Kadar asam lemak volatil dalam sekum sangat dipengaruhi oleh tipe dan tingkat serat kasar (SK) dalam ransum. Pada broiler yang diberi ransum kontrol dengan penambahan serat bit gula (beetfiber) dengan level 46 g/kg, ayam berumur 22 hari menunjukkan kadar trigliserida plasma menurun. Hal ini menunjukkan terdapat proses adaptasi gastrointestinal terhadap tingginya serat kasar dalam pakan. Oleh karena itu, pada hari ke-25 terjadi peningkatan konsentrasi short chain fatty acid (SCFA) sekum saat terjadi fermentasi komponen pakan.
"Oleh karena itu, menarik untuk melakukan penelitian tentang peranan serat kasar (SK) tinggi dalam sistem pencernaan fermentatif itik," kata Ir. Rudi Sutrisna, M.S. di Auditorium Fakultas Peternakan UGM, Jumat (29/1).
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Lampung ini mengatakan hal tersebut dalam Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Peternakan UGM. Promovendus mempertahankan disertasi "Peranan Ransum Berserat Kasar Tinggi dalam Sistem Pencernaan Fermentatif Itik". Bertindak selaku promotor, Prof. Dr. Ir. Tri Yuwanta, S.U., D.E.A., dan ko-promotor, Prof. Dr. Ir. Zuprizal, D.E.A. serta Prof. Dr. Ir. Endang Sutrisnawati Rahayu.
Rudy menjelaskan bakteri pendegradasi serat kasar mampu hidup di saluran pencernaan dan efektif mendegradasi SK oleh adanya aktivitas enzim selulase yang dihasilkan. Pada umumnya, bakteri selulotik yang hidup dalam saluran pencernaan adalah bakteri alami dari luar tubuh yang masuk dalam tubuh melalui makanan dan air minum serta mampu berinteraksi pada kondisi fisiologis dalam proventrikulus, empedal, intestinum, sekum, dan kolon. Secara khusus, proses degradasi serat kasar di dalam saluran pencernaan unggas ini diyakini berlangsung di bagian sekum dan kolon. "Sehingga itik memiliki kemampuan menggunakan serat kasar lebih tinggi daripada ayam. Bagaimana pola pencernaan serat kasar yang terjadi dalam saluran pencernaan itik belum banyak dilaporkan," jelas pria kelahiran Klaten, 6 Mei 1958 ini.
Pengamatan terhadap empat genotipe itik, yaitu Mallard, Peking, Muscovy, dan hasil persilangan Muscovy x Peking memperlihatkan pertumbuhan organ itik persilangan lebih cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan bobot badannya, kecuali organ esofagus karena pertumbuhannya mengikuti pertumbuhan bobot badannya. Bobot hati dan ventrikulus nyata dipengaruhi kandungan serat kasar dalam ransum. Semakin tinggi serat kasar dalam ransum, maka bobot ventrikulus itik Tegal cenderung meningkat, sedangkan panjang usus dan proventrikulus tidak berbeda nyata dengan besaran ransum berserat kasar 5, 9, 13 atau 17%.
Hasil penelitian Rudy menunjukkan penggunaan ransum berserat kasar 15% menghasilkan rata-rata bobot badan itik jantan umur sepuluh minggu mencapai 1.030,00 g/ekor. Sistem pencernaan fermentatif dalam saluran pencernaan itik jantan yang diberi ransum berserat kasar 15% dari isi ilium, sekum, kolon terdeteksi VFA dengan konsentrasi 295,80 umol/ml berpotensi sebagai sumber energi. "Sedangkan itik jantan dengan toleran terhadap ransum berserat kasar hingga 15% menghasilkan performan yang optimal dan serat kasar berfungsi sebagai substrat bakteri dalam sistem pencernaan fermentatif dan populasi bakteri selulotik terbanyak 5,01 Log10 CFU/g di sekum mampu mendegradasi serat kasar," tambahnya. (Humas UGM/ Agung)
