Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. dan Direktur PT JANZZ Technology Indonesia, Hesti Aryani, S.S., M.A., memberi motivasi pada mahasiswa baru (maba) dari Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada, Rabu (5/8) di ruang Auditorium Fakultas Pertanian. Salah satu rangkaian kegiatan PIONIR Organik ini dikemas dalam bentuk seminar yang bertajuk “Harmoni Amarta Muda dalam Peran Smart Eco Bioproduction untuk Transformasi Ekonomi Hijau dan Biru yang Berkelanjutan”.
Anies memantik diskusi dengan mengingatkan para mahasiswa baru UGM memiliki tugas moral karena berhasil lolos dari sekian ribu peminat. Sebab, rentang kuliah itu masa perkembangan diri yang luar biasa. Oleh karena itu, ia menggarisbawahi bahwa mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang sibuk dalam kegiatan akademik dan non akademik. “Sibuknya dari berbagai macam kegiatan seperti di kelas dan luar kelas untuk perkembangan diri dengan memanfaatkan waktu sesuai minat dan bidangnya,” sebutnya.
Bagi Anies, mahasiswa menuntut ilmu tidak hanya sekedar mengejar gelar, tetapi juga menajamkan gagasan. Ia menyebutkan gelar bisa diraih, tetapi gagasan harus dimulai dari sekarang dengan berbagai diskusi. Menurutnya, hari ini Indonesia tidak kekurangan sarjana, tetapi langka untuk memiliki sumber pemikiran otentik yang bisa menyelesaikan masalah. “Lihatlah kampus bukan sebagai tempat sang juara, tetapi pintu berubah. Niatkan bahwa dapat kesempatan untuk mengebangkan diri, diskusi, mencari solusi atas persoalan. Kampus ini menjadi tempat berangkat untuk gagasan lainnya,” ujarnya.
Ia mengajak Amarta Muda, sebutan mahasiswa baru Faperta UGM, untuk membawa selalu misi kemanusiaan serta target yang ingin dicapai. Selama proses pembelajaran, mahasiswa sebaiknya memanfaatkan waktu dan kesempatan karena berada di lingkungan yang banyak inovator luar biasa. “Kampus ini memiliki ekosistem besar untuk pengembangan diri,” ujarnya.
Selain itu, Anies juga mengajak mahasiswa memanfaatkan kesempatan kuliah untuk mencicipi berbagai tanggung jawab untuk melatih mahasiswa untuk terbiasa berkomitmen untuk memegang berbagai peran dalam satu waktu. Menurutnya, kesempatan ini akan membuat mengasah kemampuan menjalani tugas yang bervariasi.
Anies sempat menyinggung soal persoalan integritas yang masih menjadi tugas termasuk dunia pendidikan. Disebutkannya bahwa integritas perlu sejalan antara kejujuran dengan nilai kebenaran dan kebaikan. Ia menekankan untuk latihan dari masa perkuliahan, seperti ketika menulis, berkarya, mahasiswa perlu memastikan kejujuran itu harus hadir. “Salah satu cara menjaga integritas dengan memiliki semangat mengedepankan transparansi,” jelasnya.
Terkait kepemimpinan, ia menyebutkan bahwa yang membuat seseorang menjadi pemimpin adalah adanya pengikut. Menurutnya, kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan menghargai orang lain karena seorang pemimpin dipercaya oleh orang-orang yang dipimpinnya. Ia kemudian memperkenalkan rumus membangun kepercayaan, yakni Trust = Competence + Integrity + Intimacy – Self Interest.
Menurutnya, kompetensi, integritas dan kedekatan akan meningkatkan kepercayaan, sedangkan kepentingan pribadi (self interest) justru menurunkannya. Ketiga aspek pertama dapat terus dikembangkan, sementara kepentingan pribadi harus mampu dikendalikan.
Ia juga menyoroti pemanfaatan teknologi sekarang ini harus selalu disertai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, teknologi tanpa nilai keadilan, inovasi justru dapat memperbesar ketimpangan. Karena itu, setiap penggunaan teknologi perlu mempertimbangkan siapa yang akan tertinggal, diuntungkan, dan dirugikan. Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan juga tidak boleh kehilangan kepekaan sosial. “Ilmu pertanian merupakan alat, sedangkan kepekaan sosial adalah arah. Dengan demikian, ilmu yang dikembangkan tidak hanya mampu meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama kelompok yang paling kecil dan rentan,” pesannya.
Membahas pertanian di dunia futuristik, Direktur PT JANZZ Technology Indonesia, Hesti Aryani, S.S., M.A., mengatakan masa depan pertanian tidak lagi hanya berbicara tentang panen raya, tetapi juga terkait memanen dan memanfaatkan data. “Mahasiswa di UGM ini harus sudah bisa berpikir jauh dan kritis secara statistik yaitu data. Data kalau tanamannya ini rusak bisa diidentifikasi bagaimana,” ujarnya.
Menurut Hesti, teknologi kecerdasan buatan yang berkembang pesat sekarang ini pada dasarnya diciptakan untuk menjawab persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, AI tidak akan menggantikan peran petani, tetapi akan menjadi teknologi yang bekerja berdampingan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Ia juga mengingatkan bahwa peluang kerja di masa mendatang 2030 didominasi oleh sektor pangan dan pertanian khususnya. Oleh karena itu, menurutnya, tiga hingga empat tahun ke depan bagi mahasiswa baru menjadi waktu yang penting untuk mulai memetakan masa depan sejak sekarang.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
