Dibalik cap atau stigma seorang narapidana, terdapat realitas kehidupan yang kompleks, penuh perjuangan, dan sering kali menyakitkan. Stigma negatif sebagai “mantan napi” sering kali membuat mereka kesulitan diterima kembali oleh masyarakat, terlepas dari fakta bahwa mereka telah menjalani hukuman dan pembinaan. Mantan narapidana sering kali mendapatkan label negatif yang membuatnya terisolasi, malu, dan cemas saat harus kembali berinteraksi dengan lingkungan sosial. Dari balik jeruji, tidak sedikit dari mereka telah mendapatkan pelatihan keterampilan berwirausaha diharapkan bisa hidup mandiri secara ekonomi setelah menghirup udara bebas.
Menurut Guru Besar Bidang Inovasi dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D, program kewirausahaan berpotensi menjadi jembatan harapan bagi narapidana yang telah bebas yang masih menyimpan tekad untuk memulai kehidupan baru. Dari balik jeruji besi, ia bersama tim menelusuri sisi lain dunia narapidana terkait bagaimana pelatihan kewirausahaan dapat mempengaruhi niat mereka untuk berwirausaha setelah kembali ke masyarakat. Melibatkan 204 narapidana sebagai responden di salah satu lembaga pemasyarakatan, penelitian dilakukan dengan memperhatikan peran faktor psikologis seperti efikasi diri dan ketangguhan kewirausahaan.
“Penjara selama ini sering dipersepsikan sebagai tempat hukuman. Setelah mereka menyelesaikan masa hukumannya, kebebasan tetap terasa rapuh karena label mantan narapidana sering kali menutup pintu kesempatan seperti lapangan kerja, kepercayaan, dan jauh untuk menggapai mimpi-mimpi,” ucap Nurul di FEB UGM, Senin (26/1).
Nurul mengaku ia melakukan riset dengan berlatarbelakang oleh adanya fenomena recidivism atau pengulangan tindak pidana. Disebutnya, dua dari tiga mantan narapidana akhirnya kembali ke penjara hanya dalam dua hingga tiga tahun setelah bebas. “Ini adalah sebuah lingkaran yang sulit diputus karena sistem sosial kita belum sepenuhnya menyediakan ruang untuk kesempatan kedua. Apakah benar tidak ada jalan keluar dari lingkaran ini?,” ungkapnya.
Nurul menegaskan penjara sesungguhnya dapat menjadi ruang pembinaan dan pembelajaran untuk menemukan kembali makna hidup. Melalui program bernama Bimbingan Kerja (Bimker), para narapidana bisa mendapatkan bekal untuk mandiri dengan belajar berbagai hal seperti menjahit, bertukang, membuat makanan olahan, hingga memproduksi kerajinan tangan.
Dari hasil penelitian yang ia lakukan bersama tim memperlihatkan bahwa program ini tidak semata-mata membuat narapidana ingin langsung berwirausaha, namun berperan besar dalam menumbuhkan efikasi diri dan ketangguhan mental sebagai modal utama bagi siapa pun yang ingin menata kembali hidup dari nol. “Bahkan, salah satu responden menyatakan keyakinannya untuk berubah setelah mengikuti program tersebut. Di sinilah perubahan sejati dimulai karena program rehabilitasi tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki perilaku, tetapi memulihkan harga diri dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna,” jelasnya.
Nurul mengungkapkan jika program ini dijalankan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang manusiawi, dampaknya akan membantu menekan angka kejahatan dan memberikan kesempatan untuk memulai hidup yang baru. Oleh sebab itu, program perlu dirancang tidak hanya mengajarkan cara atau know-how, tetapi juga untuk menumbuhkan alasan dan makna di baliknya atau know-why. “Ketika seseorang memiliki keyakinan mengapa ia perlu berubah, maka perubahan itu akan bertahan lama. Dari keyakinan itulah lahir keterampilan dan harapan baru. Pada akhirnya, penjara bukan sekadar ruang hukuman, tetapi menjadi sekolah kehidupan,” terangnya.
Kewirausahaan di balik jeruji adalah kisah tentang kesempatan kedua. Tentang bagaimana manusia, meski pernah jatuh, masih punya ruang untuk bangkit dan berkontribusi bagi masyarakat. Bahkan menurut Nurul setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. “Satu peluang kecil yang kita berikan hari ini dapat menjadi awal dari seribu langkah menuju kehidupan baru dan lebih bermakna,” pungkasnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum/ Humas FEB UGM
Penulis : Agung Nugroho
