Gagasan pembangunan kota cerdas (smart city) terus berkembang seiring pesatnya dunia digital. Namun, pendekatan ini dinilai belum cukup apabila hanya menitikberatkan pada teknologi semata. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Guru Besar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Wakhid Slamet Ciptono, M.B.A., M.P.M., M.P.U., Ph.D., yang mengembangkan konsep Smart and Wise City. Sebuah pendekatan pembangunan kota yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga berlandaskan kebijaksanaan, nilai budaya, dan kemanusiaan.
Konsep ini dimatangkan oleh Wakhid bersama dua rekannya, yakni Tri Wahyuningsih, mahasiswa bimbingannya di Program Studi Magister Sains Manajemen FEB UGM, serta Prof. Joe Ravets dari The University of Manchester, penulis buku Smart and Wise City.
Prof. Wakhid menjelaskan bahwa kolaborasi riset ini dimulai sejak Juni 2025 dan berangkat dari keprihatinan atas konsep smart city yang selama ini lebih banyak menonjolkan aspek teknologi. “Smart city is necessary, but not sufficient without wise city. Kota cerdas itu penting, tetapi belum cukup jika tidak digabungkan dengan kota yang beradab,” ungkapnya, Senin (29/12).
Ia menilai bahwa konsep wise city berada di tingkat yang lebih tinggi karena tidak hanya bertumpu pada knowledge management, tetapi juga pada meta-knowledge yang menekankan nilai kebijaksanaan dan kemanusiaan.
Menguatkan hal tersebut, Wakhid mengutip nilai dasar Pancasila, sila kedua ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’ yang menunjukkan kota cerdas perlu diseimbangkan dengan adab. Derajat manusia, menurutnya, paling tinggi adalah ketika ia adil dan beradab sehingga relevan dengan konteks Indonesia.
Dalam penelitian ini, Yogyakarta dipilih sebagai lokasi studi kasus sehingga berpotensi menjadi Smart dan Wise City pertama di Indonesia. Wakhid menyebut Kota Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia yang kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD). Sebanyak 29 narasumber dilibatkan, mulai dari wakil gubernur, wali kota, pejabat pemerintah, hingga perwakilan masyarakat dari berbagai asosiasi. Menurutnya ini penting untuk menangkap konsep dari berbagai perspektif.
Menurut Prof. Wakhid, keunikan konsep Smart and Wise City terletak pada penyatuan dua sisi yang tidak terpisahkan, layaknya mata uang. “Smart dan wise itu seperti dua sisi koin, tidak bisa dipisahkan. Smart tanpa wise akan kehilangan adab, sementara wise tanpa smart akan tertinggal,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan ini tidak akan mengubah jati diri Yogyakarta, justru memperkuat keistimewaannya. “Ini tidak akan mengubah Jogja, justru mengembalikan jati diri Jogja yang istimewa seperti unggah-ungguh, sopan santun, dan mendahulukan kewajiban asasi manusia sebelum hak,” ujarnya.
Perjalanan riset ini pun berliku, awalnya, naskah penelitian ditolak oleh jurnal internasional bereputasi karena masih bersifat konseptual dan belum dilengkapi data empiris. Namun, masukan tersebut justru menjadi pemicu untuk memperkuat riset. Menyempurnakan langkah ini ke depan, tim peneliti menargetkan publikasi di jurnal internasional bereputasi Q1 sebagai pijakan awal sebelum konsep ini diimplementasikan secara lebih luas. “Setelah publikasi, kami akan sampaikan ke UGM, lalu ke Pemerintah Daerah DIY,” kata Prof. Wakhid.
Tanpa menargetkan penghargaan, tim peneliti kemudian mengajukan karya tersebut dalam skema internal UGM. Hal ini membawa kabar baik hingga mendapatkan apresiasi dan penghargaan dalam Anugerah Insan Berprestasi UGM 2025 kategori Penelitian Kolaboratif Tema Ketangguhan Sosial Budaya Masyarakat. “Kami tidak pernah punya tujuan mendapat penghargaan. Semata-mata ingin menyampaikan ide, tetapi ternyata ide ini bisa ditangkap dan dipahami oleh para reviewer,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Prof. Wakhid berharap konsep Smart and Wise City dapat menjadi inspirasi pembangunan kota-kota lain di Indonesia. Indonesia membutuhkan kota yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijaksana. “Kalau sudah ada role model-nya, silakan dikembangkan ke kota lain,” pungkasnya.
Penulis : Hanifah dan Ika (Humas FEB)
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. FEB UGM
