Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ani Widiastuti, S.P., M.P., Ph.D., menjalankan tugas barunya sebagai profesor di Departemen Biologi Terapan, Universitas Ibaraki, melalui sistem cross-appointment, hasil kerja sama UGM dengan Universitas Ibaraki. Sistem ini memungkinkan peneliti untuk bekerja di lebih dari satu institusi, sekaligus menandai pertama kalinya skema tersebut diterapkan oleh Universitas Ibaraki dengan universitas dari luar Jepang.
Di kampus Ibaraki, Ani berkesempatan mengajar di Fakultas Pertanian dan Sekolah Pascasarjana. Topik yang ia bawa ialah seputar pertanian adaptif terhadap perubahan iklim dan teknik perlindungan tanaman. Masa penugasan sebagai pengajar tamu berlangsung selama satu tahun yang dimulai sejak Januari 2026 ini. “Saya selama satu tahun ke depan akan berada di Jepang untuk mengajar di Fakultas dan Program Pascasarjana Pertanian serta melakukan penelitian,” tuturnya, Rabu (21/1).
Ia menuturkan rencananya yang memperluas wawasan internasional mahasiswa melalui metode perkuliahan dan diskusi dalam bahasa Inggris. Selain itu, Ani juga terlibat dalam penelitian kolaboratif internasional dan implementasi sosial yang bertujuan menyelesaikan permasalahan lokal. Menurutnya, kegiatan perkuliahan yang dilakoninya diharapkan bisa berkontribusi dalam pengembangan pertanian daerah, terkhusus kawasan Prefektur Ibaraki. “Sebagai alumni, saya ingin berkontribusi dalam bidang penelitian dan aspek lainnya. Saya senang dapat bertemu dengan para mahasiswa dan ingin berbagi pengetahuan serta keterampilan yang saya peroleh dari keahlian saya di bidang patologi tanaman dan imunologi,” jelasnya.
Perjalanan Ani menjadi pengajar di Ibaraki bukan kebetulan. Sebelumnya Ani sudah ikut kegiatan pertukaran dosen di bidang pendidikan dan penelitian. Di antaranya, ia berkontribusi dalam pendampingan kunjungan akademik dosen Universitas Ibaraki ke Universitas Gadjah Mada, yang kemudian membuka peluang studi doktoralnya di Jepang. Selama menempuh pendidikan doktoral, Ani aktif memperkuat jejaring kerja sama kedua institusi melalui keterlibatannya dalam penelitian kolaboratif, pendampingan mahasiswa program pertukaran, serta pengembangan riset bersama di bidang pertanian. Kontribusi tersebut berlanjut hingga penandatanganan perjanjian penelitian bersama pada 2025 terkait imunologi tanaman tropis, yang membawanya dalam pelaksanaan program JST Sakura Science.
Bagi Ani, Universitas Ibaraki memiliki ruang tersendiri dalam hidupnya karena pada April 2009 ia mendaftar program doktor di United Graduate School of Agricultural Sciences, Tokyo University of Agriculture and Technology, yang didirikan oleh Universitas Ibaraki. Selepas kelulusannya, Ani meraih Japan International Award for Young Agricultural Researchers 2015 oleh Kementerian Jepang.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Universitas Ibaraki
