Panen raya melon greenhouse dengan teknologi Fasilitas Smart-Agri Tepat Guna Skala Petani (FASTAN) pada Jumat (30/1) menandai penguatan kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dalam pengembangan pertanian cerdas skala petani. Acara berlangsung di Field Research Center (FRC) UGM Wates dan dilanjutkan dengan panen melon di greenhouse FASTAN Kalurahan Bugel. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan produktivitas pertanian di tengah variabilitas iklim.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., menekankan pentingnya hilirisasi riset agar inovasi kampus berdampak langsung ke masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital dan Internet of Things (IoT) dalam FASTAN menjadi contoh konkret penerapan konsep universitas cerdas. Ia menyebut riset pertanian tidak cukup berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di lahan petani. Melalui FASTAN, UGM mendorong perubahan cara bertani yang lebih presisi dan adaptif. “Program ini menjadi bukti bahwa riset kampus tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium, tetapi bisa langsung diterapkan di lapangan dan dirasakan manfaatnya oleh petani,” ujarnya.
Ketua Tim Peneliti FASTAN, Dr. Eng. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa FASTAN dikembangkan sebagai riset kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, dan komunitas petani. Sistem greenhouse cerdas yang diterapkan mengintegrasikan otomasi nutrisi dan pemantauan lingkungan berbasis data. Hasil uji lapangan menunjukkan kualitas produksi melon yang lebih stabil dibandingkan metode konvensional. Salah satu indikatornya adalah tingkat kemanisan buah yang konsisten pada kisaran 13,5 brix. “FASTAN kami rancang sebagai sistem terintegrasi agar pengetahuan, teknologi, dan praktik budidaya berbasis data dapat ditransfer secara langsung dan mudah diadopsi oleh petani,” kata Yosephus.

Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., menyampaikan harapannya agar FASTAN dapat menjadi model pengembangan pertanian berbasis inovasi di daerah. Ia menilai riset terapan seperti FASTAN penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, Kulon Progo memiliki potensi besar di sektor agro yang perlu diperkuat dengan dukungan teknologi. Program ini diharapkan mampu mendorong lahirnya ekosistem pertanian yang berkelanjutan. “Inovasi dari perguruan tinggi harus benar-benar hadir di tengah masyarakat, menjawab kebutuhan riil, dan memberi manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani,” harap Agung.
Pelaksanaan panen raya di greenhouse FASTAN Bugel menjadi bukti penerapan teknologi pertanian cerdas di tingkat petani. Greenhouse tersebut dikelola oleh kelompok tani binaan yang telah mendapatkan pendampingan teknis dari tim FASTAN. Sistem budidaya memungkinkan pengendalian suhu, kelembaban, dan nutrisi tanaman secara terukur. Dengan pendekatan ini, produksi dapat berlangsung lebih stabil sepanjang tahun. Kegiatan panen juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi petani dan pemangku kepentingan.

Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., menyebut FASTAN sebagai contoh penelitian berdampak yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pendampingan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi berlanjut pada penguatan kapasitas petani. Sekolah Vokasi berperan sebagai mitra yang terus memantau perkembangan dan permasalahan di lapangan. Pendekatan ini dilakukan agar program dapat berjalan mandiri dalam jangka panjang. “Penelitian harus tumbuh bersama masyarakat, menjawab kebutuhan nyata di lapangan, dan terus didampingi hingga masyarakat mampu menjalankannya secara mandiri,” katanya.
Lebih lanjut, Agus menambahkan bahwa pengembangan FASTAN diarahkan menjadi pusat pelatihan pertanian cerdas. Model replikasi dilakukan dengan memilih kelompok masyarakat yang telah memiliki kesiapan awal atau embrio usaha. Dengan cara tersebut, pengembangan tidak dimulai dari nol dan peluang keberhasilannya lebih besar. Selain produksi, FASTAN juga membuka peluang nilai tambah melalui edukasi dan wisata berbasis pertanian. Konsep ini diharapkan memperluas manfaat ekonomi bagi petani dan komunitas sekitar.

Dari sisi kebijakan daerah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kulon Progo, Muh. Aris Nugroho, S.T., M.T., menyatakan FASTAN masuk dalam program prioritas pengembangan pertanian cerdas. Pemerintah daerah menargetkan pengembangan hingga 70 unit greenhouse serupa di berbagai wilayah Kulon Progo. Pengembangan tersebut akan difokuskan pada kawasan strategis dan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Selain melon, beberapa komoditas lain juga diproyeksikan untuk dikembangkan. “FASTAN menjadi bagian dari upaya kami membangun pertanian modern yang berdaya saing, adaptif terhadap teknologi, dan mampu meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.
Aris menjelaskan bahwa pendanaan FASTAN dilakukan melalui skema kolaboratif antara APBD, dukungan perguruan tinggi, serta potensi pembiayaan dari CSR dan dana lainnya. Sinergi ini dinilai penting agar program dapat berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak petani. Pemerintah daerah juga mendorong FASTAN berfungsi sebagai pusat pelatihan dan replikasi. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, FASTAN diharapkan menjadi motor penggerak transformasi pertanian di Kulon Progo. Program ini sekaligus menegaskan komitmen Pemkab dalam memperkuat pertanian berbasis inovasi.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
