Persoalan penjenamaan (branding) dan pemasaran masih menjadi salah satu tantangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam meningkatkan produktivitas usahanya. PAsalnya, kemasan memiliki peran strategis dalam membangun daya tarik sebuah produk. Selain melindungi isi produk, kemasan dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen dan meningkatkan nilai jual.
Hal ini mengemuka dalam pelatihan UMKM Class Series (UCLS) #40 yang berlangsung di aula Sekretariat Daerah Sleman pada Kamis (29/10) lalu. Diikuti oleh pelaku UMKM yang tergabung dalam Forum Komunikasi (Forkom) UKM Sleman. Workshop yang bertajuk “Peningkatan Daya Tarik Produk dan Jangkauan Pasar UMKM melalui Penguatan Kemasan dan Digital Marketing” dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah, Pemwerintah Kabupaten Sleman, Sutiasih, S.P., M.M., dan Direktur Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM Dr. Rustamaji.
Rustamaji, M.Kes., menilai penguatan UMKM perlu mencakup lebih dari sekadar peningkatan kapasitas produksi. Identitas merek, kepatuhan terhadap ketentuan produk, dan keamanan dalam menjalankan usaha juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan. “Merek bukan sekadar identitas produk. Di dalamnya terdapat kepercayaan publik yang harus dijaga oleh pelaku usaha,” jelasnya.
Karena itu, pihaknya mendorong pelaku UMKM yang belum mendaftarkan mereknya untuk segera mengurus legalitas. Selain itu, pemenuhan sertifikasi halal juga perlu menjadi perhatian agar produk memiliki jaminan yang semakin kuat di mata konsumen. UGM, dalam hal ini, siap memfasilitasi pelaku usaha melalui skema sertifikasi halal.
Di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan melalui platform digital, keamanan transaksi dan perlindungan informasi pribadi juga tidak boleh diabaikan. Dr. Rustamaji mengingatkan pelaku UMKM agar lebih berhati-hati dalam menggunakan perangkat komunikasi maupun membagikan informasi pribadi. “Jangan mudah menerima informasi yang belum jelas kebenarannya. Pengelolaan telepon genggam dan kata sandi juga harus diperhatikan karena penipuan digital semakin marak,” pesannya.
Ia menyampaikan, UGM saat ini juga tengah menyusun modul sederhana mengenai keamanan digital yang berpeluang dimanfaatkan oleh pelaku UMKM di Sleman.
Dari sisi pengemasan, Dr. Muhammad Prasetya Kurniawan, S.T.P., M.Sc., dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, menjelaskan bahwa kemasan memiliki peran strategis dalam membangun daya tarik produk. Selain melindungi isi produk, kemasan dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen dan meningkatkan nilai jual.
Kemasan yang tepat perlu mempertimbangkan sejumlah aspek, seperti tampilan, fungsi, perlindungan produk, biaya, kemudahan penanganan, hingga pengelolaan limbah. Sementara itu, label harus menyajikan informasi secara jelas dan komunikatif agar konsumen dapat mengenali karakteristik produk serta memperoleh informasi yang diperlukan.
Untuk membantu pelaku usaha mengevaluasi kemasan yang digunakan, peserta diperkenalkan dengan instrumen diagnosis partisipatif yang mencakup sembilan komponen. Penilaian tersebut meliputi kondisi kemasan, kelengkapan label, keamanan produk, analisis biaya dan margin, hingga penyusunan rencana perbaikan selama 30 hari.
Dalam proses evaluasi, aspek keamanan dan kepatuhan menjadi prioritas sebelum pelaku usaha melakukan perubahan tampilan. Kebocoran, kerusakan produk, kegagalan segel, maupun ketidaksesuaian legalitas perlu diselesaikan terlebih dahulu. Dengan demikian, perbaikan kemasan tidak berhenti pada persoalan estetika, tetapi juga memastikan produk memenuhi kebutuhan konsumen dan ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, Dr. Novita Erma Kristanti, S.T.P., M.P., juga pemateri dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, menyoroti pentingnya penyesuaian strategi pemasaran dengan perubahan perilaku konsumen. Pemanfaatan media sosial, marketplace, dan aplikasi komunikasi bisnis dapat membantu UMKM membangun hubungan dengan konsumen sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Materi yang diberikan mencakup identifikasi target pasar, penyusunan strategi promosi, pengembangan konten, hingga pemilihan kanal pemasaran digital yang sesuai dengan karakteristik usaha. Pemasaran digital juga membuka peluang bagi UMKM untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, pemberdayaan perempuan, dan pengembangan produk berkelanjutan.
Pemanfaatan platform digital kemudian diperkuat melalui praktik bersama Yoga Aria Seta, praktisi pemasaran digital dari Axelo Yogyakarta. Ia mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih dihadapi pelaku UMKM, mulai dari penyiapan toko daring, pengelolaan pemasaran afiliasi, teknik penjualan melalui siaran langsung (live selling), hingga optimalisasi iklan digital.
Menurut Yoga, besarnya potensi pasar digital di Sleman perlu diimbangi dengan peningkatan keterampilan pelaku usaha dalam mengelola berbagai platform perdagangan elektronik. Pendampingan yang terstruktur dan aplikatif diharapkan dapat membantu UMKM memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pangsa pasar.
Sebelum mengikuti pemaparan materi, peserta terlebih dahulu mengisi Key Performance Indicator (KPI) untuk memetakan kondisi awal usaha, khususnya dalam aspek branding, pengemasan, pelabelan, dan pemasaran digital. Setelah seluruh materi diberikan, peserta mengikuti post-test untuk mengukur pemahaman yang diperoleh selama pelatihan.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Kabupaten Sleman, Sutiasih, S.P., M.M., mengungkapkan bahwa penguasaan teknologi digital masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku UMKM. Padahal, kemampuan memanfaatkan teknologi diperlukan untuk mempromosikan produk dan menjangkau konsumen secara lebih luas.
“Kesempatan ini silakan dimanfaatkan sampai selesai,” ujarnya, mendorong peserta untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pengembangan usaha masing-masing.
Menurut Sutiasih, Kabupaten Sleman memiliki potensi besar untuk mengembangkan UMKM, salah satunya didukung oleh keberadaan berbagai perguruan tinggi yang dapat berkontribusi dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Sleman juga berupaya membuka peluang promosi bagi pelaku usaha, termasuk generasi muda yang mulai mengembangkan bisnis keluarga.
Reportase: Widodo dan Michael Anggit Prasaja/ DPkM UGM
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. DPkM
