Menteri Kebudayaan Indonesia, Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc. menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan keberagaman budaya sangat besar yang dihuni lebih dari 290 juta jiwa, 1.340 suku bangsa, 780 bahasa. Indonesia juga memiliki lebih dari 3.277 elemen warisan budaya takbenda nasional yang 16 di antaranya masuk daftar UNESCO, serta 1.515 situs cagar budaya nasional. Menurutnya, sudah saatnya bangsa Indonesia beralih dari narasi sejarah kolonial yang berpusat pada daratan dan mulai mengakui signifikansi masyarakat pulau, lingkungan maritim, serta pengetahuan lokal.
Fadli menyoroti tiga penemuan ilmiah yang belum lama ini ditemukan di Indonesia. Pertama, seni cadas naratif tertua di dunia yang ditemukan di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan pada tahun 2024 yang berusia kurang lebih 51.200 tahun. Kedua, artefak batu masa Pleistosen awal di Talepu/Kalio, Sulawesi tahun 2025, memberikan bukti paling awal mengenai keberadaan hominin di Sulawesi. Terakhir, seni cadas cap tangan prasejarah tertua di dunia di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara pada Januari 2026 yang berusia setidaknya 67.800 tahun. “Sejarah kemanusiaan lebih beragam dan kompleks. Setiap penemuan membuka pertanyaan baru dan setiap generasi mewarisi tanggung jawab untuk melestarikannya,” tuturnya dalam pembukaan The 23rd Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA) 2026 pada Senin (2/11) di Grha Sabha Pramana UGM.
Ia juga menegaskan bahwa Asia dan Nusantara merupakan poros penting peradaban dunia. Ia mengungkap pilar keilmuan arkeologi di Indo-Pasifik yaitu memajukan keunggulan ilmiah melalui kerja sama internasional, memperkuat kecerdasan ekologis dan ketahanan warisan budaya, menghubungkan penemuan arkeologi dengan masyarakat, dan membangun kemitraan Indo-Pasifik yang berkelanjutan. “Semakin dalam kita memahami masa lalu kita, kita harus menjadi semakin bijak dalam membentuk masa depan kita,” ungkap Fadli.
President IPPA, Prof. Dra. Anggraeni, M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa Indonesia menjadi tuan rumah yang kedua kali untuk kongres ini. Yogyakarta menjadi kota yang tepat karena berisi sejarah, kebudayaan, akademisi, dan warisan hidup. Hal ini tercermin dari bentang alam, monumen, artefak, tradisi, bahasa, dan komunitas yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Menurutnya, tanggung jawab akademisi dan peneliti tidak hanya meneliti, mendokumentasikan, dan menginterpretasikan warisan budaya tetapi mencakup kontribusi pelestarian serta makna pengetahuan bagi generasi muda. “Saya berharap di samping program akademik kongres, para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk merasakan kekayaan budaya dan keramahan Yogyakarta dan Indonesia,” ucapnya.
Mewakili tuan rumah, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa arkeologi bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga masa depan. Indo-Pasifik memiliki peran dalam sejarah manusia, migrasi, konektivitas maritim, dan pertukaran budaya. Ia menekankan bahwa masa depan arkeologi bergantung pada kolaborasi lintas disiplin ilmu, termasuk antropologi, sains alam, genetika, ilmu lingkungan, hingga kecerdasan buatan (AI). Hal ini sejalan dengan komitmen UGM untuk menjalankan penelitian lintas disiplin ilmu, kolaborasi internasional, dan pembangunan berkelanjutan. “Melalui IPPA 2026, kami mengupayakan kolaborasi lintas disiplin jangka panjang antar lembaga dan antar kawasan. Semoga kongres ini dapat melahirkan penemuan-penemuan baru, kemitraan yang bermakna, serta kolaborasi nyata bagi kemanusiaan,” tutur Danang.
Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X memaparkan bahwa arkeologi mengajarkan bahwa masa lalu bukanlah ruang sunyi, melainkan kesaksian daya cipta dan kemampuan manusia menghadapi perubahan. Melalui arkeologi, sejarah kemanusiaan merupakan jalinan panjang pengalaman perjumpaan dan pertukaran pengetahuan masyarakat. “Kemajuan peradaban tidak semata diukur dari jauhnya manusia melangkah tetapi juga kebijaksanaan memahami perjalanan yang telah dilalui,” ujarnya.
Sebagai penutup, Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra (OR Arbastra) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Herry Yogaswara, M.A., menuturkan bahwa wilayah Indo-Pasifik memiliki pemahaman evolusi, persebaran, migrasi, adaptasi, dan perkembangan budaya manusia yang signifikan. Catatan arkeologis kawasan ini mewakili proses-proses yang saling terhubung dan melampaui batasan-batasan politik modern. Salah satu inisiatif penting yang patut mendapat perhatian adalah usulan pusat kategori 2 UNESCO untuk evolusi, adaptasi, dan persebaran manusia di Asia Tenggara atau kawasan Laut Jepang yang sedang dikerjakan BRIN dan Kementerian Kebudayaan. “Melalui partisipasi dan dukungan terhadap IPPA, BRIN berupaya memperkuat kontribusi Indonesia dalam diskusi ilmiah internasional, memperluas peluang riset bagi peneliti kami, serta mendorong penelitian kolaboratif yang bermanfaat bagi masyarakat Indo-Pasifik yang lebih luas,” harapnya.
Sekedar informasi, Universitas Gadjah Mada menjadi tuan rumah The 23rd Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA) 2026 yang dilaksanakan pada 2-7 November 2026 dengan tema “Tomorrow and Beyond”. Kegiatan ini diikuti oleh 850 peserta dari 42 negara yang mewakili berbagai keahlian seperti arkeologi, antropologi, paleontologi, sejarah, linguistik, dan manajemen warisan budaya. IPPA merupakan sebuah organisasi nirlaba internasional yang didedikasikan untuk studi arkeologi dan bidang-bidang terkait lainnya di wilayah Indo-Pasifik.
Penuli: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Donnie
