Di hadapan 1.200 akademisi dan Guru Besar dari berbagai perguruan Tinggi yang ikut pertemuan di Istana Negara, Kamis (15/1) lalu, Presiden RI Prabowo Subianto menekankan peran strategis perguruan tinggi negeri dan swasta bisa menjadi motor penggerak Indonesia Maju 2045. Presiden mendorong perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia, sains, dan inovasi sehingga hasil riset bisa di hilirisasi ke industri nasional.
Menanggapi harapan Presiden tersebut, Direktur Pengembangan Usaha UGM, Prof. Ir. Sang Kompiang Wirawan, S.T., M.T., Ph.D., mengatakan masih terdapat sejumlah tantangan dalam mendorong hilirisasi produk inovasi riset di perguruan tinggi. Ia menyebutkan, penguatan kapasitas SDM dan penyelarasan riset dengan kebutuhan industri juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah diselesaikan.“Tidak bisa dipungkiri bahwa proses hilirisasi membutuhkan kesabaran karena tidak bersifat instan. Diperlukan standar analisis kebutuhan industri yang kuat agar setiap inovasi benar-benar relevan dan berdampak,” ujarnya, Jumat (23/1) di kampus UGM.
Sejalan dengan keinginan Presiden tersebut, kata Kompyang, Universitas Gadjah Mada saat ini terus memperkuat kontribusinya dalam membangun ekosistem riset dan inovasi nasional. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui dukungan Program Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Park (PRIME STeP), sebuah inisiatif pemerintah untuk mendorong hilirisasi riset berbasis kampus yang terintegrasi dengan industri dan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa PRIME STeP memegang peran penting dalam memperkuat ekosistem inovasi dan hilirisasi riset di lingkungan kampus. UGM menjadi salah satu dari empat universitas yang dipercaya sebagai pilot project nasional tersebut. Menurut Kompiang, di UGM sendiri, program ini berkontribusi signifikan dalam memperkuat pendanaan inovasi bagi para inventor. “Pendanaan tersebut tidak hanya menyasar dosen, tetapi juga mahasiswa dan alumni, terutama yang bekerja sama dengan industri dan masyarakat,” ujarnya.
Berbeda dengan skema hibah riset lainnya, PRIME STeP memiliki cakupan yang lebih komprehensif. Program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan riset, tetapi juga mencakup pembangunan infrastruktur inovasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta akselerasi hasil riset hingga siap dikomersialisasikan. “PRIME STeP dirancang untuk menjembatani riset agar benar-benar sampai ke tahap pemanfaatan oleh industri dan masyarakat,” jelasnya.
Menurut Kompiang, keterlibatan industri menjadi faktor kunci keberhasilan PRIME STeP. Tidak hanya berperan sebagai pengguna hasil inovasi, tetapi juga sebagai mitra strategis, mentor, bahkan investor. “Kami membangun satu spirit socio entrepreneurship dengan kolaborasi dua arah, yakni mendorong penghiliran riset ke industri sekaligus penghuluan permasalahan industri sebagai sumber riset baru di kampus,” ungkapnya.
Selain itu, membenahi sikap dan mental inventor menjadi syarat mutlak skema penghiliran inovasi diantaranya pembiasaan berinovasi, pembiasaan mendengar masukan, serta pembiasaan komitmen pada hasil. Dalam kurun waktu tiga tahun, sudah ada ratusan inovasi didanai untuk pengembangan produk hingga siap hilir, tiga puluhan inovasi telah masuk tahap adopsi industri melalui kerja sama lisensi kekayaan intelektual maupun kemitraan pengembangan produk. “Ada ratusan startup mendapatkan dukungan pendanaan pada fase inkubasi pra-akselerasi dan program pra-inkubasi,” ungkapnya.
Beberapa startup binaan PRIME STeP bergerak di bidang energi, pengembangan material serat, alat laboratorium, hingga inovasi beras unggul yang kini telah masuk dalam program nasional. Hingga saat ini, valuasi teknologi UGM yang terhilirkan ke industri melalui lisensi kekayaan intelektual menembus angka lebih dari 300 miliar rupiah. Kompiang meyakini, dorongan inovasi perguruan tinggi dapat memacu pertumbuhan ekonomi, menciptakan peluang kerja serta peningkatan pendapatan daerah dimana industri tersebut tumbuh dan berkembang.
Penulis/Foto : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
