Perasaan bangga dan syukur diungkapkan oleh dr. Merlins Renatasia Waromi, Sp.MK, 35 tahun, usai dinobatkan sebagai lulusan tercepat UGM untuk jenjang pendidikan dokter spesialis. Wanita asal Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua ini berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 3 tahun 2 bulan 16 hari pada Wisuda Program Pascasarjana Periode II 2025/2026, Rabu (21/1) silam. Padahal masa studi rata-rata 118 lulusan spesialis adalah 4 tahun.
Merlins mengaku bersyukur dinobatkan sebagai wisudawan lulusan tercepat untuk jenjang dokter spesialis. Padahal ia sempat mengambil cuti melahirkan yang diambilnya selama 3 bulan. “Sangat bersyukur sekali bisa menempuh pendidikan dengan waktu yang cukup singkat. Padahal itu sebelumnya saya waktu awal masuk itu sempat Ada tidak mengikuti perkuliahan selama 3 bulan karena harus cuti melahirkan. Jadi, kemarin memang saya hitung-hitung kalau misalnya nggak melahirkan mungkin jadinya 2 tahun sekian aja,” jelasnya sumringah, Rabu (4/2).
Sebagai lulusan dokter spesialis mikrobiologi ini, Merlins mengatakan dirinya menyelesaikan studi sarjana dan pendidikan profesi dokter di Universitas Cendrawasih, Jayapura. Keputusannya memilih melanjutkan perkuliahan pendidikan dokter spesialis ke UGM karena menurutnya banyak orang Papua yang nyaman bahkan menganggap Yogyakarta menjadi rumah kedua mereka. Asumsi itu dibuktikannya setelah sampai di Yogyakarta, menurut Merlins, warga Jogja sangatlah ramah dan menyambut warga pendatang. “Yogyakarta itu bagi kami orang Papua itu seperti rumah kedua kami,”katanya.
Kesempatan dirinya melanjutkan pendidikan kedokteran spesialis menurut Merlins tidak lepas dari hasil kerja sama yang dilakukan oleh UGM dengan mitra perguruan tinggi dan pemerintah daerah di Papua. Kerjasama antara Pemerintah Provinsi Papua Barat dengan UGM bagi Merlins telah membantunya untuk melanjutkan pendidikan di UGM melalui beasiswa pendidikan dokter spesialis bagi Orang Asli Papua (OAP) yang menggunakan dana otonomi khusus (Otsus). Beasiswa tersebut diutarakannya, membuka kesempatan lebar bagi para putra putri daerah untuk melanjutkan beberapa bidang spesialisasi. “UGM ini salah satu universitas negeri yang menjalin banyak kerjasama atau MOU dengan daerah-daerah di provinsi Indonesia Timur, seperti itu, sehingga itu menjadi peluang bagi kami untuk melanjutkan pendidikan di UGM. Kami disekolahkan dari pemerintah daerah berdasarkan MoU dengan UGM tersebut,” ceritanya.
Soal pilihannya menempuh dokter spesialis mikrobiologi karena kegemarannya melihat media-media pertumbuhan bakteri dan jamur. Menurutnya, dengan warnanya yang bermacam-macam dan cantik-cantik jika dilihat secara kasat mata itu lah yang menjadi pemicu awal dari rasa penasarannya terhadap bidang ini. Selain itu, ia pun berpikir bahwa dalam dunia kedokteran, biasanya penyakit infeksi lah yang paling banyak ditemukan. Bidang mikrobiologi sangat membantu untuk mendiagnosis penyakit yang diderita oleh pasien. “Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban penyakit infeksi tertinggi di dunia, itulah alasan saya mengambil spesialis ini,” ujarnya.
Selama tiga tahun berkuliah di UGM, Merlins menceritakan bahwa ada beberapa tantangan yang dihadapinya terutama standar kualitas pendidikan yang berbeda dari kampusnya terdahulu. Ia merasa bahwa standar perkuliahan yang ada di Indonesia bagian Timur masih memiliki ketimpangan yang jauh dengan apa yang ada di kampus UGM. Oleh karena itu, ia harus banyak beradaptasi, entah dari segi kemajuan perkembangan teknologi, keilmuan ilmiah, dan sebagainya.
Untuk mengatasi keterbatasan dirinya dalam mencerna materi perkuliahan, Merlins harus mampu membuang jauh-jauh perasaan minder dan rasa tidak percaya. Jika dirasa tidak mengerti akan materi pembelajaran di kelas, Merlins tidak segan-segan mencari sendiri referensi menggunakan fasilitas perpustakaan atau bertanya dengan rekan mahasiswa lainnya bahkan perawat, tenaga medis hingga dosen. “Di sini untuk mengakali semuanya itu, saya itu orangnya mudah bergaul dan tidak malu untuk bertanya. Jadi dengan proses seperti itu saya bisa mendapatkan solusi-solusi dari kesulitan yang saya hadapi,” kenangnya.
Terkait penelitiannya, Merlins mengambil penelitian tentang profil dan pola kepekaan dari bakteri penyebab infeksi yang disebabkan oleh penggunaan kateter di rumah sakit. Sebagai latar belakang dari risetnya ini, Merlin mengangkat kasus tentang Catheter-associated urinary tract infection (CAUTI), atau infeksi saluran kemih yang terjadi akibat penggunaan kateter urin menetap, terutama yang terpasang lebih dari 2 hari. “Dari penelitian yang saya lakukan ternyata angka kejadian CAUTI di rumah sakit Sarjito itu cukup tinggi dan faktor-faktor resiko penyebabnya itu adalah penurunan tingkat kesadaran dan juga riwayat pembedahan yang terjadi pada pasien-pasien tersebut,” terangnya.
Soal tips keberhasilannya bisa menyelesaikan studi spesialis dalam waktu lebih cepat, Merlins sendiri mengaku bahwa ia selalu menyiapkan list target dan timeline atas tugas-tugasnya. “Jika jenuh, saya akan mengambil jeda sejenak sebelum kembali fokus dengan tugasnya, dan jika tugasnya tidak berjalan sesuai timeline, maka saya akan mengejar ketertinggalan tersebut,” ungkapnya.
Terakhir, Merlins berpesan pada mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan spesialis dan subspesialis agar selalu membuang jauh-jauh rasa minder dan selalu disiplin dan percaya diri. Bagi Merlins, tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanya murid yang belum bertemu dengan guru yang tepat dan metode pembelajaran yang benar. “Jangan pernah minder, namun kita harus lebih tekun lagi, agar bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada di tempat pendidikan kita,” pesannya.
Penulis : Leony
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Merlins
