Berdiri di atas lahan seluas 5.886 meter persegi, Fakultas Teknik (FT) UGM memulai pembangunan Wisma Seturan dengan peletakan pondasi pertama yang digelar pada Jumat sore (19/12) lalu di Seturan, Desa Caturtunggal, Sleman. Pembangunan wisma ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sivitas akademika, khususnya dalam menyediakan hunian yang layak dan terjangkau bagi dosen baru.
Selain itu, wisma ini dirancang sebagai kawasan multifungsi, yakni dengan fasilitas ruko yang disewakan dan penyediaan unit bagi mahasiswa asing. Peletakan pondasi ini menjadi tonggak awal optimalisasi aset fakultas melalui kolaborasi bersama alumni.
Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Selo, mengatakan lahan menjadi lokasi pembangunan wisma ini dibeli pada akhir 1970-an menggunakan dana yang dihimpun dari para alumni Teknik UGM. “Uang yang dikumpulkan dari para alumni dibelikan tanah yang waktu itu memang direncanakan untuk fasilitas hunian bagi dosen,” ujarnya.
Hingga kini, di lingkungan sekitar wisma ini masih terdapat beberapa rumah yang masih berdiri meski dibangun sejak tahun 1980-an dan tetap dihuni oleh beberapa dosen.
Menurut Selo, keinginan FT UGM membangun wisma ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan hunian bagi dosen baru. Setiap tahun, Fakultas Teknik menerima sekitar 15 hingga 25 dosen baru, dengan 18 dosen yang diterima pada tahun ini. Meskipun sebagian besar dosen baru tersebut masih lajang, beberapa sudah berkeluarga usai menyelesaikan pendidikan doktoral. “Kalau ada fasilitas rumah yang bisa kita sediakan, itu akan amat membantu sekali,” tegasnya.
Wisma Seturan juga dirancang dengan konsep kawasan yang memberikan manfaat jangka panjang. Area belakang akan difungsikan sebagai hunian, bagian tengah sebagai ruang terbuka, dan bagian depan direncanakan menjadi kawasan komersial berupa ruko. Ruko-ruko tersebut akan disewakan untuk menopang biaya operasional wisma sehingga beban penghuni dapat diminimalisasi. Konsep ini memungkinkan wisma tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga sebagai unit yang mandiri secara finansial.
Selain untuk dosen, kedepannya wisma ini juga direncanakan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa asing. Hal tersebut sejalan dengan upaya internasionalisasi Fakultas Teknik. Selo menyampaikan bahwa pembangunan akan dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan dengan kemampuan pendanaan yang masih mengandalkan dukungan alumni. “Tanah ini dibeli oleh alumni, dan pembangunannya pun akan terus kita upayakan melalui kolaborasi dengan alumni,” ujarnya.
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Salwa
