Universitas Gadjah Mada meluluskan 1.061 orang lulusan pascasarjana, terdiri atas 825 lulusan magister, 118 lulusan spesialis, 14 lulusan subspesialis, dan 104 lulusan doktor, serta 13 lulusan periode sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 55,33 persen merupakan lulusan perempuan dan 44,67 persen lulusan laki-laki. Rata-rata masa studi magister tercatat 2 tahun 2 bulan dengan IPK rata-rata 3,71. Sementara masa studi rata-rata program Spesialis periode ini adalah 4 tahun dengan IPK rata-rata 3,80. Sedangkan untuk Program doktor, IPK rata-rata 3,84 dengan 20 lulusan meraih nilai sempurna 4,00. Capaian ini mencerminkan konsistensi mutu akademik lulusan pascasarjana UGM.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia dalam pidato sambutannya, menekankan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat riset dan inovasi. Ia menyampaikan bahwa tantangan pembangunan bangsa menuntut penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan integritas akademik. Menurut Ova, perguruan tinggi bertanggung jawab menyiapkan talenta masa depan yang berkarakter dan adaptif. UGM diarahkan untuk terus mengembangkan ilmu yang berdampak bagi masyarakat luas. “Sebagai institusi pendidikan tinggi, UGM memiliki mandat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berdampak bagi masyarakat serta menyiapkan talenta unggul masa depan,” ujar Rektor, Rabu (21/1), di Grha Sabha Pramana. Kegiatan

Rektor juga menyampaikan kontribusi UGM pada bidang penelitian, kemanusiaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Berbagai riset terapan yang memperoleh pengakuan nasional disebut sebagai bukti komitmen universitas dalam menghasilkan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan. Di bidang kemanusiaan, UGM terlibat aktif dalam penanganan bencana Sumatra melalui pembangunan hunian sementara (huntara), layanan kesehatan, serta pemenuhan air bersih dan energi listrik. Program KKN yang melibatkan mahasiswa dan alumni internasional juga turut memperluas jejaring pengabdian. “Ilmu pengetahuan yang berdampak harus mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan membangun kemandirian bangsa,” tegasnya.
Perwakilan KAGAMA Timor Leste, Manuel Vong, menyampaikan apresiasi atas konsistensi UGM dalam membangun pendidikan berbasis karakter dan kepemimpinan. Ia menilai UGM berperan sebagai ruang pembentukan nilai, kebijakan, dan kewirausahaan berbasis ilmu pengetahuan. Bagi alumni yang kini menjabat sebagai Director of Doctoral – DBA Programme Dili Institute of Technology, Timor Leste ini, relasi akademik dengan UGM memiliki makna strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Kolaborasi lintas negara dipandang sebagai fondasi penting dalam menjawab tantangan kawasan. “UGM kembali menegaskan perannya sebagai pusat keunggulan akademik sekaligus laboratorium pendidikan karakter dan kepemimpinan,” ujarnya.

Manuel juga menekankan pentingnya peran alumni sebagai aktor kebijakan dan penggerak perubahan. Ia mendorong alumni UGM untuk menerjemahkan ilmu menjadi inovasi, model bisnis, serta kebijakan publik yang berdampak. Dalam konteks Timor Leste, kolaborasi pendidikan diposisikan sebagai sarana memperkuat pembangunan berkelanjutan. Manuel menegaskan KAGAMA Timor Leste berkomitmen memperluas sinergi dengan UGM dan berbagai pemangku kepentingan. “Kami percaya diplomasi pendidikan dan kolaborasi akademik dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan bersama Indonesia, Timor Leste, ASEAN dan global,” katanya.
Sementara itu, perwakilan wisudawan, Anto Maryadi, M.Tr KKK, menyampaikan bahwa capaian akademik merupakan hasil dari perjalanan panjang yang sarat dengan tantangan. Latar belakang lulusan yang beragam menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tetap relevan bagi berbagai fase kehidupan profesional. Proses pembelajaran dinilai membentuk tanggung jawab, integritas, dan keberanian menjaga nilai. Para lulusan menyadari bahwa gelar akademik membawa amanah sosial. “Gelar akademik bukan sekadar simbol pencapaian, melainkan pemuatan komitmen untuk menjalankan profesi dengan lebih bertanggung jawab,” ungkapnya.

Perwakilan wisudawan asal Magister Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sekolah Vokasi ini juga menegaskan komitmen lulusan untuk menjembatani dunia akademik dan praktik. Ilmu pengetahuan diharapkan hadir dalam bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat, organisasi, dan bangsa. Dukungan pimpinan universitas, dosen, serta keluarga disebut Anto sebagai faktor penting dalam perjalanan studi. “Kami siap membawa nilai keilmuan, etika, dan kepedulian sosial dalam setiap peran yang kami jalani,” tutupnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
