Universitas Gadjah Mada baru saja mewisuda sebanyak 1.061 lulusan pascasarjana yang terdiri dari 825 lulusan magister, 118 lulusan spesialis, 14 lulusan subspesialis, dan 104 lulusan doktor, serta 13 lulusan periode sebelumnya. Dea Angelia Kamil, merupakan salah satu lulusan doktor dari Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Yang menarik, Dea resmi menyandang gelar doktor di usianya yang terbilang muda, yakni baru menginjak 26 tahun 11 bulan 17 hari. Padahal rerata usia lulusan Program Doktor adalah 40 tahun 5 bulan 15 hari.
Dea bercerita bahwa pencapaian gemilang di usia muda ini berkat persiapan yang matang dan dukungan beasiswa. Menurutnya, mendapatkan predikat sebagai lulusan termuda di jenjang program doktor dikarenakan mengikuti program akselerasi di bangku SMA. Selanjutnya saat mendaftar kuliah program S2, ia berhasil mendapat beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). “Saya dapat menyelesaikan S2 dan S3 kurang lebih sekitar empat tahun,” ungkapnya, Kamis (22/1).
Berbekal ketertarikannya terhadap komputasi semenjak menempuh pendidikan S1, Dea memilih berpindah dari jurusan Matematika ke Ilmu Komputer untuk lebih mendalami bidang Machine Learning dan Artificial Intelligence (AI). “Saya tertarik di bidang machine learning atau AI karena ketika S1 terdapat mata kuliah tersebut. Saya ingin lebih terfokus sehingga mengambil program studi Ilmu Komputer di UGM untuk melanjutkan pendidikan saya,” jelasnya.
Dea mengisahkan, salah satu pengalaman paling berkesan dalam masa studinya mengikuti Program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) bagi mahasiswa PMDSU. Ketika menempuh S3, ia berkesempatan untuk melakukan penelitian di Korea Selatan. “Pengalaman dalam mengikuti PKPI bagi saya sangat mengesankan. Karena waktu itu, saya melakukan penelitian di University of Ulsan dengan topik Intelligent transportation system khususnya di vehicle speed estimation. Jadi saya membuat sistem yang akan berjalan secara otomatis sehingga sangat meminimalkan adanya intervensi secara manual,” paparnya.
Lebih lanjut, bagi mahasiswi asal Lamongan ini, menempuh program doktor dengan memanfaatkan kesempatan PKPI di Korea Selatan bukan sekadar urusan akademik, melainkan ujian ketangguhan. Ia mengakui bahwa ritme kerja yang padat serta cuaca ekstrem menjadi tantangan utama. “Etos kerja yang disiplin dari Senin hingga Jumat. Bahkan Sabtu pun masih diisi dengan seminar dan bimbingan profesor. Tantangan itu kian terasa saat harus beradaptasi dengan musim dingin yang mengejutkan,” kenangnya.
Dea menuturkan bahwa pencapaian akademiknya tak lepas dari dukungan lingkungan yang sangat suportif. Kebahagiaannya pun terasa lengkap karena sang suami, yang juga rekan seperjuangan di program PMDSU turut diwisuda bersamaan dengannya. Selain dukungan keluarga, ia juga menekankan peran penting rekan-rekan satu bimbingan di bawah promotor Prof. Agus Harjoko di Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi (Elins) yang memberikan dukungan signifikan selama proses riset. “Komunitas belajar di sini sangat positif. Terutama teman-teman di laboratorium yang bertemu setiap hari dan rutin melaksanakan diskusi mingguan,” paparnya.
Menutup kisahnya, Dea menitipkan pesan reflektif bagi rekan-rekan yang ingin menapaki jalan akademik serupa. Ia mengingatkan bahwa menempuh jenjang doktor memerlukan kesiapan mental yang kuat. “Kejarlah mimpimu, tapi perlu dipahami bahwa perjalanan S3 itu memiliki tantangan tersendiri, seperti tuntutan publikasi dan proses riset yang panjang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘PhD is not for everyone’, tapi jika telah menemukan jalan di sana, setiap prosesnya akan terasa sangat berharga,” pungkasnya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Dea Angelia Kamil
