Dokter spesialis mata sekaligus dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dr. Reny Setyowati, Sp.M., berhasil mengembangkan membran amnion yang diperkaya riboflavin dan moxifloxacin sebagai terapi adjuvan pada penanganan ulkus kornea infeksi. Inovasi tersebut dipaparkan dalam ujian terbuka Program Doktor yang meneliti efektivitas kombinasi membran amnion dan metode Photoactivated Chromophore for Keratitis-Corneal Cross Linking (PACK-CXL) untuk mempercepat penyembuhan infeksi kornea.
Reny menjelaskan bahwa moxifloxacin merupakan antibiotik golongan fluorokuinolon generasi keempat yang memiliki kemampuan penetrasi kornea yang baik. Selain itu, sebutnya, antibiotik spektrum luas ini dianggap mampu menangani patogen gram positif maupun gram negatif. “Moxifloxacin juga memiliki pengaruh pada ulkus kornea jamur. Pada isolat jamur dilakukan penelitian berbagai studi menunjukkan kemampuan penanganannya ini menangani patogen jamur tersebut khususnya Fusarium,” jelasnya dalam ujian terbuka promosi doktor di kampus FK-KMK UGM, Kamis (11/6).
Dikatakan Reny, salah satu keterbatasan membran amnion konvensional adalah masa degradasi yang relatif singkat, sekitar satu hingga dua minggu. Disebutkannya, melalui kombinasi dengan riboflavin dan terapi cross-linking, masa degradasi membran amnion dapat diperpanjang sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan penyembuhan ulkus kornea infeksi yang sering kali berlangsung hingga empat minggu atau lebih. “Membran amnion yang telah diperkaya obat juga dapat berfungsi sebagai depot atau slow release system sehingga akan terdapat keuntungan pada ulkus kornea infeksi untuk mendapatkan terapi antibiotik secara terus-menerus dan konsisten,” ujarnya.
Pada penelitian fase hewan coba, Reny menggunakan model ulkus kornea infeksi derajat berat. Kesempatan ini ia menggunakan kelinci yang diinduksi patogen Staphylococcus aureus dengan standar departemen mikrobiologi klinis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan intervensi membran amnion mengandung riboflavin dan moxifloxacin disertai PACK-CXL mengalami perbaikan klinis lebih cepat dibanding kelompok kontrol.
Lebih lanjut, temuan tersebut diperkuat oleh pemeriksaan histopatologi (analisis jaringan tubuh). Reny memaparkan pada kelompok intervensi ditemukan proses reepitelisasi (fase penyembuhan ketika sel-sel kulit) yang lebih baik, susunan stroma yang lebih teratur, serta jumlah sel radang yang lebih sedikit dibandingkan kelompok kontrol. “Pada kelompok intervensi, lapisan epitel kornea telah terbentuk lebih teratur dengan ketebalan yang baik, stroma juga sudah baik, dan sangat minim sel radang,” jelasnya saat menjawab pertanyaan promotor.
Penelitian ini juga mengevaluasi berbagai penanda inflamasi atau sitokin pada pasien ulkus kornea infeksi. Reny menemukan bahwa peningkatan dan penurunan kadar sitokin seperti interleukin-6 dan interleukin-1 beta sejalan dengan perbaikan klinis pasien. Temuan tersebut membuka peluang penggunaan sitokin sebagai suatu parameter keberhasilan terapi maupun indikator perburukan penyakit.
Menurutnya, pengembangan berikutnya dapat mencakup penggunaan obat lain sesuai jenis patogen penyebab infeksi, perluasan uji keamanan, hingga penerapan pada kasus penyakit kornea lainnya. Di bidang teknologi PACK-CXL, Reny juga melihat peluang modifikasi terlebih untuk konteks terapi ulkus kornea infeksi berat. Ia menjelaskan bahwa pengembangan terapi dapat dilakukan dengan mempersingkat waktu penyinaran ultraviolet dari 30 menit menjadi 10 menit melalui modifikasi protokol radiasi.
Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi penggunaan fotosensitizer lain selain riboflavin, seperti rose bengal, meskipun hingga saat ini riboflavin masih menjadi pilihan utama karena didukung banyak penelitian “Harapannya memang ini dapat memiliki layanan terapi CXL yang lebih luas. Di Indonesia memiliki sistem asuransi nasional sehingga terapi ini bisa menjadi salah satu layanan yang ditanggung layanan nasional tersebut,” sebutnya.
Selain membahas hasil penelitian, Reny juga memaparkan rencana pengembangan produk ke depan. Ia menjelaskan bahwa teknologi pembuatan membran amnion yang digunakan tergolong mudah dan dapat dikerjakan oleh berbagai laboratorium yang memenuhi standar. Saat ini, tim peneliti telah memperoleh sertifikasi paten dan menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi, termasuk BRIN atau BATAN, untuk mendukung pengembangan lebih lanjut.
Reny membawa judul disertasi, “Sediaan Membran Amnion yang Mengandung Riboflavin dan Moxifloxacin sebagai Adjuvan Terapi Photo Activated Chromophore Keratitis–Corneal Cross Linking (PACK-CXL) : Pengembangan Sediaan, Uji Preklinik dan Uji Klinik.” Ujian terbuka promosi doktor ini menjadi tahap akhir perjalanan akademiknya dalam menempuh pendidikan doktoral di FK-KMK UGM. Dalam sidang tersebut, ia dinyatakan lulus Cumlaude dan berhak menyandang gelar doktor. Pada ujian terbuka ini, bertindak sebagai tim pembimbing adalah Prof. Dr. dr. Agus Supartoto, Sp.M (K)., dr. Supanji, Sp.M(K), Ph.D., dan Dr. Eng. Apt. Khadijah, M.Si. Selain itu, sidang juga dihadiri oleh tim penguji internal maupun eksternal yang memberikan masukan terhadap pengembangan penelitian terkait terapi ulkus kornea infeksi.
Penulis/Foto : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
