Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan telah dihuni oleh transmigran dari berbagai wilayah khususnya pulau Jawa sejak sekitar tahun 1990. Hingga kini, kawasan ini telah berkembang menjadi kawasan yang semakin ramai dengan segala potensinya di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dengan kondisi tanah yang relatif subur, berbagai tanaman tropis asli papua dan tanaman luar dapat tumbuh dengan baik. Meskipun demikian, beberapa jenis tanaman seperti padi mempunyai produktivitas yang belum optimal. Menurut masyarakat sekitar, produktivitas tanaman padi yang merupakan salah satu makanan pokok hanya berkisar 2 ton/ha/musim gabah kering panen (GKP), termasuk kategori rendah dibandingkan dengan produktivitas optimal yang bisa mencapai 8 ton/ha/musim. Tidak hanya itu, penanaman padi pada umumnya hanya satu kali saja dalam satu tahun. Produksi yang belum optimal ini pada umumnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja.
Adanya gap produksi ini perlu diatasi supaya produktivitasnya dapat meningkat dan memberikan manfaat ekonomi lebih bagi masyarakat sekitar. Identifikasi permasalahan di sektor produksi dan penilaian kesesuaian lahan diperlukan untuk dapat mengetahui penyebab belum optimalnya produktivitas tanaman padi di Muting. Berdasarkan hasil identifikasi awal dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) diketahui praktek budidaya dan kualitas bibit padi diduga menjadi salah satu penyebabnya.
Hasil komunikasi TEP 1 UGM KT Muting dengan Ir. Supriyanta, M.P., Dosen Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM sekaligus peneliti dan pemulia (breeder) padi varietas Gamagora 7, diperoleh informasi bahwa Gamagora cocok dikembangkan di lahan pertanian tadah hujan dengan hasil yang baik seperti yang telah diuji coba di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Demplot padi Gamagora ini merupakan bagian dari demplot terpadu tanaman pangan-pakan ternak dan konservasi air di area seluas 2.500 m² di muting. Demplot terpadu ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendukung ketersediaan pakan ternak, efisiensi pemanfaatan air, serta keberlanjutan lahan pertanian,” terang Supriyanta dalam keterangan yang dikirim Rabu (26/8).
Program ini menjadi bagian dari penerapan ekonomi hijau di Kawasan Transmigrasi Muting dengan mengintegrasikan sektor pangan, peternakan, dan lingkungan. Selain itu, ia meminta tim TEP UGM juga memperhatikan bahwa konservasi air sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pemanenan air hujan, sehingga pengisian air tanah menjadi lebih optimal dan keberadaan sumber air permukaan untuk pertanian tetap tersedia di sepanjang musim kemarau. Ketersediaan air permukaan yang optimal, dapat mendukung budidaya tanaman padi sebanyak dua kali dalam setahun.
Selain itu, air juga berperan penting dalam mendukung pengembangan komoditas lainnya yaitu peternakan dan perkebunan. “Keberadaan sumber air yang melimpah dapat mendukung produksi komoditas perkebunan dan peternakan melalui penyediaan pakan ternak yang mencukupi,” jelasnya.
Sebagai upaya untuk memperkuat hasil identifikasi tersebut, dilakukan lah uji coba pembuatan demplot padi Gamagora di kampung Bouwer, Distrik Elikobel, Muting oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai oleh Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Sedangkan anggota TEP terdiri dari Tri Ariani, S.T.P. (Bidang ekonomi pertanian), Khulaimi, S.P. (Bidang agronomi), Ilham Mubarok, S.T.P. (Bidang sumber daya air dan perkebunan), Ariqonitahanif Putri Rahim, S.Si. (bidang geografi dan pemetaan lahan), dan Fariz Jordan Fadillah, S.Pt., M.Sc. (bidang peternakan), yang merupakan salah satu di antara 20 TEP yang diterjunkan oleh UGM di KT Muting.
Penanaman padi Gamagora diakui Chandra diarahkan menyesuaikan karakteristik wilayah Muting yang terbiasa menggunakan sistem tabela (tanam benih langsung) pada lahan. Sistem tabela ini sudah umum dilakukan oleh masyarakat setempat. Karakteristik topografi yang relatif bergelompang dan sungai-sungai yang mudah mengering menjadikan pertanian tadah hujan sebagai pilihan utama Masyarakat setempat. “Pemilihan kampung Bouwer dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan air permukaan yang cukup baik yaitu pada cekungan alami dan juga pada penampungan air buatan memanjang yang telah dibuat oleh pemerintah setempat,” kata Chandra Setyawan.
Dengan sistem tabela diperkirakan memerlukan waktu panen sekitar 100-120 dari hari setelah tanam benih. Penanaman padi Gamagora dilaksanakan pada Hari Minggu, 23 Agustus lalu oleh TEP UGM bersama dengan Masyarakat dan tokoh-tokoh setempat termasuk kepala kampung dan ketua kelompok taniu setempat.
Bagi Chandra, penanaman Gamagora di Muting ini tidak hanya sekedar untuk mengatasi permasalahan produktivitas padi varietas lokal yang rendah, namun juga merupakan upaya transfer pengetahuan tentang teknik atau praktik budidaya pertanian yang baik dari UGM untuk masyarakat setempat.
Lebih jauh ia menjelaskan, terdapat tiga perlakuan pada benih padi yang ditanam menggunakan cara dan praktek konvensional yang biasa dilakukan Masyarakat setempat. Selanjutnya, dilakukan perlakuan penambahan bahan organik pembenah tanah pada varietas Gamagora untuk meningkatkan dan mempertahankan kandungan lengas tanah dalam waktu yang lebih lama. Tidak hanya sampai di riu, diperlukan perlakuan penambahan bahan organik dengan menerapkan konsep sistem of rice intensification (SRI) melalui pemberian irigasi intermitten sesuai dengan kebutuhan air. “Melalui pemodelan kebutuhan air tanaman, akan diketahui berapa lama durasi penyiraman air irigasi yang optimal sehingga tanaman padi tidak mencapai kondisi titik layu permanen dan dapat menghasilkan produktivitas yang optimal,” pungkasnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim Patriot
