Patologi Anatomi Veteriner selama ini lebih dikenal sebagai ilmu yang berkaitan erat dengan diagnosis penyakit hewan di klinik. Padahal peran disiplin ini jauh melampaui rutinitas diagnostik tersebut. Ilmu ini mampu mengevaluasi mekanisme penyakit lintas spesies melalui pendekatan patologi komparatif, sehingga menjadi landasan bagi validasi model hewan untuk penyakit manusia, uji keamanan obat, hingga pencegahan zoonosis. Konsep One Health yang kini menjadi paradigma utama kesehatan global pun secara historis diinisiasi oleh para pakar patologi yang menyadari kesamaan mendasar proses patologis antarspesies. “Patologi Anatomi Veteriner berfungsi sebagai jembatan krusial yang menghubungkan temuan laboratorium dasar dengan aplikasi klinis pada manusia,” kata Prof. drh. Sitarina Widyarini, M.P., Ph.D., sebagai Guru Besar dalam Bidang Patologi Anatomi Veteriner pada Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Prosesi pengukuhan berlangsung pada Selasa (9/6) di Balai Senat UGM.
Dalam pidato pengukuhan berjudul Jembatan Emas Diagnostik dan Inovasi: Peran Patologi Anatomi Veteriner dalam Riset Biomedis, Sitarina menyebutkan salah satu kontribusi paling nyata disiplin ini adalah dalam bidang onkologi komparatif, yakni penelitian kanker lintas spesies. Sitarina menjelaskan bahwa kanker yang terjadi secara spontan pada anjing peliharaan memiliki karakteristik biologis yang sangat mirip dengan kanker pada manusia, mulai dari pola penyebaran, profil molekuler, hingga respons terhadap kemoterapi. Berbeda dengan model kanker tikus yang umumnya diinduksi secara buatan, kanker anjing terjadi secara alami dengan sistem imun yang utuh dan heterogenitas tumor yang mencerminkan kompleksitas penyakit pada pasien manusia. “Studi tentang kanker yang terjadi secara spontan pada anjing peliharaan menjadikan model yang sesuai untuk memahami, mendiagnosis, dan mengelola kasus kanker pada manusia,” ujarnya.

Menurut Sitarina, peran para ahli Patologi Anatomi Veteriner juga sangat krusial dalam ikut mengatasi pandemi dan ancaman penyakit infeksi global. Selama pandemi COVID-19, para ahli patologi veteriner bekerja cepat mengkarakterisasi perubahan patologis pada berbagai spesies hewan guna menentukan model mana yang paling merepresentasikan kondisi COVID-19 pada manusia. Model hewan yang divalidasi secara patologis tersebut kemudian memungkinkan evaluasi cepat terhadap kemanjuran vaksin mRNA dan obat antivirus seperti remdesivir. “Temuan ini secara langsung mendukung keputusan klinis penggunaan remdesivir pada kasus COVID-19 pasien manusia,” papar Sitarina.
Tidak hanya itu, Sitarina juga memaparkan berbagai hasil penelitiannya yang memvalidasi potensi bahan alam Indonesia sebagai agen preventif maupun kuratif penyakit. Salah satunya adalah penelitian tentang Equol, senyawa yang dihasilkan dari metabolisme isoflavon kedelai oleh mikrobiota usus, yang terbukti secara eksperimental mampu menghambat perkembangan kanker kulit akibat paparan radiasi ultraviolet. Selain itu, protein dari tanaman Mirabilis jalapa atau bunga pukul empat terbukti mampu menginduksi regresi tumor kulit dan menurunkan insidensi karsinoma sel skuamosa pada model hewan. “Indonesia berdiri sebagai salah satu episentrum megabiodiversitas dunia yang menyimpan potensi biofarmaka yang tak terbatas,” katanya.
Riset translasional berbasis bahan alam lokal lainnya yang dipaparkan Sitarina mencakup potensi umbi ganyong (Canna indica) sebagai kemopreventif kanker kolon, garut (Maranta arundinacea) untuk mencegah kanker payudara melalui modulasi autofagi, serta alga hijau Ulva lactuca yang terbukti melindungi jaringan jantung dari kerusakan akibat infark miokard. Daun sendok (Plantago major) dan daun sukun (Artocarpus altilis) pun turut menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang signifikan dalam model artritis reumatoid dan inflamasi akut. Temuan-temuan ini, menurut Sitarina, menjadi fondasi saintifik penting sebelum suatu agen terapi melangkah ke fase uji klinis pada manusia.

Memasuki era digital, Sitarina menyoroti transformasi Patologi Anatomi Veteriner melalui integrasi kecerdasan buatan (AI) dan patologi molekuler. Teknologi Whole Slide Imaging (WSI) memungkinkan preparat histopatologis diubah menjadi data digital beresolusi tinggi sehingga para ahli patologi dari berbagai negara dapat meninjau spesimen yang sama secara bersamaan untuk mencapai kesepakatan diagnostik. Lebih jauh, algoritma AI kini mampu mendeteksi metastasis secara mikroskopis, menghitung indeks mitosis secara otomatis, hingga mengidentifikasi pola morfologis yang berkorelasi dengan prognosis penyakit. “Sinergi antara patologi molekuler dan kecerdasan buatan merupakan elemen kunci dalam pengembangan kedokteran presisi,” imbuhnya.
Sitarina menutup pidatonya dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan penguatan kurikulum Patologi Anatomi Veteriner yang tidak hanya berbasis diagnostik morfologis, tetapi juga mampu mengintegrasikan pemahaman biologi molekuler. Ahli patologi veteriner masa depan dituntut mampu berkomunikasi efektif dengan klinisi maupun ilmuwan dasar, sekaligus menginterpretasikan data molekuler dalam konteks perubahan morfologi jaringan secara komprehensif. Penerapan prinsip kesejahteraan hewan dan standar etik penelitian yang ketat pun menjadi mandat yang tidak bisa dikompromikan. “Menggabungkan tradisi observasi morfologis yang cermat dengan inovasi teknologi digital dan molekuler, disiplin ilmu ini terus memperluas pemahaman kita tentang kehidupan, penyakit, dan kesehatan universal pada hewan maupun manusia,” pungkasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
