• Berita
  • Arsip Berita
  • Simaster
  • Webmail
  • Direktori
  • Kabar UGM
  • Suara Bulaksumur
  •  Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Pendidikan
    • Promosi Doktor
    • Pengukuhan Guru Besar
    • Wisuda
  • Prestasi
  • Penelitian dan Inovasi
    • Penelitian
    • PKM
    • Inovasi Teknologi
  • Seputar Kampus
    • Dies Natalis
    • Kerjasama
    • Kegiatan
    • Pengabdian
    • Kabar Fakultas
    • Kuliah Kerja Nyata
  • Liputan
  • Cek Fakta
  • Beranda
  • Liputan/Berita
  • Kisah Penyintas Bom Bali dan Proses Panjang Memaafkan Pelaku Terorisme

Kisah Penyintas Bom Bali dan Proses Panjang Memaafkan Pelaku Terorisme

  • 04 Desember 2019, 16:03 WIB
  • Oleh: Gloria
  • 4494
Kisah Penyintas Bom Bali dan Proses Panjang Memaafkan Pelaku Terorisme

Tujuh belas tahun yang lalu, Chusnul Chotimah, seorang ibu dari 3 orang anak, menjadi salah satu korban dari serangan bom yang merenggut nyawa lebih dari 200 orang dan melukai ratusan orang lainnya.

Akibat peristiwa tersebut, ia mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya dengan rasa sakit yang tak tergambarkan. Tidak hanya itu, ia juga harus kehilangan usaha kecil yang ia bangun bersama suaminya dan kembali ke kampung halamannya di Sidoarjo untuk mengadu nasib dalam kondisi fisik yang belum begitu pulih serta mental yang masih tertekan.

“Bom Bali merubah hidup saya secara drastis. Sebelumnya saya tidak memiliki masalah secara ekonomi, tapi setelah itu saya tidak punya apa-apa lagi,” kata Chusnul.

Jalannya untuk bangkit dari keterpurukan ternyata tidak mudah. Demi menghidupi keluarganya, ia dan suami harus membanting tulang bekerja secara serabutan. Selama bertahun-tahun ia bertahan dengan pekerjaan sebagai penjual sayur keliling, sementara suaminya menjadi kuli pengangkut batu.

“Saya harus bangun dari jam 1 pagi, jualan sampai jam 11 siang untuk bisa menghidupi anak-anak. Merekalah yang membuat saya bertahan. Jika tidak ada anak-anak, saya pikir saya lebih baik mati saja,” ucapnya.

Di tengah tekanan psikologis dan kesulitan ekonomi, ia mengaku pernah mencoba bunuh diri hingga empat kali. Ia juga merasakan amarah yang begitu besar terhadap para teroris, hingga ia dan suaminya pernah memiliki rencana untuk membakar rumah salah satu teroris, namun akhirnya niat itu ia urungkan pula.

“Sakit hati saya dengan para teroris itu. Waktu tahu bahwa mereka berasal dari Lamongan, saya dan suami mau naik sepeda ke rumah Ali Imron dan membakar rumahnya, supaya mereka juga merasakan rasa sakit yang saya alami,” ujarnya sambil terisak.

Cobaan hidup yang ia alami mencapai puncaknya ketika sang suami tergiur dengan tawaran untuk menjadi kurir narkoba demi mendapatkan uang untuk menyekolahkan anaknya, yang berakhir dengan sang suami ditembak mati oleh petugas BNN. Kembali ia menyalahkan para teroris yang membuat mereka menghadapi kesulitan sejak awal.

Setelah melalui perjalanan yang tidak mudah, ketika ia mulai mendapatkan bantuan dari BNPT pada tahun 2017 yang salah satunya berupa pendampingan psikologis, ia mengaku mulai bisa memaafkan para pelaku pengeboman.

“Akhirnya bisa memaafkan, walau dengan waktu yang begitu panjang. Saya berpikir, kalau saya tidak memaafkan pun tidak akan ada yang berubah, wajah saya tidak mungkin kembali lagi. Maka saya mulai memaafkan, agar saya juga bisa melanjutkan hidup saya,” ungkap Chusnul.

Kisah ini ia sampaikan ketika ia dihadirkan sebagai salah satu pembicara dalam Kuliah Umum bertajuk Pencegahan Radikalisme dan Penguatan Identitas Bangsa di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UGM.

Selain Chusnul, dalam kuliah umum ini turut dihadirkan mantan teroris, Ali Fauzi Manzi. Ia menjadi salah satu orang yang berperan dalam perkembangan gerakan radikalisme di tahun 1990-an. Sekembalinya dari Mindanau untuk belajar membuat bom dari Umar Patek, ia didapuk sebagai kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah. Kemudian, bersama sang kakak Amrozi, ia terlibat aksi bom Bali I. Dirinya juga melatih milisi Ambon dan Poso, hingga kemudian tertangkap pada 2004 di Filipina.

“Saya memohon maaf atas keterlibatan saya dan kakak-kakak saya dalam teror di Indonesia,” ucapnya mengawali pemaparan.

Ia memaparkan bahwa akar terorisme tidaklah tunggal, melainkan saling berkaitan. Karena itu, cara penanganannya juga tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal.

Ia mengibaratkan masalah terorisme sebagai komplikasi penyakit yang memerlukan penanganan dari dokter spesialis dan kampanye pencegahan dari orang yang pernah mengalami penyakit tersebut. Sebagai seorang mantan teroris, ia kini berjuang untuk menghentikan penyebaran pemahaman destruktif yang ingin memporak-porandakan kehidupan bernegara.

“Saya bukanlah seorang dokter spesialis, namun saya pernah pengalami penyakit seperti itu bertahun-tahun, sekarang saya bisa bangkit sembuh dan menyembuhkan,” kata Ali. (Humas UGM/Gloria)

Berita Terkait

  • Menyelisik Resiliensi Keluarga Penyintas Konflik di Aceh

    Monday,23 January 2017 - 16:19
  • Perlu Sinergi Berbagai Pihak dalam Penanganan Terorisme di Indonesia

    Friday,29 June 2018 - 15:30
  • Mantan Hakim Agung Djoko Sarwoko Raih Doktor di UGM

    Tuesday,25 April 2017 - 16:26
  • Pengamat UGM: Proses Sosial yang Melatari Aksi Teror Perlu Dicermati

    Monday,09 January 2012 - 15:56
  • Mobilisasi Ideologi Ekstrem Tumbuhkan Generasi Teroris

    Thursday,15 December 2011 - 18:04

Rilis Berita

  • Cegah Diabetes Pada Anak Dengan Membatasi Makanan Manis dan Lakukan Aktivitas Fisik 06 February 2023
    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat kasus diabetes pada anak meningkat signifikan pada t
    Ika
  • Tim Peneliti UGM Lakukan Riset Inverter Statik Kereta Api 06 February 2023
    Tim peneliti dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Univers
    Gusti
  • Mahasiswa KKN UGM Kembangkan Wisata Panas Bumi Kawah Sikidang 06 February 2023
    Dataran Tinggi Dieng merupakan kompleks gunung api. Selain menjadi sumber energi panas bumi denga
    Gusti
  • Lebih dari 3 Ribu Mahasiswa UGM Terima Insentif Prestasi Sebesar 2 Miliar di 2022 06 February 2023
    UGM berkomitmen kuat untuk terus mendukung dan memfasilitasi para mahasiswanya dalam pengembangan
    Satria
  • UGM Terlibat Aktif Dalam Percepatan Penurunan Stunting di Jawa Tengah 03 February 2023
    Stunting masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia. Data Asian Development Bank mencatat ang
    Ika

Agenda

  • 07Feb Dies Natalis Fakultas Hukum UGM...
  • 02Jul Dies Natalis MM UGM...
Universitas Gadjah Mada
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Bulaksumur Yogyakarta 55281
   info@ugm.ac.id
   +62 (274) 6492599
   +62 (274) 565223
   +62 811 2869 988

Kerja Sama

  • Kerja Sama Dalam Negeri
  • Alumni
  • Urusan Internasional

TENTANG UGM

  • Sambutan Rektor
  • Sejarah
  • Visi dan Misi
  • Pimpinan Universitas
  • Manajemen

MENGUNJUNGI UGM

  • Peta Kampus
  • Agenda

PENDAFTARAN

  • Sarjana
  • Pascasarjana
  • Diploma
  • Profesi
  • Internasional

© 2023 Universitas Gadjah Mada

Aturan PenggunaanKontakPanduan Identitas Visual