Setelah dua bulan dilanda bencana banjir dan tanah longsor, berdasarkan data dari Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, terdapat sebanyak 91.663 jiwa dari 24.280 kepala keluarga (KK) di Aceh masih bertahan di pengungsian. Kondisi ini menandakan bahwa Aceh belum pulih dari dampak bencana dan banyak masyarakat masih terjebak dalam tenda pengungsian hingga dua bulan lamanya.
Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi. M.Sc., Ph.D., menyampaikan terdapat tiga masalah psikologis yang biasanya hadir pasca bencana. Pertama, adanya masalah traumatik akibat dari mengalami peristiwa banjir/longsor secara langsung. Kedua, kehilangan keluarga, saudara, teman, harta benda, hingga harapan masa depan. Terakhir, penyesuaian terhadap kondisi kehidupan baru yang membuat mereka tinggal di pengungsian bersama banyak orang. “Penyesuaian pasca bencana dilihat dari sejauh mana pengembalian fungsi normal, sejauh itu pula kondisi psikologis mereka dapat dipulihkan,” ujarnya, Jumat (30/1).
Rahmat menyatakan bahwa dalam keadaan masyarakat di tempat pengungsian sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis mereka. Dalam lingkungan pengungsian terdapat jejaring sosial yang kuat, dibutuhkan dukungan antar pengungsi maka akan memberikan dampak positif bagi mereka. Pola aktivitas yang dilakukan pengungsi turut memberikan kontribusi dalam psikologis mereka. “Lingkungan baik yaitu lingkungan yang memberikan kenyamanan dan keamanan secara fisik serta dapat memulihkan fungsi sosial pengungsi,” katanya.
Menurut Rahmat, kunci pemulihan psikologis pengungsi yaitu pada rasa aman mereka. Dengan adanya ancaman bencana susulan memberikan pengaruh besar pada psikologis mereka. Oleh karena itu, kehadiran para relawan memberi ketenangan pada mereka sehingga tidak memiliki rasa ditinggalkan sebagai bagian dari warga negara. “Yang paling penting memastikan masyarakat tidak merasa ditinggalkan, tidak merasa mereka tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah,” ucapnya.
Lebih lanjut, Rahmat mengatakan bahwa UGM turut memberikan kontribusi dalam pemulihan kondisi psikologis para pengungsi dengan memberikan dukungan bersama jejaring Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat. Bantuan yang diberikan berupa dukungan dalam bentuk pelatihan psychological first aid dan monitoring serta dukungan jarak jauh berkelanjutan. “Kita tetap hadir membersamai mereka melalui masa-masa yang sulit ini secara langsung ataupun tidak langsung melalui dukungan terhadap mitra-mitra setempat yang memiliki akses langsung,” katanya.
Ia menambahkan bahwa bencana ini memerlukan proses penanganan jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah perlu hadir untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat bahwa mereka tidak ditinggalkan dan bukan sekadar objek politik saja. Namun, turut memberikan rasa tenang dan pengertian bahwa sebagai warga negara Indonesia, mereka merasakan pemerintah yang mengayomi, memberikan perlindungan dan memberikan jaminan rasa aman di masa depan. “Bantuan yang hadir tidak hanya dalam bentuk ketercukupan secara fisik tetapi juga kehadiran dalam arti didampingi, ditemani menjadi sesuatu yang perlu kita perhatikan,” harapnya.
Penulis : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Kompas.com
