Dosen Jurusan Manajemen, Prof. Dr. Reni Rosari, M.B.A resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Perilaku Organisasional pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Dalam upacara pengukuhan yang berlangsung di Balai Senat UGM, Kamis (19/2), ia menyampaikan pidato pengukuhan berjudul Rumongso Melu Handarbeni: Rasa Memiliki sebagai Fondasi Organisasi Berbasis Kebahagiaan dan Kolaborasi.
Dalam pidatonya, ia menegaskan organisasi sejati tidak hanya dibangun oleh struktur dan strategi, tetapi oleh jiwa manusia yang menghidupinya. Di balik setiap kebijakan yang baik ada hati yang peduli, dan di balik setiap kinerja yang unggul ada rasa memiliki yang tulus. Konsep rumongso melu handarbeni yang lahir dari kearifan budaya Jawa, disebutnya, bukan sekadar nilai lokal, melainkan cermin universal tentang kemanusiaan. “Rasa memiliki bukan sekadar kepemilikan material, tetapi kepedulian moral. Ia bukan tentang menguasai, melainkan tentang menjaga. Bukan tentang hak, melainkan tentang tanggung jawab, dan bukan tentang aku, melainkan tentang kita,” ujarnya.
Dalam konteks manajemen dan kepemimpinan modern, nilai rumongso melu handarbeni menjadi jembatan antara akal dan nurani, antara sistem dan makna, antara kinerja dan kebahagiaan. Ketika organisasi dibangun di atas rasa memiliki, maka muncul hubungan yang tidak lagi bersifat transaksional, tetapi transformasional. Manusia tidak lagi bekerja karena diperintah, melainkan karena percaya; tidak lagi berkontribusi karena harus, melainkan karena ingin.
Organisasi yang demikian, kata Reni, sebagai organisasi yang berjiwa. Organisasi yang menumbuhkan, bukan menguras, memerdekakan, tidak menekan, dan pada akhirnya menjadi organisasi yang menyalakan semangat, bukan memadamkan makna. “Melalui semangat rumongso melu handarbeni, kita diajak untuk menumbuhkan cara pandang baru dalam mengelola manusia, bahwa kebahagiaan dan kinerja tidak bertentangan, melainkan saling menguatkan. Bahwa produktivitas sejati lahir dari manusia yang merasa berarti, dan keberlanjutan organisasi bergantung pada seberapa dalam manusia di dalamnya merasa terhubung satu sama lain. Bahwa keberlanjutan organisasi modern tidak hanya ditentukan oleh sistem dan struktur, tetapi oleh kedalaman rasa memiliki manusia di dalamnya,” ucapnya.
Reni memandang organisasi saat ini bergerak dalam kecepatan dan kompleksitas yang semakin tinggi, dengan tekanan pengukuran kinerja yang intens. Namun di balik capaian dan efisiensi, banyak individu mengalami burnout, disengagement, hingga quiet quitting. Fenomena tersebut menunjukkan adanya krisis makna dan keterhubungan dalam dunia kerja. “Organisasi menjadi sibuk secara administratif, tetapi kehilangan dimensi kemanusiaannya,” terangnya.
Menutup pidatonya, Reni kembali mengingatkan organisasi yang sejati adalah organisasi yang mampu menyalakan makna, dan ia akan lebih bertahan dalam jangka panjang. Mengutip ungkapan Jawa Urip iku urup, ia menegaskan kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang mampu menyalakan kehidupan orang lain. “Pun dengan organisasi sejati, ia hidup ketika mampu menyalakan semangat dan makna bagi manusia di dalamnya,” tandasnya.
Penulis : Agung Nugroho
Foto : Donnie
