Dua mahasiswa UGM, Muhammad Nasih dan Fakhrudin Al Rozi, berhasil meraih juara I nasional dalam lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia. Dalam lomba yang digelar di UGM pada 22 Februari lalu, mereka sukses menjadi jawara dengan mengajukan karya tulis berjudul ‘Flakes’ Berbasis Mengolah Uwi (Dioscorea alata LINN) dan Mikroalga Spirulina Platensis sebagai Produk Pangan Fungsional Kaya Antioksidan bagi Penderita Diabetes Mellitus. Kedua mahasiswa Fakultas Pertanian UGM tersebut sukses menyisihkan 40 peserta dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Rozi menyebutkan uwi merupakan salah satu bahan pangan lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan makanan yang aman untuk dikonsumsi penderita diabetes mellitus. Uwi memiliki indeks glisemik yang cukup rendah dibandingkan dengan bahan pangan lokal lainnya. “Makanan dengan kandungan glisemik yang rendah seperti uwi ini sangat berperan dalam pengendalian gula dalam darah,” jelasnya kepada wartawan di Ruang Fortakgama UGM, Jumat (5/3).
Dikatakan Rozi, uwi yang direbus sebenarnya memiliki indeks glisemik yang cukup tinggi (75). Namun, dengan diolah melalui pemanggangan dalam suhu 180 derajat celcius selama 20 menit, indeks glisemik yang terkandung di dalamnya dapat ditekan.
Flakes uwi yang ditawarkan ini memanfaatkan uwi sebagai bahan baku utama (75%) dan jagung (12,5%) serta tepung tapioka (12,5%). Selain itu, juga dilakukan penambahan berupa mikroalga spirulina altensis (10% dari keseluruhan adonan). Spirulina paltensis diketahui mengandung zat vikosianin (20%) yang mampu meningkatkan kekebalan tubuh, sebagai antioksidan, dan anti peradangan.
Ditambahkan oleh Muhammad Nasih, flakes berbasis uwi ini sangat layak dikomersialkan karena memiliki berbagai keunggulan kompetitif, yakni mempunyai sifat fungsional, alami, dan menggunakan bahan pangan lokal. Lebih lanjut dikatakannya bahwa selama ini uwi memiliki daya jual yang rendah di pasaran, tetapi melalui pengolahan flakes, nilai ekonomi uwi dapat meningkat. “Dari hasil analisa wirausaha yang telah dilakukan dengan biaya produksi Rp8.143,00, biaya overhead per tahun 3 juta rupiah, investasi awal Rp1.352.500,00. Dengan memasang harga jual Rp18000,00 tiap 250 gramnya, maka titik impas akan dicapai pada produksi ke-132 kemasan,” jelasnya. (Humas UGM/Ika)
