Universitas Gadjah Mada mengawali pembangunan hunian sementara atau Huntara bagi warga terdampak banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara pada Sabtu (3/1). Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya fase pemulihan hunian pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut. UGM hadir dengan dukungan Yayasan Bulaksumur Peduli, Kagama Care, Rumah Zakat, dan pemerintah daerah untuk memastikan warga segera memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. Momentum ini sekaligus menandai komitmen jangka panjang UGM dalam mendampingi pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Dalam sambutannya, Rektor UGM Prof. Ova Emilia, menegaskan komitmen UGM untuk terlibat sejak fase tanggap darurat hingga pemulihan awal. UGM mengonsolidasikan sumber daya akademik, medis, sosial, dan teknis melalui kerja lintas fakultas dan unit kerja. Pendekatan ini dirancang agar respons kebencanaan berbasis data dan kebutuhan warga. “UGM membentuk tim penanggulangan bencana hidrometeorologi dengan tujuh kelompok kerja lintas disiplin agar seluruh intervensi berjalan terkoordinasi dan relevan dengan kondisi lapangan,” ujarnya.
Rektor juga menekankan bahwa pembangunan huntara dilakukan dengan pendekatan berbasis masyarakat. Warga ditempatkan sebagai subjek utama pemulihan dengan dukungan keilmuan dan pendampingan teknis dari UGM. Model ini diharapkan memperkuat kapasitas komunitas dalam menghadapi fase transisi pascabencana. “Hunian sementara atau Rumah Geunira ini dirancang agar masyarakat merasa aman dan nyaman, sekaligus memberi ruang bagi warga untuk terlibat aktif dalam proses pemulihan,” tuturnya.
Dari sisi teknis, pembangunan huntara dirancang agar mudah direalisasikan di lapangan dan dapat dikerjakan bersama warga. Ketua Tim TANGGUH Fakultas Teknik UGM, Ashar Saputra, Ph.D menjelaskan bahwa desain rumah disesuaikan dengan kondisi material dan kemampuan masyarakat setempat. Pendekatan ini dipilih untuk mempercepat proses pembangunan tanpa mengorbankan aspek keamanan. “Kami merancang rumah yang bisa dibangun dengan alat dasar sehingga warga dan keluarga dapat terlibat langsung dalam proses pembangunannya,” katanya.

Lebih lanjut, keterlibatan warga menjadi elemen penting dalam strategi pemulihan berbasis pemberdayaan. Melalui pelatihan keterampilan konstruksi, warga dilibatkan secara aktif dalam pembangunan huntara. Hunian sementara berukuran 6 x 6 meter ini dirancang untuk mendukung kehidupan keluarga selama masa transisi. “Rumah ini memiliki dua kamar, ruang multifungsi, dan teras agar dapat menunjang aktivitas keluarga serta interaksi sosial warga,” jelas Ashar.
Kegiatan seremoni juga diwarnai refleksi spiritual dan ajakan untuk bangkit bersama pascabencana. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Utara, H. Fadli, S.Ag., M.Si menekankan pentingnya memaknai musibah sebagai ujian sekaligus jalan menuju pemulihan. Ia mengapresiasi kehadiran UGM yang datang mendampingi warga di masa sulit. “Hari ini kita melihat bahwa di balik kesusahan, Allah menghadirkan kemudahan melalui tangan-tangan orang yang peduli kepada masyarakat,” ungkapnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah yang menyaksikan langsung kondisi warga terdampak banjir. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menilai kehadiran huntara menjadi langkah penting dalam memulihkan kehidupan masyarakat, terutama di wilayah yang terdampak parah. Kolaborasi lintas pihak diharapkan terus berlanjut hingga fase pemulihan jangka panjang. “Atas nama Bupati Aceh Utara, kami menyampaikan terima kasih kepada UGM yang telah menghadirkan harapan baru bagi masyarakat kami,” ujar Zulkifli.
Bagi warga penyintas, kehadiran huntara membawa perubahan besar setelah masa pengungsian yang panjang. Menurut Martunis, salah satu warga, hunian sementara ini memberi rasa aman dan kepastian tempat tinggal bagi keluarga. Warga merasakan langsung dampak nyata dari kolaborasi yang terjalin. “Bagi kami, hunian sementara ini sudah seperti istana karena hadir di saat kami sangat membutuhkan tempat tinggal yang layak,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Suryani yang merasakan manfaat hunian dan bantuan selama masa darurat. Dukungan yang diterima dinilai membantu keluarga kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan bermartabat. Bantuan tersebut menjadi penguat di tengah situasi sulit pascabencana. “Kami berterima kasih karena telah disediakan rumah yang layak dan bantuan selama masa sulit, semoga kebaikan ini dibalas dengan keberkahan,” ucap Suryani penuh rasa haru.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Tim UGM dan Rumah Zakat
