Indonesia memiliki potensi energi panas bumi (geothermal) 40% dari potensi dunia, yakni sebanyak 23.965,5 Megawatt (MW). Potensi geothermal ini tersebar merata di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi, sehingga dapat dikatakan energi panas bumi berpeluang mencukupi kebutuhan energi nasional sekaligus menurunkan produksi emisi karbon. Pemanfaatan energi panas bumi tidak hanya untuk sumber pembangkit listrik. Di tangan para peneliti Universitas Gadjah Mada, potensi geothermal melampaui fungsi konvensionalnya. Endapan silika dari fluida panas bumi yang merupakan produk ikutan dapat diolah secara inovatif menjadi penyubur dan penguat tanaman.
Transformasi silika geothermal menjadi nanosilika bernilai tinggi untuk pertanian ini dikembangkan oleh Dosen Fakultas Teknik, Departemen Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada, Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, S.T., M.E., D.Eng., yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari meraih Best Innovation pada ajang bergengsi The Hitachi Global Foundation Asia Innovation Awards 2025.
Melalui rekayasa material dan pengendalian proses yang dikembangkan secara bertahap, silika geothermal berhasil diolah menjadi nanosilika dengan karakteristik unggul, stabil, dan konsisten. “Proses ini juga dirancang agar memiliki potensi replikasi dan peningkatan skala, sehingga membuka peluang menuju tahap hilirisasi dan penerapan industri di masa depan,” ujarnya kepada wartawan, senin (26/1).
Di sektor pertanian, kata Himawan, nanosilika berperan dalam memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan ketegakan tanaman, serta memperbaiki efisiensi transportasi nutrisi. Keunggulan nanosilika terletak pada ketersediaan hayatinya yang tinggi karena ukuran dan bentuknya mudah diserap tanaman. Penggunaannya juga sangat efisien, yakni sekitar 1–2 kilogram per hektar, jauh lebih rendah dibandingkan pupuk makro seperti NPK, sehingga mendukung praktik pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Melalui uji coba lapangan (demplot), penerapan nanosilika menunjukkan peningkatan produktivitas tanaman hingga 30–50 persen pada berbagai komoditas seperti padi, jagung, alpukat, pepaya, dan anggur. Peningkatan ini tidak semata-mata disebabkan oleh nanosilika, tetapi juga oleh sinergi dengan komponen lain seperti bahan humat dan boron yang dirancang dalam satu formulasi berbasis pendekatan total extraction dan perbaikan kesehatan tanah secara menyeluruh. “Tapi sekali lagi, ini tidak hanya kita berbicara hanya nanosilikanya, tetapi juga sinergitas dari aditif yang kita tambahkan untuk memastikan bahwa tanahnya sehat dan tanamannya juga sehat,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa pengembangan nanosilika juga diperluas ke sektor teknologi dan energi. Di bidang elektronik, nanosilika dikombinasikan dengan hidrogel untuk sistem pendingin pusat data dan baterai. Kombinasi ini mampu meningkatkan kapasitas penyerapan air hidrogel hingga tiga sampai lima kali lipat, sehingga meningkatkan efisiensi dan kinerja pendinginan. “Riset lanjutan juga diarahkan pada pengembangan material penyerap uap air dari udara, serta aplikasi lain seperti biosensor dan biomaterial yang mendukung pengembangan teknologi hijau dan sistem cerdas,” ujarnya.
Meski menunjukkan potensi besar, tantangan utama inovasi ini terletak pada hilirisasi, yaitu membawa hasil riset dari skala laboratorium menuju implementasi industri dan pemanfaatan luas. Oleh karena itu, pengembangan spektrum produk turunan dari nanosilika akan terus diperluas agar ekonomi sirkular tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi terwujud dalam rantai nilai yang berkelanjutan, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta industri nasional. “Selain pada hilirisasi, tantangan lain juga bagaimana kita tidak berhenti pada satu spektrum produk, melainkan mengembangkan spektrumnya lebih luas lagi untuk membuka potensi hilirisasi lainnya,” jelasnya.
Himawan berharap melalui inovasi yang dikembangkan diharapkan tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan mendorong adopsi teknologi berbasis keberlanjutan. “Sebagai peneliti, kami selalu berharap bahwa hasil penelitian itu tidak berhenti pada jurnal internasional, tidak berhenti pada publikasi, tidak hanya berhenti pada paten, tetapi benar-benar bermanfaat dan benar-benar memberikan dampak ke masyarakat,” tuturnya.
Ia menuturkan bahwa penelitian ini telah dikembangkan secara konsisten sejak tahun 2013 dan dilakukan melalui kolaborasi multidisipliner dengan dukungan kemitraan internasional bersama NTU Singapore, Swinburne University, Kyushu University, dan University of the Philippines. Kolaborasi tersebut memperkuat pertukaran pengetahuan lintas disiplin, integrasi pendekatan rekayasa proses dan material maju, serta pengayaan perspektif keberlanjutan dalam pengembangan teknologi. “Dengan dukungan jejaring internasional ini, riset berkembang tidak hanya pada skala laboratorium, tetapi juga pada kesiapan konseptual menuju implementasi yang lebih luas dan berkelanjutan,” jelasnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Salwa
