Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada terus memperkuat internasionalisasi melalui pengembangan kemitraan lintas batas di kawasan Indonesia–Timor-Leste. Komitmen tersebut diwujudkan melalui rangkaian kunjungan strategis ke sejumlah institusi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor-Leste pada 13–17 Juli 2026 yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi alumni, hingga pemerintah Timor-Leste.
Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen SPs UGM untuk membangun ekosistem kolaborasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pembangunan kawasan perbatasan. Sebagai wilayah yang memiliki kedekatan geografis sekaligus tantangan pembangunan yang saling berkaitan, kawasan Indonesia–Timor-Leste membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat agar mampu menghasilkan solusi berkelanjutan melalui pendidikan tinggi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama SPs UGM, Prof. Widyanto Dwi Nugroho, menjelaskan bahwa Timor-Leste dipilih sebagai mitra strategis karena menjadi bagian dari payung unggulan Cross-Border Partnership yang dikembangkan SPs UGM sebagai bagian dari Tridharma. “Cross Border Partnership merupakan salah satu payung Tridharma unggulan dari SPs dimana Timor Leste merupakan negara yang memiliki wilayah perbatasan langsung dengan NKRI,” ujar Widyanto dalam keterangan yang dikirim Rabu (22/3).
Sejalan dengan komitmen tersebut, berbagai pertemuan selama kunjungan difokuskan pada penjajakan peluang kolaborasi multidisiplin dalam isu-isu strategis, seperti pembangunan wilayah perbatasan, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. “Kita ingin mendorong pengembangan riset yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian berbagai persoalan di kawasan perbatasan,” jelasnya.
Menurut Widyanto, kemitraan ini memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan kerja sama yang hanya berfokus pada penandatanganan nota kesepahaman. Cross-Border Partnership dirancang sebagai kolaborasi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem kerja sama. “Kegiatan ini melibatkan sivitas akademika SPs UGM dari berbagai latar belakang keilmuan yang disinergikan dalam pelaksanaan tridarma. Selain itu, kerja sama juga menghubungkan mitra di dalam negeri, khususnya Nusa Tenggara Timur, dengan mitra di Timor-Leste,” jelasnya.
Pendekatan kolaboratif tersebut diwujudkan melalui berbagai agenda akademik selama kunjungan. Delegasi SPs UGM bekerja sama dengan Dili Institute of Technology (DIT) dan Kagama Timor-Leste menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dan mini seminar yang diikuti oleh jajaran pimpinan DIT, mahasiswa DIT, sivitas akademika di Timor-Leste, serta mahasiswa KKN UGM.
Acara dibuka oleh Wakil Perdana Menteri II Timor-Leste, Mr. Mariano Assanami Sabino Lopes, yang menegaskan komitmen pemerintah Timor-Leste dalam memperkuat hubungan dengan UGM. Dalam sambutannya, ia juga memberikan motivasi kepada para mahasiswa.”Sebagai pemuda, harus mencintai tantangan, karena dari situlah karakter dibentuk,” pesan Mariano.
Widyanto menerangkan, salah satu agenda utama dalam FGD adalah sosialisasi mengenai peluang bagi mahasiswa Timor-Leste untuk mengikuti program mahasiswa asing non-degree di SPs UGM. Program tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa internasional untuk mengikuti perkuliahan, kegiatan riset, maupun program akademik lainnya di UGM dalam jangka waktu tertentu sebagai bagian dari pengalaman belajar internasional tanpa harus menempuh program gelar penuh.
Kerja sama tersebut juga membuka ruang pembelajaran yang lebih luas bagi mahasiswa UGM. Menurut Widyanto, sinergi dengan program KKN UGM di Kabupaten Belu memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman berinteraksi langsung dengan mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah dari Indonesia maupun Timor-Leste. Berbagai persoalan lokal yang ditemukan di lapangan juga dapat menjadi inspirasi pengembangan penelitian maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat. “Pemetaan masalah-masalah lokal dapat menjadi inspirasi judul-judul penelitian maupun PKm di wilayah Perbatasan dengan mitra yang mendukung,” katanya.
Ia menjelaskan, topik penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dibingkai dalam payung utama Cross-Border Partnership meliputi pertanian lahan kering, kesehatan masyarakat khususnya penanganan stunting, potensi tanaman obat, studi post-memory, serta penelitian daerah aliran sungai (DAS) perbatasan. Dialog yang berlangsung secara interaktif memberikan kesempatan bagi pemerintah dan sivitas akademika Timor-Leste untuk mengenal lebih jauh skema pembelajaran di SPs UGM, pengalaman akademik di UGM, serta berbagai peluang kolaborasi riset dan pengembangan kapasitas.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, SPs UGM tidak hanya memperkenalkan program akademiknya, tetapi juga membuka peluang kerja sama jangka panjang di bidang pendidikan tinggi. Kegiatan ini menjadi langkah awal membangun mobilitas akademik antara SPs UGM dan DIT sebagai bagian dari strategi internasionalisasi dan penguatan jejaring pendidikan tinggi di kawasan Indonesia–Timor-Leste. Kehadiran mahasiswa internasional diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar sivitas akademika melalui pertukaran perspektif, budaya, dan pengetahuan.
Selain itu, kunjungan kerja kali ini juga bersinergi dengan program KKN UGM di Kabupaten Belu yang memiliki agenda pertukaran kegiatan lintas negara. Melalui rangkaian kunjungan tersebut, SPs UGM menegaskan komitmennya untuk membangun kolaborasi yang tidak hanya berhenti pada kerja sama kelembagaan, tetapi juga menghasilkan dampak nyata melalui penelitian kolaboratif, pengembangan kapasitas, mobilitas akademik, serta inovasi bagi pembangunan kawasan perbatasan Indonesia-Timor-Leste.“Kita oingin kolaborasi ini memberikan penguatan dan perluasan kegiatan dengan lebih konkret dan berdampak,” pungkas Widyanto.
Seperti diketahui, kunjungan kerja delegasi SPs UGM ke NTT dan Timor Leste meliputi Universitas Nusa Cendana (Undana), Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang), Pemerintah Kabupaten Belu (Kantor Bupati Belu dan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah/BP4D), Dili Institute of Technology (DIT), Kagama NTT, dan Kagama Timor-Leste.
Reportase : Eis/SPs
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. SPs
