Sebanyak 1.900 peserta dari 52 kelompok masyarakat meramaikan kegiatan kirab budaya Nitilaku yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-76 UGM, Minggu (14/12). Dihadiri oleh kelompok kirab perwakilan Fakultas dan Sekolah di UGM, Kagama dari berbagai daerah, serta Komunitas hobi di lingkungan UGM. Perjalanan kirab dilaksanakan dari gerbang Boulevard UGM hingga ke halaman balairung.
Pelepasan peserta nitilaku dilakukan oleh Ketua panitia Dies Natalis UGM ke 76,Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., bersama dengan salah satu perwakilan Kagama. Mengangkat tema ‘Busana Wastra Nusantara’, para kelompok kirab akan menampilkan kekayaan dan keragaman kain tradisional nusantara sebagai simbol identitas budaya dan kebanggaan daerah masing-masing.
Perjalanan kirab budaya Nitilaku menurut Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menjadi tradisi untuk mengenang sejarah pendirian kampus UGM dari Keraton Yogyakarta hingga berpindah ke kawasan Bulaksumur. Menurutnya masih terjalinnya kelekatan yang harus dijaga dan menjadi simbol jalinan sinergis antara keraton, kampus, dan masyarakat.
Pada kesempatan itu, tak lupa Rektor juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi mendalam terhadap partisipasi Kagama dari Sabang sampai Merauke. Menurutnya, partisipasi ini menjadi bukti bahwa kedekatan antar anggota Kagama dengan Universitas yang masih terjalin erat hingga saat ini. “Terima kasih atas seluruh partisipasi dari Kagama untuk bisa menyelenggarakan nitilaku tahunan di Dies Natalis ke-76 UGM, semoga kegiatan Nitilaku mampu memberikan manfaat dan memperkuat kontribusi kita semua, Universitas dan Kagama,” kata Rektor usai menyambut kedatangan peserta kirab di halaman Balairung.
Ketua Umum Pengurus Pusat Kagama, Basuki Hadimuljono mengungkapkan rasa bangga terhadap UGM karena telah memiliki kredibilitas yang diakui secara nasional maupun internasional. Oleh karena itu, Ia mengajak para Kagama untuk bersyukur karena pernah memiliki kesempatan belajar di UGM.
Basuki juga mengingatkan bahwa acara Nitilaku yang hadir setiap tahunnya memiliki tiga makna. Pertama, mengingat bahwa UGM merupakan akar yang lahir dari perjuangan bangsa karena menjadi universitas tertua. Kedua, menghargai setiap proses perjuangan ketika masih menempuh pendidikan di UGM, bukan hanya berfokus pada hasil. Ketiga, diharapkan terus membawa obor perjuangan bangsa melalui pendidikan. “Nitilaku yang dilakukan setiap tahun mempunyai makna bagi Kagama untuk mengingat akar kita, mengingat perjalanan hidup, dan terus membawa obor perjuangan bangsa menuju Indonesia yang lebih baik kedepan,” ucap Basuki.
Pada acara Nitilaku 2025 juga diresmikannya Tari Guyub Nusantara oleh Rektor UGM sebagai simbol baru kesenian di UGM yang disimbolisasikan dengan pengetukan keprak. Tari Guyub Nusantara diprakarsai oleh Kagama Bidang Seni dan Olahraga, yang lahir dari denyut nusantara dan menjadi salam Indonesia. Anon Suneko menjadi penata musik dan tari dalam pembuatan Tari Guyub Nusantara.
Angklung Gita Danisa Gama – Dharma Wanita persatuan UGM juga turut menampilkan pertunjukan empat lagu yang ditampilkan oleh 270 peserta yang mayoritas perempuan. Acara ini ditutup dengan penampilan NdarBoy Genk dengan membawakan beberapa lagu untuk menghibur para peserta kirab budaya.
Penulis : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
