Universitas Gadjah Mada dan Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh, sepakat untuk membangun kolaborasi program KKN Peduli bencana dalam rangka mendukung percepatan pemulihan penyintas bencana di Provinsi Aceh. Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni Dr. Arie Sujito dengan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. Mustanir dan Kepala Satgas Respon Senyar USK Prof Syamsidik yang berlangsung di Gedung Rektorat USK, Aceh, Senin (2/2).
Arie Sujito menyampaikan bahwa UGM saat ini tengah mengirim 30 mahasiswa KKN PPM Peduli Bencana di lokasi Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Utara. Sebelumnya tim kelompok kerja dan relawan UGM melaksanakan kegiatan pertolongan dan pelayanan medis, pemasangan alat penjernih air dan alat deteksi banjir serta membangun ratusan hunian sementara, “Kita tengah mengirim mahasiswa 30 KKN PPM UGM yang ditempatkan di pidie jaya dan Aceh Utara dan 11 mahasiswa fisipol untuk relawan pendidikan,” ujarnya.
Arie mengatakan pihaknya siap membangun KKN kolaborasi dan kerja sama antar relawan dengan USK. Menurut Arie, banyak teknologi tepat guna yang bisa diterapkan di kawasan masyarakat terdampak bencana nanun merumuskan dalam mendorong percepatan pemulihan. “Kita punya teknologi panen air hujan yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Bagi Arie, pemulihan masyarakat dan membangun kembali infrastruktur di Aceh tidak bisa mengandalkan pemerintah karena sumber daya pemerintah tidak bisa membangun secara cepat sehingga diperlukan kolaborasi antar pihak dengan kampus. Bahkan menurut Arie, UGM selalu menggandeng Kagama untuk mendukung kelancaran pelaksanaan program di lapangan.”Kita selalu menggandeng Kagama dalam penerjunan mahasiswa kkn untuk bisa membantu dan memfasilitasi,” ujarnya.
Wakil Rektor USK Mustanir mengatakan pihaknya siap diajak untuk berkolaborasi dalam penerjunan mahasiswa KKN Peduli Bencana. Ia menyampaikan, pihaknya sudah mengirim sekitar 1.050 mahasiswa untuk membantu masyarakat terdampak bencana. “Pasca bencana, awalnya kita mengirim tim untuk membantu pelayanan tenaga media di rumah sakit. Lalu juga ada UKM Mapala yang membangun jembatan darurat,” katanya.
Dikatakan Mustanir, setelah memasuki bulan ketiga pasca kejadian bencana, belum nampak perbaikan secara signifikan karena keterbatasan sumber daya dari pemerintah pusat dan daerah. “Kita melihat belum signifikan perbaikan, termasuk lambat. Dalam periode janjang panjang, ada perlu bantuan dari sisi ekonomi hingga sosialnya,” paparnya.
Ia mengajak tim peneliti UGM dan USK untuk mengolah data di lapangan agar nantinya program yang dikerjakan bersama lebih tepat saran. “Dari data lapangan kita lebih tahu lebih fokus ke apa, yang belum yang mana, sehingga bisa saling support dan koordinasi,” harapnya.
Dalam pertemuan kali ini, Arie Sujito didampingi oleh Kepala Biro Manajemen Strategis (BMS) UGM Wirastuti Widyatmanti, Ph.D., dan Sekretaris Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM Dr. Djarot Heru Santosa, M.Hum., serta anggota pengurus Kagama Aceh Sylvia Agustina.
Penulis : Gusti Grehenson
