Keterbatasan ekonomi bukanlah halangan bagi siapa pun yang ingin mengubah keadaan dan mengejar masa depan yang lebih gemilang. Mungkin itulah yang dialami oleh Ahmad Rif’an Khoirul Lisan, 32 tahun. Pria asal Pleret Bantul, Yogyakarta ini selalu percaya setiap perjuangan selalu menemukan jalannya.
Rif’an mengenang saat diterima kuliah di fakultas Geografi UGM tahun 2012 silam. Orang pertama yang menentang keputusannya untuk kuliah justru berasal dari ayahnya sendiri. Alasannya sederhana sekaligus berat, keluarga mereka tidak memiliki cukup biaya, sementara enam adiknya masih kecil membutuhkan perhatian dan penghidupan.
Sementara Ayahnya hanya bekerja sebagai guru mengaji panggilan dan ibunya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, merasa tidak mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan keduanya selalu meminta anak-anaknya untuk segera bekerja selepas menamatkan sekolah di jenjang menengah atas.
Permintaan sang Ayah justru tidak mengendorkan semangat anak sulungnya untuk mengejar mimpi. Bagi Rif’an, melanjutkan pendidikan bukan sekadar mimpi pribadi. Ia ingin mengubah kondisi keluarganya dan membantu adik-adiknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Apalagi sejak dari bangku sekolah hingga kuliah ia sudah terbiasa mencari kerja sampingan. Ia mafhum dengan keterbatasan keluarganya, sehingga ia tidak terlalu berharap banyak. Beruntung, Rif’an adalah siswa berprestasi yang banyak menyabet berbagai kejuaraan di tingkat Nasional. Penolakan dari keluarganya juga tidak berhenti sampai di situ. Dalam beberapa waktu, Rif’an bahkan merasa seolah kehilangan dukungan dari keluarganya sendiri karena keputusannya untuk tetap menempuh pendidikan di bangku kuliah.
Bertahan Hidup sebagai Mahasiswa
Hari-hari awal kuliah di Fakultas Geografi UGM pada tahun 2012, bukanlah masa yang mudah bagi Rif’an. Tanpa dukungan finansial yang cukup dari keluarga, ia harus mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup sebagai mahasiswa. Beruntunglah ia mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang dapat membantunya menyokong kehidupan sehari-harinya hingga lulus kuliah.
Ia aktif di berbagai organisasi kampus. Bagi sebagian mahasiswa, organisasi menjadi ruang belajar dan berjejaring. Namun Rif’an punya alasan lain yang lebih sederhana, setidaknya ia bisa ikut makan saat ada kegiatan kepanitiaan di organisasi. “Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi,” kenangnya sambil tersenyum.
Dalam kondisi tertentu, ia harus sangat berhemat untuk sekadar makan. Jika benar-benar lapar, ia mencari warung paling murah di sekitar kampus. Dengan sekitar uang saku Rp4.000, ia biasanya hanya membeli nasi, sayur, dan satu gorengan. “Yang penting makan,” katanya.
Pada masa itu Rif’an bahkan tidak memiliki komputer untuk mengerjakan tugas kuliah. Ia tidak hilang akal, memilih bekerja di sebuah warnet agar bisa mendapatkan gaji sekaligus menggunakan komputer di warnet. Suatu hari ia memberanikan diri menemui Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan di Fakultas Geografi dan menceritakan alasannya memilih bekerja paruh waktu di warnet, di tengah segala stigma tentang mahasiswa yang bekerja di Warnet pasti akan lulus lama. Setelah mendengar ceritanya, sang dosen memberikan komputer bekas miliknya secara pribadi agar Rif’an dapat mengerjakan tugas dengan lebih mudah.
Meski berada di lingkungan kampus yang ramai, Rif’an sering merasa menjalani semuanya sendirian. Barangkali bagi sebagian besar teman-temannya Rif’an mungkin dianggap sebagai orang yang aneh karena jarang berkumpul hanya sekedar makan bersama dengan teman-temannya, hal tersebut dilakukan Ri’fan, tidak lain karena alasan keterbatasan ekonomi.
Titik Balik
Perubahan besar dalam hidup Rif’an datang pada 2014 ketika ia diterima di program asrama pembinaan kepemimpinan yang kini dikenal sebagai Rumah Kepemimpinan. Program tersebut menyediakan tempat tinggal sekaligus uang saku bulanan sekitar Rp500 ribu. Bantuan itu menjadi titik balik penting dalam kehidupannya. Untuk pertama kalinya ia bisa menabung dan mulai memikirkan masa depan. Dari tabungan itu pula, ia merasakan pengalaman pertama bepergian ke luar negeri saat mengikuti perjalanan singkat ke Kuala Lumpur bersama teman-teman asrama.
Meski demikian, hubungan dengan keluarganya masih terasa berjarak. Dalam satu kesempatan, ia mencoba mengajak keluarganya makan di luar menggunakan uang hadiah dari lomba yang ia menangkan. Namun ayahnya memilih tidak datang. “Sepanjang hidup saya sebelumnya, kami belum pernah makan di luar bersama, dan ini untuk pertama kalinya saya mengajak keluarga saya makan di luar. Saya ajak makan di sate kambing Pak Pong,” kenangnya.
Di semester akhir, Rif’an mendaftar menjadi mentor bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri. Program tersebut menyediakan tempat tinggal dan pelatihan, tetapi biaya hidup harus ditanggung sendiri. Selama hampir sepuluh bulan, ia mengikuti program tersebut seraya menyelesaikan skripsi. Ia tetap selalu hidup hemat. Ia biasanya makan sekali sehari di sebuah warung sederhana yang menyediakan nasi dan mie degan makan sepuasnya dengan harga sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000.
Di tempat itu pula kemampuan bahasa Inggrisnya meningkat pesat. Skor TOEFL yang sebelumnya berada di kisaran 456 akhirnya naik hingga sekitar 570. Namun untuk mengikuti tes TOEFL tersebut, Rif’an harus menghadapi kesulitan lain. Uang Rp1 juta yang ia bawa untuk membayar tes TOEFL justru dicopet saat turun dari bus di Kediri.
Dalam kondisi hampir tidak memiliki uang, teman-temannya di Pare kemudian patungan untuk membantunya bisa mendaftar hingga terkumpul sekitar Rp800 ribu. Dari jumlah itu, Rif’an akhirnya bisa membayar biaya tes TOEFL. “Teman-teman membantu dengan mengumpulkan uang. Dari situlah saya bisa ikut tes,” kenangnya.
Singkat cerita, hasil tes tersebut menjadi jalan baginya untuk lolos mendaftar beasiswa LPDP.
Bekal Kering Tempe dari Sang Ibu
Pada Desember 2018, Rif’an berangkat ke Amerika Serikat untuk menempuh studi magister di Arizona State University. Saat keberangkatan itu, ibunya menyiapkan sesuatu yang sederhana namun sangat berarti, bekal kering tempe. Sepanjang hidupnya sebelumnya, Rif’an hampir tidak pernah mendapatkan bekal seperti itu dari rumah dan momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.
Bekal tersebut ia bawa dalam perjalanan panjang menuju Amerika. Setibanya di sana, ia dibantu komunitas mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia untuk mencari tempat tinggal dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Meski kondisi ekonominya sudah jauh lebih baik berkat beasiswa LPDP, Rif’an tetap menjalani hidup sederhana. Ia lebih sering memasak sendiri dan memanfaatkan food bank di kampus untuk mendapatkan bahan makanan.
Pandemi COVID-19 sempat mengubah rencana studinya. Setelah sekitar 15 bulan di Amerika, ia kembali ke Indonesia dan menyelesaikan program magisternya dari tanah air hingga lulus pada 2020.
Melanjutkan Doktoral
Sepulang dari Amerika, Rif’an sempat bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan kini diterima a menjadi dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Namun perjalanan akademiknya belum berhenti. Pada 2024, ia kembali meraih beasiswa LPDP dan melanjutkan studi doktoral di Wageningen University & Research di Belanda dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
Bagi Rif’an, perjalanan akademik yang ia tempuh bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk kembali memberi kontribusi bagi masyarakat. “Kalau boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, saya selalu percaya satu hal: Gusti mboten sare—Tuhan tidak pernah tidur,” kata Rif’an.
Menurutnya, setiap usaha dan kesulitan yang dijalani seseorang tidak pernah benar-benar sia-sia. “Mungkin jalannya panjang dan kadang terasa sangat berat. Tapi selama kita tetap berusaha, selalu ada jalan yang dibukakan,” pungkasnya.
Kini, Rif’an tengah menyelesaikan pendidikan doktor dari salah satu kampus riset pertanian terkemuka di Eropa. Namun ia selalu mengenang setiap lika-liku perjalanan panjangnya, tentang mimpi, keberanian melawan keadaan, dan harapan untuk kembali memberi makna bagi pertanian di Indonesia.
Penulis : Astri Wulandari
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
