Dunia diprediksi akan menghadapi ancaman krisis ketahanan pangan pada tahun 2050 dimana proyeksi populasi mencapai 9,7 miliar jiwa. Kondisi ini menuntut peningkatan produksi pangan hingga 70 persen tanpa memperluas lahan pertanian demi menjaga keanekaragaman hayati.
Untuk menjawab tantangan tersebut sekaligus merespons perubahan pola diet masyarakat global yang semakin tinggi proteinnya, diperlukan kolaborasi riset internasional yang strategis. Fokus solusi didorong mencakup intensifikasi pertanian berkelanjutan bagi petani kecil, pemanfaatan teknologi cerdas dan rekayasa genetika, penutupan kesenjangan hasil panen, serta penekanan angka kehilangan pangan sebelum dan sesudah panen yang saat ini masih mencapai 50 persen.
Hal itu mengemuka dalam Diskusi Research Talk yang bertajuk “Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Global Partnerships”, sebagai rangkaian dari peluncuran Double Degree Program Master in Agro-Industrial Technology UGM and Master of Agricultural Sciences University of Melbourne pada Rabu (26/8) di Operation Room Lt 2, FTP UGM.
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., mengungkapkan UGM dan Universitas Melbourne sepakat membuka program double degree agar mahasiswa untuk memperoleh pengalaman berkuliah di dua tempat, namun lebih dari itu, program ini mencerminkan komitmen bersama untuk terus mengembangkan talenta yang memiliki wawasan global, memperkuat kolaborasi penelitian, serta menjawab tantangan masa depan di bidang pangan, pertanian, dan keberlanjutan melalui ilmu pengetahuan dan inovasi. “Kolaborasi ini merupakan kesempatan yang sangat berarti untuk mempertemukan kekuatan dan keunggulan yang kita miliki, memperluas wawasan akademik, serta membangun wadah bagi mahasiswa dan akademisi untuk belajar, berkolaborasi, dan berinovasi lintas batas,”katanya.
Sementara Direktur Riset Pascasarjana, School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, Faculty of Science, University of Melbourne, Associate Professor Dorin Gupta, pun turut menyampaikan hal yang selaras. Disebutkan bahwa perguruan tinggi ikut berkontribusi membangun bangsa yang lebih baik ketika kita mampu berkolaborasi dengan melampaui batas-batas negara.
Ia pun menyoroti bagaimana Australia dan Indonesia memiliki sejarah yang panjang dalam membangun komitmen bersama demi masa depan yang lebih baik, dalam konteks ini, untuk mewujudkan masa depan yang aman dan berkelanjutan, di mana setiap orang dapat memperoleh pangan yang cukup. “Kami juga berharap dapat terus mengembangkan sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan di masa depan,” ujarnya.
Dorin Gupta menambahkan pendekatan inovasi yang dirancang langsung bersama petani serta perluasan program kolaborasi akademis, kemitraan lintas negara ini diharapkan mampu menciptakan sistem produksi pertanian yang lebih efisien, tangguh terhadap perubahan iklim, dan memastikan ketersediaan pangan untuk generasi mendatang. “Kolaborasi internasional semacam ini memberikan dampak yang sangat luas. Kita bisa bekerja sama untuk meningkatkan kualitas penyimpanan pascapanen, memastikan keamanan pangan, menciptakan nilai tambah, menjaga kesehatan tanah dan siklus hara (nutrisi), serta menerapkan pengelolaan air yang cerdas,” jelasnya.
Dalam sesi selanjutnya, Dr. Antanas Spokevicius sebagai Direktur Pendidikan Pascasarjana, School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences, University of Melbourne mengatakan saat ini dunia dihadapkan pada tingginya kebutuhan material bangunan berbahan kayu tanpa harus mengorbankan lahan ketahanan pangan atau merusak fungsi hutan alam. Ia mendorong pengembangan hutan tanaman yang sebaiknya diakselerasi melalui pemuliaan molekuler genetik dan kecerdasan buatan (AI). Mengingat pohon memiliki siklus tumbuh dan pemuliaan yang sangat panjang dibandingkan dengan tanaman pangan, teknologi genetika dan model prediktif AI digunakan untuk mengidentifikasi serta menyeleksi sifat fisik kayu unggul, seperti kepadatan dan kecepatan tumbuh, sejak usia dini.
Menurutnya, inovasi ini telah sukses diimplementasikan pada proyek kehutanan yang dikelola masyarakat adat di Kepulauan Tiwi, Australia, di mana pemetaan DNA pada spesies Eucalyptus tropis berhasil mengurai struktur genetik yang kompleks untuk menghasilkan benih unggul dengan pertumbuhan sangat cepat yakni mencapai 2,5 meter dalam beberapa bulan. Terobosan ini tidak hanya mempercepat proses domestikasi pohon sebagai solusi pemenuhan kebutuhan papan yang ramah energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi mandiri bagi masyarakat adat sekaligus menjadi model produksi kayu yang efisien untuk wilayah tropis secara global. “Secara lebih luas, jenis Eucalyptus tropis ini dapat dikembangkan di berbagai wilayah tropis lainnya sebagai tanaman budidaya untuk memenuhi kebutuhan produksi kayu dan bahan bangunan. Hal ini menjadi keberhasilan besar bagi Kehutanan Tiwi, sebuah inisiatif yang dikelola oleh masyarakat adat, karena mampu membuka peluang ekonomi, menyediakan kayu untuk kebutuhan rumah tangga, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk sejahtera di kawasan tropis,” jelasnya.
Sementara Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Logistik dan Rantai Pasok FTP UGM Prof. Kuncoro Harto Widodo menyoroti rantai pasok dan logistik distribusi pangan di Indonesia sebagai negara kepulauan menghadirkan tantangan besar akibat ketimpangan sebaran penduduk dan pusat industri yang masih didominasi oleh Pulau Jawa. Kondisi geografis ini memicu empat masalah utama, yaitu ketidakseimbangan pasokan dan permintaan antarpulau, disparitas volume kargo perdagangan antara wilayah barat dan timur, kendala infrastruktur, serta hambatan birokrasi antarpelaku logistik.
Meskipun demikian, Indonesia mencatat kemajuan signifikan dengan menurunnya rasio biaya logistik nasional terhadap PDB secara drastis dari 24 persen menjadi 14,29 persen pada tahun 2023. Untuk terus menekan inefisiensi dan meningkatkan daya saing global, pemerintah kini memfokuskan perbaikan melalui dua kebijakan strategis, yaitu Cetak Biru Sistem Logistik Nasional (Sislognas) yang berfokus pada penguatan enam pilar utama, termasuk infrastruktur, teknologi informasi, dan sumber daya manusia, serta National Logistic Ecosystem (NLE) yang mengintegrasikan alur dokumen dan pergerakan barang secara digital.
Transformasi ini juga membuka peluang kolaborasi internasional yang menjanjikan, termasuk dengan Australia, khususnya dalam pengembangan teknologi pelacakan dan sistem informasi logistik yang lebih mumpuni. “Peraturan ini bertujuan untuk memperkuat dan memperluas kebijakan sebelumnya dengan menciptakan ekosistem digital terintegrasi. Ekosistem ini dirancang untuk menyelaraskan arus pergerakan barang, dokumen logistik internasional, dan sistem operasional, mulai dari kedatangan awal armada pengangkut hingga tiba di gudang atau pabrik tujuan.,” ujarnya.
Penulis : Leony
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
