Bagi daerah-daerah yang akan dipetakan, dibutuhkan metode analisis kimia baru untuk mengetahui komposisi kimia logam-logam yang memiliki nilai ekonomis. Metode yang dimaksud berupa metode yang mampu memisahkan suatu logam tertentu dalam suatu campuran logam-logam lain. Metode analisis kimia baru tersebut dapat diperoleh dengan cara mengembangkan dan menginovasi teknik-teknik analisis kimia yang sudah ada menjadi metode analisis kimia yang lebih selektif, sensitif, dan teknik operasionalnya tidak terlalu rumit.
Demikian dikatakan Prof. Dr. Bambang Rusdiarso, D.E.A. saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM, Rabu (17/3). Dosen Jurusan Kimia FMIPA UGM ini menyampaikan pidato berjudul Eksplorasi Bahan Bumi Indonesia: Peran Kimia Analisis Anorganik.
“Dalam ilmu kimia, khususnya bidang kimia analisis anorganik, baik analisis mikro maupun makro, masalah serius yang harus diselesaikan adalah bagaimana memperoleh data komposisi kimia bahan bumi yang valid terkait selektivitas dan sensivitas. Bidang mikroanalisis biasanya berorientasi pada metode analisis kimia baru, sedangkan bidang makroanalisis lebih condong pada proses pemisahan dan pemurnian,” ujarnya di Balai Senat UGM.
Menurut Bambang Rusdiarso, teknik analisis kimia baru yang digunakan harus mampu mengisolasi suatu logam dari unsur-unsur logam lain yang tercampur. Hal ini disebabkan banyak bahan bumi hasil eksplorasi berupa konsentrat, di dalamnya masih bercampur beberapa logam dengan konsentrasi yang berbeda. Sebagai contoh, komoditi hasil pertambangan di Indonesia, yakni bijih tembaga dan konsentratnya, bijih nikel dan konsentratnya.
Dikatakannya bahwa dalam pelaksanaan pemetaan komposisi kimia logam dalam bahan bumi, kegiatan analisis kimia bertujuan untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh suatu daerah. Daerah yang dipelajari biasanya merupakan daerah yang menarik perhatian dilihat dari sudut pertambangan, sedangkan bahan bumi yang dianalisis dapat berupa batuan, pasir, tanah atau air, bergantung pada tujuannya.
Dari penelitian komposisi kimia pasir besi yang dilakukannya di pantai selatan Kulon Progo, DIY, dengan mengambil sampel pasir besi di 20 titik/lokasi sepanjang 20 km dari ujung timur (Sungai Progo) hingga barat (Sungai Bogowonto) dijumpai kandungan besi dalam setiap sampel di sepanjang 20 km berbeda, tetapi memiliki rata-rata cukup tinggi. Terdapat korelasi antara warna pasir besi dan konsentrasi besi bahwa semakin hitam, semakin tinggi kandungan besinya. Ini karena pasir hitam lebih banyak mengandung magnetit dibandingkan dengan pasir yang kurang hitam yang lebih banyak mengandung kwarsa. “Dari penelitian ini diketahui kualitas pasir besi di pantai selatan sangat baik karena mengandung kadar TiO2 rendah sehingga wajar dan dapat dipahami bila di daerah tersebut akan dieksplorasi. Walaupun konsentrasi rata-ratanya kecil, di beberapa lokasi disinyalir memiliki kandungan titanium cukup signifikan. Artinya, dari analisis kimia pasir besi pantai selatan dapat dihasilkan titanium yang memiliki ekonomi tinggi, selain logam besi dan vanadium yang sudah diketahui umum selama ini,” jelas suami Isnuari, S.E. dan ayah tiga anak ini. (Humas UGM/ Agung)
