Pasar keuangan Indonesia terus mengalami gejolak dengan ditandai nilai tukar rupiah yang kembali melemah dan menembus di angka Rp18.000 per satu dollar AS. Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tercatat mengalami pelemahan di antara pasar saham global lainnya. Secara tahun kalender berjalan, penurunan IHSG mencapai 36,05 persen.
Ekonom dari Sekolah Vokasi UGM, Yudistira Hendra Permana, S.E., M.Sc., Ph.D., menuturkan kondisi makro ekonomi Indonesia saat ini tengah berada di tahap yang sangat serius dan mengkhawatirkan. Kondisi ini tidak akan menguntungkan bagi pemerintah maupun risiko ekonomi bagi masyarakat. “Pemerintah tidak bisa melawan pasar dengan mengatakan kondisi ekonomi sekarang ini masih baik-baik saja secara umum,” jelasnya, Kamis (25/6).
Yudhistira mengingatkan agar pemerintah tidak asal mengeluarkan pernyataan dan yang terkadang tidak konsisten dalam mengeluarkan kebijakan sehingga berdampak pada penurunan kepercayaan masyarakat, khususnya investor. “Investor kebingungan dalam melihat ekonomi Indonesia, di mana selalu diliputi dengan rasa ketidakpastian,” ungkapnya.
Selain itu, ketidakkonsistenan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan dapat ditinjau dari revisi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang amat terlalu terburu- buru dan terkesan dipaksakan. Ia menyoroti terbitnya UU P2SK yang baru, padahal undang-undang tersebut baru saja terbit pada tahun 2023. “Revisi undang-undang dalam waktu singkat, dinilai menunjukkan ketidakjelasan arah pemerintah,” tandasnya.
Selain berdampak terhadap investor, kondisi ekonomi sekarang ini turut membuat tekanan bagi masyarakat menengah kebawah. Meskipun hal ini tidak terasa langsung dampaknya, tetapi dalam jangka waktu 6 bulan hingga satu tahun ke depan akan terasa dengan naiknya inflasi yang merusak daya beli masyarakat akibat faktor kurs rupiah.
Selain itu, jika kondisi ekonomi belum juga membaik maka investor juga tidak mendapatkan keuntungan (return) di pasar keuangan, sehingga mereka juga tidak akan memindahkan dananya untuk membangun bisnis di sektor riil, akibatnya sektor riil tidak akan tumbuh signifikan. “Risikonya kepercayaan investor bisa turun,” tegasnya.
Bagi Yudhistira, permasalahan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini yang dipicu penurunan nilai tukar rupiah dan anjloknya IHSG ini dapat diselesaikan melalui konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah. Untuk jangka pendek, ia menyarankan pemerintah harus konsisten dan tidak bersikap tergopoh-gopoh dalam mengeluarkan kebijakan setiap kali ada isu yang muncul. “Ketidakkonsistenan hanya akan membuat pengusaha enggan berinvestasi kondisi ini tidak menguntungkan bagi pemerintah dan masyarakat,” jelasnya.
Penulis : Fatihah Salwa Rasyid
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
