Persoalan pangan bukan sekadar isu sektoral, melainkan persoalan bagi semua orang yang hidup di muka bumi. Assistant FAO Representative di FAO Indonesia, yang juga merupakan alumni Fakultas Pertanian UGM angkatan 1986, Dr. Ir. Ageng Setiawan Herianto, menyebutkan ada 637 orang di dunia setiap tahunnya kekurangan pangan.“Ada 637 juta orang di dunia yang mengalami kekurangan pangan setiap tahunnya, terutama di kawasan Asia Pasifik. Dan ini tidak bisa dibebankan hanya kepada lulusan pertanian,” tegas Ageng dalam pembekalan pada 1353 calon wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan Universitas Gadjah Mada, Selasa (24/2) di Grha Sabha Pramana.
Menurut Ageng rantai pasok sistem pangan sangat berpengaruh terhadap distribusi pangan terhadap kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu saat ini terjadi pergeseran besar dalam isu ketahanan pangan global. Jika dahulu fokus sistem pangan adalah bagaimana cara untuk “feed the world”, kini tujuannya telah berkembang menjadi “nourish the world”. “Tidak cukup hanya memberikan pangan agar tidak kelaparan, tetapi bagaimana caranya menyediakan pangan yang sehat dan aksesibel bagi seluruh lapisan,” ujarnya.
Selain itu, ia menambahkan tujuan sistem pangan menuju healthy diet, mulai dari produksi sampai pasar. Artinya, sistem pangan mencakup seluruh rantai nilai, dari proses produksi, distribusi, hingga konsumsi yang sehat dan berkelanjutan. “Perubahan ini membuka ruang kolaborasi multidisiplin yang sangat luas,” ungkapnya.
Ageng menyebut bahwa agricultural digitalization menjadi salah satu pintu masuk bagi generasi muda dari berbagai disiplin ilmu. Misalnya, lulusan teknik dapat berkontribusi dalam efisiensi rantai pasok, lulusan ekonomi dan bisnis dapat memperkuat model pembiayaan dan pasar, sementara lulusan hukum berperan dalam regulasi dan kebijakan pangan, serta berbagai bidang yang pasti akan berkaitan.
Menjawab pertanyaan calon wisudawan tentang kompetensi yang dibutuhkan di dunia internasional, Ageng menyebutkan bahwa tiga pilar utama atau karakter yang wajib dimiliki oleh sumber daya manusia yang unggul. “Pertama, selalu berpikir inovatif karena gagasan adalah hal yang penting. Kedua, memahami kebijakan agar dapat beradaptasi. Ketiga, membangun jejaring yang luas. Jangan lupa untuk senantiasa menunjukkan ketertarikan dan komitmen sehingga orang akan percaya dengan integritas kita,” paparnya.
Tidak lupa, ia juga mengingatkan bahwa kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa asing menjadi kunci agar ide-ide dapat tersampaikan dan diterima di kancah global. “Kecerdasan tanpa kemampuan komunikasi justru akan sulit membawa dampak positif yang luas,” ujarnya.
Ageng menutup pembekalan dengan mengingatkan bahwa gelar bukanlah akhir, melainkan awal tanggung jawab sosial yang lebih besar. Ketahanan pangan adalah agenda global yang memerlukan kontribusi lintas disiplin ilmu. Dari produksi hingga pasar, dari kebijakan hingga digitalisasi, setiap lulusan memiliki ruang untuk terlibat. Dengan inovasi, komitmen, dan jejaring yang kuat, lulusan UGM diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi menuju sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan.
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
