Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program KKN-PPM Peduli Bencana Sumatera 2026. Program ini menjadi wujud nyata kontribusi UGM dalam mendukung fase pemulihan (recovery) pasca bencana melalui pendekatan multidisipliner yang berfokus pada sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 30 hari dari akhir Januari hingga awal Maret 2026.
Koordinator Unit KKN PPM UGM, Dewarta Bagus Bagaskara, mahasiswa Sekolah Vokasi Departemen Teknik Sipil angkatan 2023, menyampaikan bahwa partisipasinya dilandasi kepedulian kemanusiaan serta keinginan untuk mengaplikasikan ilmu secara langsung di lapangan. “Dorongan utamanya adalah rasa kemanusiaan. Saya merasa ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah akan jauh lebih bermanfaat jika dipraktekkan langsung di lapangan, khususnya dalam fase pemulihan pasca bencana,” ujarnya, Rabu (4/4).
Pada sektor infrastruktur, tim KKN-PPM UGM melakukan perbaikan sanitasi warga serta instalasi penjernihan air untuk memastikan akses air bersih kembali tersedia. Selain itu, mahasiswa turut membantu pendistribusian dan pemetaan hunian sementara (huntara), membangun balai masjid yang difungsikan sebagai pusat kegiatan masyarakat, serta memasang penerangan jalan berbasis panel surya. Kemudian, di bidang pendidikan dan fasilitas umum, tim membangun MCK dan menyediakan toren air di SMP setempat, serta merevitalisasi ruang bersalin di puskesmas guna mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Dalam sektor kesehatan, mahasiswa melaksanakan sosialisasi dan praktik cuci tangan di sekolah dengan pengadaan sabun, revitalisasi ruang pelayanan kesehatan, serta menggelar pengobatan gratis berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan puskesmas setempat. “Tim juga memberikan terapi korespondensi sujok serta menghibahkan alat kesehatan kepada tenaga medis desa, termasuk bidan dan kader kesehatan,” ujarnya.
Sementara di sektor pendidikan, mahasiswa membantu kegiatan belajar-mengajar di SD dan SMP, mengadakan aktivitas literasi dan senam bersama, membangun pojok baca dari hasil donasi buku, serta melakukan edukasi pengelolaan sampah yang berkoordinasi dengan takmir masjid.
Pelaksanaan program pengabdian ini tentu saja dibarengi dengan tantangan yang dihadapi di lapangan. Disebutkan bahwa tantangan utama selama pelaksanaan program adalah aspek logistik dan aksesibilitas, mengingat beberapa lokasi terdampak sulit dijangkau. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat mahasiswa untuk tetap menjalankan program kerja secara optimal. Diungkapkan oleh Dewa, Bagi tim, momen paling berkesan adalah ketika warga kembali dapat menikmati akses air bersih dan melihat progres pembangunan hunian sementara. “Ada momen saat melihat warga kembali tersenyum lebar ketika air bersih mulai mengalir kembali. Di sana saya sadar bahwa resiliensi masyarakat kita itu luar biasa hebat,” tutur Dewa.
Melalui program ini, UGM tidak hanya mendorong mahasiswa untuk mengimplementasikan keilmuan secara aplikatif, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan dan solidaritas sosial. “Menjadi kormanit adalah pelajaran kepemimpinan paling nyata bagi saya. Saya belajar bahwa menjadi pemimpin bukan soal memberi perintah, tapi soal bagaimana melayani dan mendengarkan anggota tim juga warga setempat,” ungkapnya.
Program KKN-PPM Peduli Bencana Sumatera 2026 menegaskan peran UGM sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat, terutama dalam situasi krisis. Melalui kolaborasi, empati, dan kerja tim, UGM berkomitmen terus berkontribusi dalam upaya pemulihan dan penguatan ketahanan masyarakat pascabencana.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim KKN PPM
