Cynthia Fransisca (22) tak pernah menyangka akan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik lulusan program sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya di prodi Akuntansi dalam waktu 3 tahun 4 bulan 12 hari dengan raihan IPK 3,97, ia lulus dengan menyandang predikat cumlaude. Mendapat predikat lulusan terbaik FEB UGM pada Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 itu, tentu menjadi kebanggaan bagi gadis yang lahir dan tumbuh di Pulau Bangka.
Hidup jauh dari pusat pendidikan, Cynthia awalnya mengaku tak pernah berani bermimpi kuliah di UGM. Apalagi mengingat latar belakang kedua orang tuanya yang hanya berijazah Sekolah Dasar. Semua itu membuatnya sempat ragu, namun seiring waktu ia semakin paham bahwa privilese tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan. “Privilege tidak datang kepada setiap orang dengan cara yang sama dan dalam waktu yang sama. Tidak selalu dalam bentuk kemudahan, tetapi seringkali dalam bentuk kesempatan, kesempatan untuk belajar, untuk mencoba, dan untuk bertahan,” ujarnya di Kampus UGM, Jum’at (27/2).
Bagi Cynthia, capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan buah dari tekad, kerja keras dan ketekunan. Meski berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat memasuki awal belajar di FEB UGM, ia meyakini bahwa setiap mahasiswa memulai dari garis yang sama. Iapun menanamkan dalam diri untuk tidak merasa minder. Bahkan diawal ia merasa cukup percaya diri, khususnya pada mata kuliah pengantar akuntansi pasalnya ia pernah mendapat bekal saat duduk di bangku SMK . Hanya saja untuk beberapa mata kuliah seperti matematika ekonomi, ia mengaku harus belajar lebih keras untuk mengejar ketertinggalan.
“Di satu sisi saya sempat merasa unggul di beberapa materi. Tapi di sisi lain, saya juga pernah merasa paling tidak paham. Dari situ saya belajar bahwa di perkuliahan semua akan kembali ke nol, yang membedakan hanya kemauan untuk terus belajar,” terangnya.
Untung ada kebisaan darinya sehingga selain fokus akademik, iapun sempat membagi waktu untuk aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai lomba. Ia sempat terlibat dalam Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA) serta kepanitiaan di program studinya. Bahkan di semester kedua, ia terpilih sebagai Awardee Beasiswa Tanoto Teladan 2023–2026 dari Tanoto Foundation. Melalui Tanoto Scholar Association (TSA) UGM, iapun kemudian dipercaya menjadi staf hingga manajer divisi networking yaitu memperluas jejaring sekaligus melatih kemampuan koordinasi tim.
Memasuki perkuliahan di semester lima, Cynthia mulai fokus mengikuti berbagai kompetisi. Bersama tim, ia berhasil meraih Juara 3 pada ajang Udayana International Accounting Competition 2024, dan capaian ini memicunya terus bersemangat mencoba berbagai tantangan lomba lainnya. Pernah ia meraih Gold Medal dalam International Youth Business Competition 2024 yang diadakan oleh Universitas Diponegoro, dan juara 2 pada Decarbonizing Indonesia Business Case Competition 2025. Tak terhitung berapa kompetisi ia lalui hanya mencapai semifinal karena terpaksa harus mengundurkan diri karena terbentur jadwal akademik. Meski begitu ia tetap menempatkan proses kompetisi jauh lebih berharga dibanding hasil akhir. “Tidak semua lomba harus berakhir dengan juara, yang penting kita belajar berpikir kritis, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan masalah secara terstruktur,” ucapnya.
Cynthia pun mengakui perjalanan kuliahnya tidak selalu berjalan mulus. Hampir setiap awal semester ia merasa kewalahan menghadapi perubahan jadwal dan pola belajar baru. Beberapa kali, ia mengaku mengalami burnout, dan dari situ ia belajar mengenali batas diri, menyusun jadwal lebih terstruktur dan menetapkan prioritas. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya tentang makna keberhasilan.
Perjalanannya belajar di FEB UGM, dinilainya membentuk resiliensi, growth mindset, serta mampu mengambil keputusan dengan menempatkan prioritas secara matang. Iapun mengaku merasakan nilai-nilai integritas dan disiplin selama menjalani perkuliahan. Lingkungan kampus yang suportif, baginya turut memperkuat jejaring dan kepercayaan diri untuk terus berkembang. Menjelang kelulusan, Cynthia mengaku telah diterima bekerja di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP), yakni Ernst & Young (EY). Baginya kesempatan mendapatkan pekerjaan itu sebagai pencapaian dari konsistensi dan keberanian mencoba berbagai peluang selama masa studi.“Kita mungkin lulus di hari yang sama, tetapi kita tidak akan berjalan di jalan yang sama. Kesuksesan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang paling setia pada panggilan hidupnya,” imbuhnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum/ Humas FEB UGM
Penulis : Agung Nugroho
Foto : Dok. FEB UGM
