Setiap tiga jam, terdapat satu orang ibu meninggal. Saat ini, angka kematian ibu tercatat sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini berhasil diturunkan dibandingkan dengan tahun 2002-2003 yang berjumlah 307 orang. Target pemerintah, pada 2015 diharapkan angka kematian ibu akan turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.
“Angka kematian ibu kini sebanyak 10.260 setiap tahun atau 855 orang setiap bulan atau setiap tiga jam terdapat satu kematian,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. dr. Sugiri Syarief, M.P.A., dalam Seminar Nasional Health Promotion and Prevention Based On Clinical Evidence, yang digelar Kamis (4/3), di Auditorium Fakultas Kedokteran UGM.
Disampaikan Sugiri Syarief, penyebab langsung kematian ibu yang terbanyak adalah pendarahan (30%), eklampsi (25%), infeksi (12%), komplikasi masa nifas (9%), abortus dan partus lama (masing-masing 5%), dan penyebab lain sebesar 12%.
Angka kematian ibu selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditetapkan MDGs, yakni sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk itu, perlu kerja keras semua instansi pemerintah dan swasta bersama masyarakat. “Banyak pihak pesimis jika Indonesia dapat mencapai sasaran MDGs. Saya yakin target MDGs Indonesia untuk menurun angka kematian ibu bisa tercapai dengan syarat mengikusertakan masyarakat untuk mendorong angka kematian ibu menjadi turun,” katanya.
Sementara itu, angka kematian bayi pada 5 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan mengalami penurunan yang lambat. Kini, angka kematian bayi sejumlah 34 per 1000 kelahiran hidup. Menurut Sugiri Sarief, keberhasilan imunisasi dan penanganan penyakit infeksi sangat besar kontribusinya dalam penurunan angka kematian bayi.
Sugiri Syarief menjelaskan pencegahan kematian ibu dan anak dapat dihindari dengan pengaturan jarak kelahiran optimal sehingga dapat mengurangi risiko kematian. Di samping pengaturan jarak kelahiran (spacing), Keluarga Berencana (KB) juga dilaksanakan untuk memenuhi keinginan seseorang untuk tidak lagi menambah anak. Untuk itu, perlu dilakukan sosialisasi tentang KB.
Terkait dengan program KB, Sugiri Syarief menyebutkan jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah sebesar 227 juta jiwa. Menurutnya, jika program KB berhasil, jumlah penduduk akan tumbuh menjadi 237,8 juta jiwa pada tahun 2015. Namun, jika program KB tidak berhasil, jumlah penduduk akan tumbuh 264,4 juta. Untuk menyukseskan program KB, kata Syarief, BKKBN memprioritaskan pada tahun 2010-2014 akan disediakan 23.500 klinik KB. Dengan keberhasilan program KB, dana negara dapat dihemat sebesar 92 juta dolar.
“Saya selalu menyosialiasikan ini di tingkat pengambil kebijakan. Tidak mudah meyakinkan mereka karena masih ada yang berpikir jika penduduk besar akan terhindar dari krisis ekonomi, seperti yang dialami China dan India. Jadi, mereka menganggap program KB tidak ada gunanya,” katanya.
Sementara itu, Direktur Bina Kesehatan Komunitas, Departemen Kesehatan RI, dr. R. Bambang Sardjono, M.P.H., mengemukakan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mengalami peningkatan capaian. Melalui program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tingkat rumah tangga, terjadi peningkatan 27 persen pada tahun 2005. Kemudian, jumlah tersebut meningkat lagi menjadi 48,66 persen di tahun 2008 dan menjadi 60 persen pada 2009. Sementara untuk ‘Desa Siaga’, sampai dengan tahun 2009 sudah terbentuk di 47.111 desa atau mencakup separuh lebih dari 70.000 desa. “Hal ini membuktikan bahwa masyarakat turut berperan serta dalam mewujudkan kesehatan yang menyeluruh,” tambahnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)
