Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada kembali meluluskan wisudawan dengan masa studi tercepat. Capaian datang dari lulusan Program Studi Doktor Ilmu Farmasi, Made Krisna Adi Jaya yang berhasil lulus dalam waktu 2 tahun 4 bulan 8 hari. Padahal masa studi rata-rata jenjang Doktor adalah 4 tahun 6 bulan. Tidak hanya dinobatkan sebagai lulusan tercepat pada wisuda Wisuda Program Pascasarjana Periode II Rabu (21/1) lalu, Krisna juga berhasil meraih IPK 4.00.
Krisna yang menekuni profesi sebagai dosen Farmasi di FMIPA Universitas Udayana, Bali, mengaku bersyukur bisa meraih predikat sebagai lulusan tercepat dan meaih IPK dengan predikat pujian. Bagi Krisna, gelar akademik S3 bukan sekadar kebutuhan akademik atau tanggung jawab profesional, keputusan melanjutkan pendidikan doktoral diambilnya karena dorongan personal untuk berkontribusi lebih besar bagi pengembangan ilmu farmasi. “Program doktoral memberi ruang bagi saya untuk menjembatani praktik kefarmasian dengan pengembangan evidence-based practice yang lebih sistematis,” ungkapnya, Selasa (3/2).
Alasan tersebut yang mendorong Krisna melakukan riset disertasi yang mengangkat proses skrining hipoglikemia yang terkait dengan terapi obat, Krisna menggagas solusi yang praktis, berbasis bukti, dan dapat langsung diimplementasikan kepada pasien. Sebab, ketidakakuratan pada proses skrining pasien rawat jalan, Krisna melihat perlu adanya pengembangan dan implementasi instrumen skrining risiko hipoglikemia berat untuk membantu para apoteker. Hipoglikemia sendiri diketahui sebagai kondisi ketika kadar gula dalam darah berada di bawah batas normal, yang sering terjadi pada penderita diabetes sebagai efek samping terapi obat.
Selain membantu apoteker mengidentifikasi pasien diabetes dengan risiko hipoglikemia yang lebih berat, temuan ini juga bertujuan untuk mencegah kejadian tersebut melalui suatu sistem penilaian yang terstruktur dan aplikatif. “Tujuan utama saya adalah menghadirkan solusi yang praktis, berbasis bukti, dan dapat langsung diimplementasikan untuk meningkatkan keselamatan pasien,” jelasnya.
Sebagai akademisi yang juga mengemban berbagai tanggung jawab, tentu bukan hal mudah bagi Krisna untuk menyeimbangkan peran untuk memenuhi tuntutan akademik maupun kepentingan pekerjaan. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar selama menempuh studi doktoral adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik, pekerjaan profesional, dan tanggung jawab pribadi. “Kompleksitas riset, seperti pengembangan instrumen, validasi metodologis, hingga penerapan di lapangan menuntut konsistensi, ketelitian, dan manajemen waktu yang tinggi,” ujarnya.
Dengan dukungan finansial dari Beasiswa Pendidikan Indonesia, Kemdikbudsaintek, dan kampus Universitas Udayana, ia berupaya membangun disiplin riset, komunikasi intensif dengan promotor dan ko-promotor, serta terus mengembangkan kemampuan metodologi penelitian dan analisis data secara mandiri. Capaian ini tidak akan ia raih tanpa nilai integritas akademik, konsistensi, dan kebermanfaatan ilmu yang selama ini ia junjung. “Saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara jujur, bertanggung jawab, dan diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.”
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Krisna Adi Jaya
