Di tengah meningkatnya risiko kebencanaan, perhatian terhadap isu kesehatan mental dan psikososial menjadi kebutuhan mendesak agar penanganan bencana tidak hanya berfokus pada aspek fisik semata. Namun secara empiris, dukungan psikososial dalam penanganan kebencanaan masih kerap kurang diprioritaskan. Padahal, dukungan ini penting karena setiap komunitas memiliki unsur lokal yang khas serta hidup di wilayah dengan potensi multibencana.
Hal itu mengemuka dalam ujian terbuka promosi doktor Nevi Kurnia Arianti, S.Psi., M.Si., Psikolog.,di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM, Selasa (13/1). Dalam Ujian Terbuka tersebut, promovendus mempertahankan penelitian disertasinya yang berjudul “Profil dan Strategi Dukungan Psikososial Berbasis Komunitas pada Relawan di Daerah Rawan Beragam Tipe Bencana di Yogyakarta”.
Dalam disertasinya, Nevi menggunakan pendekatan psikologi kebencanaan yang memandang manusia sebagai bagian dari sistem yang terus berjalan, mulai dari pra, saat bencana, hingga pascabencana, sebagai satu kesatuan utuh. Ia menempatkan dukungan psikososial ialah dalam konteks kebijakan dan regulasi pemerintah, perilaku serta kultur komunitas, ketersediaan sumber daya, hingga pengurangan risiko. “Dampak bencana dan proses pemulihannya melebur dengan dinamika psikologi, sosial, dan interaksi antaraktor,” ujarnya
Penelitian ini dilakukan sejak 9 Oktober 2023 hingga 18 Agustus 2024 di tiga lokasi dengan karakter ancaman bencana berbeda. Lokasi pertama berada di Purwosari, Kulon Progo, dengan ancaman tanah longsor. Lokasi kedua di Girikerto, Sleman, dengan ancaman erupsi Gunung Api Merapi. Sementara lokasi ketiga di Girikarto, Gunungkidul, yang rawan gempa bumi dan tsunami. Menurutnya, Ketiga lokasi tersebut memiliki perbedaan yang kental akan adat budaya sehingga penguatan psikososial berbasis kearifan lokal ini sangat nyata dan diperlukan.
Nevi mencontohkan konsep Cakra Manggilingan dalam filosofi Jawa yang memaknai kehidupan sebagai sebuah siklus, ada awal, proses, dan akhir, yang kemudian dapat diperbaiki untuk memulai siklus yang lebih baik. Nilai ini tercermin dalam sikap keikhlasan para relawan, yang ketika menghadapi tekanan tidak selalu larut dalam kecemasan, tetapi mampu melihat apa yang masih bisa dilakukan. “Di Girikerto, Sleman, relawan juga sangat aktif memantau informasi resmi dari pemerintah, sekaligus berperan sebagai pendukung data melalui jaringan komunikasi radio (frekom),” tambahnya.
Menurutnya, penelitian ini memperluas sudut pandang bahwa sistem pemulihan pascabencana tidak bersifat netral karena melibatkan relasi kuasa dan pertarungan epistemologi. Ia menekankan pengetahuan lokal tidak sekadar budaya, melainkan pondasi penting dalam siklus sosial masyarakat. “Relawan dipandang sebagai aktor penghasil pengetahuan, bukan sekadar pelengkap sistem,” katanya.
Menurut Nevi, pendekatan kearifan lokal dan sains modern sama-sama memiliki kelebihan dan keterbatasan sehingga integrasi keduanya bukan hanya mungkin, tetapi mendesak untuk mengurangi risiko bencana serta menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
Nevi juga memberikan sejumlah catatan bagi para pemangku kepentingan. Bagi komunitas relawan, ia menekankan pentingnya keberlanjutan melalui regenerasi internal, misalnya dengan membentuk divisi registrasi relawan muda. Untuk instansi pemerintah, ia mendorong penyesuaian peraturan daerah agar lebih mengakomodasi siklus sosial berbasis kearifan lokal, program mentoring, serta penyusunan modul pelatihan literasi keuangan dan pengelolaan emosi bagi relawan. Sementara bagi perguruan tinggi dan lembaga riset, Nevi menyoroti pentingnya riset geospasial dan etnografis yang mampu menjembatani proses relokasi masyarakat ke wilayah yang lebih aman tanpa mengabaikan nilai yang mereka yakini.
Menanggapi konteks kebencanaan di Sumatra, Nevi menjelaskan bahwa strategi dukungan psikososial perlu mengombinasikan pengetahuan lokal, saintifik, dan profesional. Morfologi dan topologi wilayah turut memengaruhi dinamika komunitas sehingga setiap daerah memiliki karakter khusus yang perlu dikaji.
Meski disertasinya berfokus pada kekuatan relawan komunitas lokal, Nevi menegaskan bahwa pada kondisi tertentu seperti di Sumatra, dukungan relawan dari luar tetap diperlukan, terutama ketika masyarakat berada pada fase paling rentan. “Ketika individu berada pada tahap sangat lemah, mereka belum bisa diajak untuk ‘berlari’. Mereka perlu dibantu dari luar terlebih dahulu, kemudian secara bertahap dilibatkan agar kembali berdaya,” jelasnya.
Sebagai contoh, Nevi menuturkan bahwa pendekatan psikososial dapat diwujudkan melalui penguatan kembali praktik budaya dan aktivitas keseharian yang akrab bagi masyarakat terdampak. Di Palu, misalnya, terdapat tradisi seni ketika ada konflik itu tari-tarian yang membuat mereka menjadi akrab.
Sementara di Aceh, kata Nevi, pendekatan serupa dapat dilakukan melalui kegiatan memasak bersama makanan khas yang sarat bumbu dan cita rasa lokal. Menurutnya, dukungan dari relawan luar daerah sebaiknya tidak datang dengan membawa praktik asing semata, melainkan diawali dengan pemetaan tradisi lokal yang pernah ada atau sempat hilang akibat bencana, lalu menghidupkannya kembali sebagai bagian dari proses pemulihan komunitas. “Misal mengucapkan terima kasih dalam bahasa Aceh ataupun apa sehingga relawan yang melayani ini juga bisa berbaur dengan korban,” ucapnya.
Ujian terbuka ini didukung oleh Tim Promotor yang terdiri atas Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., Psikolog, sebagai promotor, serta Prof. Dr. Mohammad Baiquni, M.A., sebagai ko-promotor. Nevi berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 4 tahun 3 bulan 11 hari dengan IPK 3,93.
Penulis/Foto : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
