampaikan bahwa keterlibatan UGM tidak lepas dari komitmen awal FK-KMK UGM yang memiliki kepedulian terkait pengembangan praktik kebencanaan. Ia mengungkap bahwa UGM turut andil sedari awal dalam optimalisasi dan pengembangan Health Emergency Operations Center (HEOC) atau pusat operasi darurat kesehatan yang harus diaktivasi sebagai pusat komando, kontrol, dan koordinasi untuk menanggapi keadaan darurat yang masuk ke dalam kluster kesehatan dibawah komando Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP).
Sama seperti dengan klaster lain di bawah kendali BNBP, sistem HEOC dari klaster kesehatan juga menggunakan Incident Command System, dengan mengordinir beberapa sub klaster, diantaranya sub klaster promosi kesehatan, sub klaster pelayanan kesehatan,sub klaster P2 dan kesling, sub klaster gizi, sub klaster DVI dan sub klaster jiwa.
Ia menyampaikan tim AHS UGM siap dalam mendukung rencana pemerintah dalam mengerahkan 600 tenaga kesehatan guna penanganan dampak bencana di Aceh dan wilayah Sumatera. Saat ini UGM merespon rekrutmen melalui kolegium-kolegium masing-masing profesi dan spesialisasi. Mekanisme ini memungkinkan keterlibatan tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang, baik yang masih dalam pendidikan lanjutan maupun yang telah menyelesaikan residensi.
Ia menuturkan bahwa pengerahan tenaga medis dari tim FK-KMK dalam rangka menguatkan sistem HEOC di wilayah terdampak, serta membuat asesmen terkait dalam pengerahan tenaga medis yang dibutuhkan. Pengerahan ini melibatkan para dosen, staf AHS UGM, hingga mahasiswa. Keberadaan mahasiswa sangat membantu terkait pembuatan infografis, pengumpulan dokumentasi dan pelaporan, selain terjun langsung di area bencana.
Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan dengan sistem pergantian tim setiap sekitar tujuh hingga delapan hari. Selain tenaga kesehatan, ia menilai kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, dan akses jalan menjadi tantangan utama dalam pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Oleh karena itu, fokus pendampingan tidak hanya pada layanan medis, tetapi juga memastikan fasilitas kesehatan dapat kembali berfungsi optimal hingga fase rehabilitasi. “Tujuan utama kami bukan sekadar membantu saat bencana, tetapi memandirikan fasilitas kesehatan setempat agar semakin resilien dan masyarakat tetap dapat mengakses layanan kesehatan setelah tim bantuan pulang,” ujarnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan perguruan tinggi dapat terus diperkuat demi memastikan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana berjalan efektif dan berkelanjutan. Keterlibatan dokter dan tenaga kesehatan dari berbagai perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat kapasitas rumah sakit di daerah terdampak, sekaligus mencegah terjadinya kekosongan layanan medis akibat keterbatasan sumber daya lokal. “Kami siap melanjutkan dan berkoordinasi dengan program pengiriman 600 tenaga cadangan kesehatan. Kami berharap program kami dengan program Kemenkes dapat disinergikan dan berkesinambungan,”katanya.
Ia menyebutkan tim medis AHS UGM berasal dari Rumah Sakit Kemenkes antara lain RSUP dr. Sardjito dan RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, serta Rumah Sakit Non-Kemenkes antara lain RSA UGM dan RS Mata Dr. Yap.
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto. : Tim AHS UGM
