Pemerintah tengah mengembangkan Bank Bullion bullion bank atau semacam lembaga keuangan yang menangani perdagangan, penyimpanan, dan manajemen logam mulia dalam jumlah masif. Terobosan kebijakan ekonomi nasional dalam rangka memperkuat stabilitas makroekonomi.
Ekonom UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D berpendapat keberadaan Bank Bullion sebenarnya lebih berperan dalam memperdalam pasar keuangan daripada mendorong pertumbuhan ekonomi riil secara langsung. Pasalnya, Bank Bullion lebih berperan menciptakan instrumen likuid berbasis emas, meningkatkan efisiensi transaksi, dan memperkuat sistem keuangan. “Dampak ke pertumbuhan ekonomi terjadi secara tidak langsung, terutama melalui stabilitas makroekonomi dan peningkatan kepercayaan investor,” ungkapnya di FEB UGM, Jum’at (9/1).
Dijelaskannya, cadangan emas yang kuat dapat membantu mengurangi risiko nilai tukar. Instrumen emas, disebutnya, berpotensi meningkatkan daya tarik pasar modal. Hanya saja tanpa integrasi yang kuat dengan sektor riil, misalnya melalui pembiayaan industri atau UMKM, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan relatif terbatas. “Akan ada resiko dengan keberadaan Bank Bullion, yang tentunya hanya akan menguntungkan pelaku pasar besar, tidak ke UMKM misalnya,” jelasnya. 
Lantas akankah Bank Bullion meniru kesuksesan hilirisasi nikel? Menurut Wisnu, Bank Bullion tidak dapat disamakan dengan keberhasilan hilirisasi nikel. Meskipun masih diperdebatkan dampaknya, hilirisasi nikel disebutnya didukung oleh rantai nilai industri yang jelas mulai dari biji hingga produk antara seperti baterai kendaraan listrik, sementara emas memiliki karakter yang berbeda dari nikel. “Emas agak berbeda karena karakternya lebih banyak digunakan sebagai store of value dan instrumen keuangan, bukan bahan baku industri massal,” terang Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM ini.
Wisnu menegaskan kembali bila Bank Bullion tidak bisa meniru hilirisasi nikel secara penuh. Bagaimanapun Bank Bullion berfokus bukan manufaktur, melainkan monetisasi cadangan emas dan menciptakan instrumen keuangan berbasis emas.
Menyoroti di tengah tingginya tren harga emas global, Diny Ghuzini, S.E., M.Sc., Ph.D., Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM lainnya berpandangan pemerintah perlu memprioritaskan upaya menjaga kestabilan ekonomi dan cadangan emas. Meskipun perdagangan aktif dapat memberikan keuntungan bagi investor, pemerintah perlu menempatkan stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama.
“Secara historis, meskipun perekonomian negara-negara emerging markets cenderung membaik setelah beralih dari fixed exchange rate regime ke floating exchange rate, cadangan di negara-negara tersebut tidak menunjukkan penurunan. Salah satu alasannya adalah karena motivasi untuk berjaga-jaga terhadap kondisi perekonomian, hal ini juga dapat berlaku untuk cadangan emas,” ucap Diny.
Diny mengakui tren global memperlihatkan adanya peningkatan cadangan emas di negara-negara berkembang. Data International Financial Statistics (IFS) 2025 menunjukkan adanya peningkatan cadangan emas yang positif di negara berkembang dan tidak ada perubahan atau penurunan cadangan emas bagi negara maju. “Motivasi peningkatan cadangan tersebut karena emas merupakan alternatif instrumen yang aman serta memberikan return yang tinggi dibandingkan dengan instrumen lain, misal US Treasury Securities. Ketidakpastian situasi global dan risiko geopolitik juga menuntut negara-negara untuk mencari instrumen alternatif,” urainya
Lebih lanjut, Diny menilai pengembangan Bank Bullion tidak otomatis menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara pemilik cadangan emas besar seperti Amerika Serikat, Jerman., Italia, Cina, dan Australia. Secara absolut, cadangan emas Indonesia masih relatif terbatas, meskipun Indonesia termasuk produsen emas dunia.
Reportase : Kurnia Ekaptiningrum/ Humas FEB UGM
Penulis : Agung Nugroho
Foto : Kumparan & Dok. FEB UGM
