Guru Besar bidang Ilmu Fisika Citra, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Gede Bayu Suparta, bersama tim merasa bersyukur karena produk teknologi Radiografi Sinar-x Fluoresensi Digital (RSFD) yang dirintis sejak tahun 1990 telah berhasil dipasarkan ke industri dan masyarakat. Bahkan proses hilirisasi telah dilakukan melalui PT Madeena Karya Indonesia (PT Madeena) sejak tahun 2012 dan memperkenalkan produk DDR Madeena menggunakan teknologi RSFD di tahun 2021, kini telah memperoleh izin edar dari Kemenkes RI.
Bayu menjelaskan DDR Madeena dirancang untuk hadir sebagai alat medis utama di Indonesia yang seharusnya tersedia di semua Rumah Sakit, Klinik, hingga Puskesmas. DDR Madeena ini adalah alat medis untuk keperluan cek kesehatan dimana data yang dihasilkannya berupa citra (gambar) visual. Dengan hasil berbentuk citra visual, baik dokter, pasien dan keluarga pasien dapat secara objektif dan transparan memperoleh informasi status dan kondisi kesehatan pasien. “Keterbukaan informasi dari penyelenggara layanan kesehatan kepada pasien dan keluarga dan informasi yang diperoleh secara cepat akan sangat membantu proses penanganan pasien bila terindikasi mengalami suatu penyakit,” ujarnya di Kampus UGM, Senin (9/2) usai mengikuti Forum Medical Expo 2026 di GIK UGM.
Bayu mengaku bersyukur karena PT Madeena telah memiliki Izin Produksi Alkes (IPAK) dan sertifikat Cara Produksi Alat Kesehatan yang Baik (CPAKB). PT Madeena juga telah memperoleh surat Ijin Distribusi Alkes. Produk DDR Madeena (Medical Image Digitizer), dan juga telah mendapat sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 57,62 persen,Iapun menjelaskan Teknologi Radiografi Digital muncul dalam berbagai bentuk produk alat radiologi di rumah sakit. Alat radiologi tersebut dikategorikan sebagai alat penunjang medis, namun harganya relatif sangat mahal karena fitur-fitur canggih yang dilekatkan, dan alat radiologi umumnya hanya tersedia di rumah sakit dan digunakan untuk keperluan skrining medis, medical check-up (MCU), diagnostik dan terapi.
Disebutnya, alat radiologi selama ini pada umumnya didatangkan sebagai produk impor, sehingga investasi rumah sakit dan pemerintah menjadi sangat mahal, yang berdampak pada keterbatasan Pemerintah dalam pengadaan alat radiologi, dan juga berdampak pada biaya layanan radiologi yang mahal dan terbatas. Namun, alat radiologi seperti Radiografi Digital dan CTScan yang sebenarnya sangat canggih tetap saja dikategorikan sebagai alat penunjang medis dan sering digunakan sebagai pemanis promosi layanan suatu rumah sakit.
Kini, ia bersama tim peneliti patut berbangga dengan kehadiran DDR Madeena sebagai hasil karyanya. Alat ini telah menunjukkan kinerja alat yang setara, bahkan mungkin lebih canggih dibanding produk alat radiologi yang saat ini tersedia dan digunakan di Rumah Sakit. ““Kami punya harapan agar produk DDR Madeena berkontribusi memanfaatkan anggaran Rp 47 Triliun yang dianggarkan Pemerintah untuk cek kesehatan gratis (CKG). Karena dengan kepercayaan itu, produk DDR Madeena akan baik dan produk alkes penunjang CKG buatan Madeena yang baru akan bisa diwujudkan,” harapnya.
Ia menyampaikan bahwa DDR Madeena hadir sebagai solusi pipeline yang cerdas dari suatu layanan kesehatan yang terintegrasi dengan menambahkan fitur-fitur canggih standar Madeena yaitu adopsi fitur Digital Industry 4.0 yang canggih, new normal, mobile system, alat portable-transportable, dilengkapi DICOM, PACS, aplikasi teleradiologi, dan AI-based diagnostic.
Menggandeng PT Madeena Karya Indonesia, hasil kajian mereka terhadap pengembangan DDR Madeena berkesempatan turut dipamerkan dalam forum Medical Expo 2026 selama dua hari, 6-7 Februari 2026 di Gedung Inovasi & Kreativitas Universitas Gadjah Mada. Baginya, pencapaian ini dapat menjadi template bagaimana seharusnya Perguruan Tinggi dan Pemerintah melalui Kementerian Dikti Saintek atau BRIN mengelola kekayaan intelektual yang dihasilkan para peneliti, para akademisi dan para mahasiswanya. Disebutnya bahwa kekayaan intelektual tidak hanya paten, tetapi juga ekuitas personal. “Bersama para mahasiswa di FMIPA Fisika UGM dan PT Madeena membuktikan bahwa riset yang berkelanjutan, konsisten, terarah, sangat fokus, dan berorientasi untuk memberi solusi atas masalah bangsa atau global pasti akan berhasil. Inovasi DDR Madeena adalah salah satu contoh keberhasilan hasil riset Perguruan Tinggi, khususnya sains Fisika, yang bisa go komersial,” tuturnya.
Melalui PT Madeena, pihaknya telah merintis pula kerjasama dengan perusahaan global seperti Oneness International Group, yang memiliki akses finansial dan supply and chain komponen, serta teknologi global terkini. Sebagai akademisi dan periset, ia secara sistematis melakukan kerjasama riset pengembangan teknologi dan produk bersama peneliti-peneliti dari universitas ternama dunia. Sebagai Peneliti, Gede Bayu Suparta ua terus melakukan riset dan pengembangan teknologi dengan menggandeng banyak pihak, khususnya melalui Oneness International Group pada tingkat global. “Buktinya, produk DDR Madeena buatan Indonesia kini diperkuat dengan layanan AI-based diagnostic yang dikembangkan bersama partner-partner global. Pengalaman dan kompetensi Madeena dalam pengembangan DDR Madeena, juga telah mendorong mempercepat kerjasama pengembangan produk Ultrasonografi (USG) berbasis AI,” paparnya.
Penulis : Agung Nugroho
