Ada anggapan bahwa belajar sains itu sulit, hanya bisa dikerjakan siswa pintar. Padahal belajar ilmu sains tidak harus berasal dari teori di buku pelajaran, tetapi bisa belajar praktik eksperimen langsung. Tim mahasiswa KKN-PPM UGM unit Gumilang Gunem menyelenggarakan Festival Air di Desa Demaan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Minggu (1/2). Kegiatan yang diikuti siswa-siswi SD Negeri Demaan ini bertujuan menghadirkan sains secara kontekstual, mengenalkan simulasi peristiwa gunung meletus dan simulasi teknologi roket.
Festival ini menunjukkan keindahan sains yang dibalut dengan permainan dalam ragam kegiatan. Koordinator Desa Demaan Tim KKN Gumilang Gunem, Ananda Shabrina Putri Gunawan, mengatakan festival ini dirancang untuk mematahkan anggapan bahwa sains adalah pelajaran yang kaku. “Kami ingin siswa merasakan prosesnya dengan mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Dari situ, rasa ingin tahu tumbuh,” ujarnya dalam keterangan yang dikirim Rabu (4/2).
Ia menceritakan di salah satu sudut kelas, simulasi gunung meletus berlangsung riuh. Tim mempraktekkannya dengan botol plastik yang diletakkan di tengah baskom bersama cairan berwarna dituangkan perlahan. Ketika reaksi kimia terjadi dan buih menyembur keluar, sorak kecil terdengar, disusul tawa, serta pertanyaan spontan peserta. “Mereka antusias bertanya mengapa bisa meluap, mengapa cepat berhenti, dan apa yang terjadi jika takaran diubah?” jelasnya.
Lebih lanjut, Ananda mendorong tim untuk membiarkan siswa bereksperimen. Menurutnya, kesalahan tidak perlu langsung dikoreksi, melainkan dijadikan pintu masuk diskusi. Sistem belajar ini yang memperkenankan peserta memahami konsep reaksi kimia sederhana sebagai proses yang dapat diamati.
Di ruang berbeda, suasana tegang dirasakan oleh peserta Cerdas Cermat Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Siswa saling berbisik, menghitung cepat, lalu berebut mengangkat tangan. Soal-soal dirancang untuk menguji logika dasar dan pemahaman konsep. “Beberapa peserta tampak ragu sebelum menjawab, tetapi sorakan teman sebangku membuat mereka mantap melangkah,” lengkapnya.
Ananda menuturkan puncak keramaian terjadi di lapangan sekolah oleh rangkaian roket air. Alat ini dirakit dari botol plastik bekas, pipa PVC, dan pompa bersama dengan peserta. Siswa-siswi antusias selama proses perakitan, pemompaan air, hingga peluncuran. Tim sekaligus menjelaskan prinsip aksi-reaksi dari alat terkait.
Bagi sebagian siswa, jelas Ananda, ini menjadi pengalaman pertama melihat konsep fisika bekerja secara nyata. Hal ini membuat peserta memahami dengan mudah kinerja roket. Diskusi berlangsung meriah ketika roket yang meluncur lurus atau justru berbelok menjadi bahan evaluasi terkait dengan sudut sirip, keseimbangan, dan tekanan alat.
Pihak sekolah menilai pendekatan praktik seperti ini memberi warna baru dalam pembelajaran. Kepala SD Negeri Demaan menyebut metode eksperimen dan kompetisi membuat siswa lebih berani bertanya dan menyampaikan pendapat.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN Tim Gumilang Gunem, Dr. Sailal Arimi, M.Hum., ketika berkunjung melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan pengabdian ini merasa senang karena ilmu yang dipelajari di kampus dipraktekkan dengan inovasi kepada siswa-siswa di Demaan.
Sailal juga turut mengapresiasi program kerja tim yang dilaksanakan memuat potensi Desa Demaan. Selain program Festival air sebagai unggulan, tim menyelesaikan program seperti pemetaan dan digitalisasi potensi desa, sosialisasi serta pelatihan, pembuatan insinerator pembakar sampah minim polusi, dan sebagainya. “Saya berharap mahasiswa belajar menerapkan pengetahuannya, berinteraksi langsung dengan masyarakat supaya mereka mendapat manfaat dari kerja-kerja pengabdian ini,” pesannya.
Reportase : Ananda Shabrina dan Faris Firdaus/Tim KKN UGM
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim KKN UGM
