Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) merupakan salah satu dari 18 fakultas di UGM. Berdiri di atas lahan seluas 166.630 meter persegi, FT UGM terdiri atas 8 departemen, 15 program studi sarjana, 16 program studi pascasarjana, 9 program studi doktoral, dan 2 program studi profesi, serta 58 laboratorium dan fasilitas riset. Pada 2026, FT UGM memiliki 10.615 mahasiswa serta menjalin kemitraan dengan 175 mitra nasional dan internasional. Sebagai salah satu fakultas teknik terakreditasi unggul di Indonesia, FT UGM terus menghadirkan inovasi yang mengedepankan keberlanjutan dan kelestarian lingkungan, tidak hanya melalui produk ramah lingkungan, tetapi juga program people-centered yang mendorong partisipasi sivitas dalam membangun perilaku berkelanjutan.
Berangkat dari tanggung jawab tersebut, FT UGM menjadikan lingkungan kampus sebagai bagian dari proses pembelajaran. Lingkungan tidak hanya menjadi tempat belajar dan mengajar, tetapi juga living lab bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan lingkungan, aspek sosial, perilaku, dan karakter.
Dekan FT UGM, Prof. Ir. Selo, mengatakan mahasiswa dan masyarakat yang datang ke FT UGM diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga belajar bagaimana hidup dan beraktivitas dalam lingkungan yang dikelola secara berkelanjutan. “Jadi, sebenarnya kita ingin mempunyai lingkungan yang sering disebut living lab, yang tidak hanya terkait dengan lingkungan teknologi, tetapi juga dengan kehidupan. Bagaimana kita hidup di lingkungan yang menjadi harapan bagi kita,” ujarnya, Jumat (21/8).
Membangun Budaya Peduli Lingkungan
Untuk mewujudkan lingkungan sebagai ruang pembelajaran tersebut, FT UGM menerapkan berbagai kebijakan yang mendorong keteraturan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Salah satunya melalui pengaturan mobilitas kendaraan di kawasan fakultas. FT UGM memasang portal untuk mengatur jumlah kendaraan yang masuk sesuai kapasitas parkir. Kebijakan ini diterapkan bukan untuk membatasi aktivitas orang, melainkan mengendalikan jumlah kendaraan agar sesuai dengan daya tampung kawasan. Mahasiswa yang membawa mobil diatur secara bergiliran karena jumlah kendaraan lebih banyak dibandingkan kapasitas parkir. Di sisi lain, FT UGM tetap menyediakan area parkir bagi pengunjung sehingga pembatasan kendaraan tidak berarti membatasi akses masyarakat ke lingkungan fakultas. “Portal itu kita pasang bukan untuk membatasi orang, tetapi untuk membatasi kendaraannya,” jelas Selo.
Tidak berhenti pada pengaturan mobilitas, komitmen terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui pengelolaan sampah secara mandiri. FT UGM memiliki TPS 3R dengan prinsip bahwa sampah yang dihasilkan di lingkungan fakultas harus dapat dikelola hingga selesai di dalam kawasan kampus. “Kita punya TPS 3R yang mempunyai atau menggunakan motto bahwa tidak boleh ada sampah keluar dari Fakultas Teknik apa adanya. Semua sudah dikelola, selesai di lingkungan Fakultas Teknik,” tuturnya.
Pengelolaan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk melibatkan mahasiswa secara langsung. Di kantin, misalnya, penggunaan plastik sekali pakai dikurangi dengan menyediakan piring dan gelas yang dapat digunakan kembali. Mahasiswa juga dibiasakan bertanggung jawab terhadap sisa makanan dan peralatan makan setelah selesai digunakan. “Bukan kita ajari, kita ajak untuk peduli pada lingkungan,” katanya.
Selain mengurangi sampah, kepedulian terhadap lingkungan juga ditanamkan melalui penghijauan. FT UGM pernah mengajak mahasiswa baru menanam sekitar 10.000 pohon. Pada tahun ini, sekitar 250 pohon berukuran lebih besar kembali ditanam. Sebelumnya, FT UGM juga menanam 18 pohon berukuran besar dengan lingkar batang mencapai sekitar tiga meter.
Beragam upaya tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan di FT UGM tidak hanya diarahkan untuk menciptakan kawasan yang nyaman, tetapi juga membentuk kebiasaan sivitas agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan. “Kita sangat peduli pada lingkungan, sehingga kita mengajak mahasiswa belajar bagaimana mengelola lingkungan. Setiap mahasiswa harus punya sense bagaimana kita mengelola lingkungan,” terangnya.
Membangun Kesadaran, Mengubah Kebiasaan
Upaya membangun kepedulian tersebut, menurut Selo, tidak selalu berjalan mudah. Sebab, keberhasilan sebuah inovasi pada akhirnya sangat bergantung pada kesediaan manusia untuk menerima dan menjalankan perubahan. “Tantangan paling menantang itu adalah mengajak orang untuk berubah. Kalau sistemnya, sistem kan dibuat, itu mudah,” ujarnya.
Ia mencontohkan penerapan portal kendaraan yang membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga akhirnya dapat diterima sivitas akademika. Namun, proses itulah yang menunjukkan jika perubahan membutuhkan waktu dan konsistensi. Pengalaman serupa kemudian diterapkan FT UGM dalam membangun kepedulian terhadap aspek Safety, Health, and Environment (SHE) atau keselamatan, kesehatan, dan lingkungan.
Program tersebut mulai dijalankan sejak 2025 dengan pencatatan terhadap mahasiswa yang melakukan pelanggaran. Menurut Selo, jumlah pelanggaran menunjukkan penurunan. Ia juga melihat adanya kesadaran mahasiswa untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Melakukan kesalahan itu hal yang biasa. Orang-orang biasa mengulang kesalahan itu, tapi pastinya untuk berikutnya dia harus sudah memikirkan, tidak boleh mengulang kesalahan itu,” tuturnya.
Bagi Selo, perubahan perilaku tersebut menjadi salah satu indikator bahwa inovasi tidak berhenti pada penciptaan sistem atau aturan, tetapi juga menghasilkan perubahan dalam keseharian sivitas. “Tantangannya adalah manusianya. Ya, manusianya,” pungkasnya.
Lingkungan dan Manusia sebagai Satu Kesatuan
Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar pendekatan FT UGM dalam mengembangkan solusi pengelolaan lingkungan. Jika pendekatan konvensional cenderung menempatkan lingkungan atau sampah sebagai objek pengelolaan, FT UGM memandang manusia dan lingkungan sebagai satu kesatuan ekosistem. “Kalau kami, lingkungan dan orang ini satu kesatuan ekosistem. Semua harus dikelola dengan baik,” jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, berbagai inovasi tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mengajak sivitas mengubah cara kerja dan budaya sehari-hari. Dampaknya pun mulai dirasakan di luar lingkungan FT UGM.
Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya institusi yang datang untuk mempelajari praktik pengelolaan lingkungan di FT UGM. Sejumlah sekolah dan lembaga telah belajar mengenai pengelolaan sampah, termasuk salah satu sekolah yang kemudian mengikuti kompetisi pengelolaan sampah tingkat nasional. Beberapa perguruan tinggi juga melakukan kunjungan untuk mempelajari praktik serupa.“Kalau dari banyaknya mitra yang kemudian belajar tentang kita, mungkin sesuatu yang bisa kita pakai sebagai ukuran dampak,” katanya.
Ketertarikan tersebut juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan perguruan tinggi mitra dari luar negeri yang memiliki perhatian serupa terhadap penciptaan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung proses pendidikan.
Memperkuat Kolaborasi dan Inovasi
Upaya FT UGM dalam membangun budaya peduli lingkungan tidak berdiri sendiri. Semangat tersebut tumbuh dalam ekosistem inovasi yang mempertemukan sivitas akademika dengan mitra industri, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya. Bagi Selo, inovasi perlu dikembangkan melalui kolaborasi agar pengetahuan dan pengalaman dari berbagai bidang dapat saling melengkapi serta menghasilkan solusi yang lebih relevan dengan kebutuhan di lapangan.
Salah satu ruang yang mewadahi kolaborasi tersebut ialah Engineering Research Innovation Center (ERIC). Melalui ERIC, dosen, mahasiswa, peneliti, dan mitra industri dapat berinteraksi dalam berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan. Selo menyebut salah satu perusahaan panas bumi bahkan memiliki ruang khusus di ERIC untuk melakukan penelitian bersama. Selain industri, ERIC juga menjadi ruang bagi berbagai aktivitas yang melibatkan pemerintah dan pemerintah daerah.
Ekosistem kolaborasi tersebut sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan gagasan inovatif. FT UGM mendorong mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan dan kompetisi dengan dukungan dosen, sehingga inovasi tidak hanya menjadi hasil pembelajaran di kelas, tetapi juga lahir dari pengalaman dan proses kolaborasi.“Kita berharap tidak hanya mahasiswa kegiatan, tetapi siapa saja yang masuk Fakultas Teknik ini mendapat support agar mereka bisa berkreasi, berinovasi tanpa batas,” ujarnya.
Menurut Selo, ruang berinovasi tersebut juga tidak harus terbatas pada satu disiplin ilmu. Pengembangan kendaraan seperti Arjuna, SEMAR, Bimasakti, misalnya, tidak hanya berbicara mengenai aspek teknis, tetapi juga membentuk ekosistem yang memungkinkan mahasiswa dari bidang ekonomi, hukum, maupun bidang lainnya untuk turut berkontribusi sesuai keahliannya.
Mempertemukan Pembelajaran dan Dunia Nyata
Ekosistem kolaborasi tersebut juga tercermin dalam proses pembelajaran. Meskipun sistem pembelajaran FT UGM tidak secara khusus berbeda dari fakultas lainnya, pengalaman dosen dalam menyelesaikan persoalan di dunia industri menjadi salah satu sumber pembelajaran yang memperkaya perkuliahan. Sejumlah dosen memiliki pengalaman penelitian dan pengembangan solusi untuk berbagai persoalan industri, mulai dari energi hingga teknologi. Pengalaman tersebut kemudian dibawa ke dalam materi perkuliahan.
Selain melalui pengalaman dosen, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk melihat langsung penerapan ilmu di lapangan. Sejumlah program studi mengajak mahasiswa mengunjungi industri untuk memahami persoalan nyata sesuai bidang keilmuannya. Pada industri petrokimia, misalnya, mahasiswa teknik kimia dan teknik elektro dapat mempelajari aspek yang berbeda sesuai kompetensinya, mulai dari proses kimia hingga sistem kelistrikan.“Jadi kombinasi antara pengalaman dosen dan kemudian dengan lapangan itu mungkin menjadi kita cukup banyak mengirim mahasiswa ke industri,” jelasnya.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan dunia nyata.
Mewujudkan Fakultas yang Nyaman untuk Bertumbuh
Seluruh upaya tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yakni menciptakan lingkungan FT UGM yang memungkinkan seluruh sivitas belajar dan berkembang secara optimal. Selama hampir lima tahun memimpin FT UGM, Selo menaruh perhatian pada bagaimana lingkungan fakultas dapat menjadi tempat yang nyaman untuk belajar sekaligus berkembang. “Saya memikirkan tentang bagaimana lingkungan Fakultas Teknik menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, nyaman untuk berkembang, bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh semua sivitas,” tuturnya.
Ia berharap setiap sivitas dapat berkembang sesuai potensi masing-masing. Dosen diharapkan terus mengembangkan keilmuan dan karier, sementara mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik serta memiliki karakter yang kuat. “Saya bayangkan adalah semua orang, baik itu dosen maupun mahasiswa, semuanya bisa tumbuh berkembang sesuai dengan posisi terbaiknya,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Aidil dan Dok. FT UGM
