Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung pembinaan generasi muda seiring dengan maraknya kenakalan remaja. Hal ini tergambar dengan adanya Instruksi Gubernur DIY Nomor 6512 Tahun 2026 tentang Penanganan Kenakalan Anak Usia Sekolah yang Berujung pada Tindak Pidana di Ruang Publik. Maka, serentak diadakannya Upacara Bendera dan Deklarasi Bersama Warga Sekolah SMA/SMK Se-DIY, Senin (20/7).
Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, berkesempatan menjadi jembatan informasi di SMAN 4 Yogyakarta dengan menjadi inspektur upacara bendera. Ia berkesempatan memaparkan pidato edaran Gubernur DIY kepada peserta upacara di Lapangan Karangwaru.
Arie membuka amanat dengan mengingatkan bahwa DIY dikenal sebagai pusat pendidikan dan budaya alias rumah bagi lahirnya para pemimpin bangsa. Namun, sebutnya, masa ini dihadapkan pada kenyataan adanya kenakalan anak usia sekolah. Ia menyesalkan seperti ada yang membawa senjata tajam ataupun ada yang tubuhnya dirusak oleh pil dan minuman oplosan. “Perubahan itu mestinya terjadi saat seorang anak memilih diam padahal harusnya bicara, saat ia memilih ikut padahal seharusnya menolak,” pungkasnya.
Ia menyebutkan falsafah leluhur “Eling lan Waspada”, mengingatkan seseorang untuk mengetahui siapa diri sesungguhnya, ingat pada orang tua yang menaruh harap, serta waspada karena bahaya hari ini datang dengan wajah yang menyenangkan. Karena itulah, kata Arie, Pemerintah Daerah DIY bersama aparat keamanan, sekolah, perguruan tinggi, dan keluarga bergandengan tangan membangun gerakan bersama melindungi anak-anak. Ia juga meminta inisiatif “Jaga Warga” diperkuat untuk aktif meredam kenakalan anak usia sekolah.
Menurutnya, konsep “Jaga Warga” menjadi salah satu garda sosial terdepan dalam menjaga kampung halaman. Aksi tersebut bisa turut ikut mengawasi anak-anak yang keluyuran di jam rawan, menegur dengan santun, dan melapor bila melihat tanda bahaya. Arie juga menekankan kepada siswa-siswi untuk memperhatikan jam malam. “Mulai malam ini, biasakan berada di rumah pada jam istirahat anak dan simpan baik-baik nomor Call Center 110. Satu panggilan telepon bisa jadi yang menyelamatkan nyawa temanmu sendiri,” sebutnya.
Disebutkan Arie bahwa tidak ada anak yang lahir dengan cita-cita menjadi pelaku kekerasan. Menurutnya, semuanya sering berawal dari hal yang dianggap sepele. Hal ini bisa karena salah memilih teman, mencari pengakuan, atau ingin terlihat berani. Ia menekankan keberanian sejati bukan ketika seseorang mampu melukai orang lain, melainkan ketika ia mampu berkata tidak pada ajakan yang salah, serta berani menjaga diri dan teman.
Lebih lanjut, Arie mengungkapkan generasi muda bukan sekadar siswa sekolah, tetapi calon dokter, guru, teknisi, pengusaha, seniman, anggota aparat, bahkan pemimpin bangsa. Ia menyayangkan jika potensi besar padam hanya karena satu malam yang salah. Maka, Arie mengajak peserta upacara membuat pilihan yang jelas. “Pilih lingkungan pertemanan yang membangun, keberanian melapor ketika melihat kekerasan atau narkoba, pulang tepat waktu dan menghormati orang tua. Menjaga diri sendiri adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bekerja keras membesarkan kalian,” ujarnya.
Tidak lupa, Arie menitipkan pesan kepada orang tua siswa bahwa sekolah adalah rumah kedua, tetapi keluarga tetaplah benteng pertama dan utama. Ia menekankan orang tua untuk mengenali pergaulan putra-putrinya. Menurutnya, walaupun negara hadir untuk melindungi anak-anak, perlindungan tidak boleh dimaknai sebagai pembiaran. Ia menegaskan bahwa pelanggaran hukum tetap akan ditegakkan dengan tegas. “Namun, bagi yang tersesat pintu pembinaan dan pemulihan akan selalu terbuka. Yang kita lawan adalah perilakunya, bukan masa depan anaknya,” sebutnya.
Arie mengajak seluruh siswa SMA/SMK se-DIY menyatakan komitmen. Janji untuk menolak kekerasan, narkoba dan minuman keras, senjata tajam, segala bentuk kenakalan yang merugikan, serta bertekad menjadi generasi yang berprestasi, berkarakter, dan bermartabat. Ia menggarisbawahi masa depan DIY sedang dibangun di ruang-ruang kelas hari ini. “Pulanglah selalu ke rumah yang lampu terasnya menyala menyambut kalian, dan jadilah cahaya itu sendiri bagi orang tua, guru, dan DIY yang kita cintai bersama,” jelasnya.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
