Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof. Dr. drh. Widagdo Sri Nugroho, M.P., resmi dikukuhkan menjadi Guru Besar dalam bidang Ilmu Epidemiologi Lapangan dan Kebijakan Kesehatan Hewan, Kamis (8/4) di Balai Senat UGM. Dalam pidatonya yang berjudul ‘Pendekatan Epidemiologi Komprehensif Sebagai Dasar Kebijakan Pembangunan Kesehatan Hewan Nasional’, ia menyoroti tantangan multidimensional yang kompleks pada pembangunan kesehatan hewan di Indonesia.
Membuka pidatonya, Widagdo menyinggung adanya permasalahan wabah penyakit hewan yang dalam dua puluh lima tahun terakhir mengguncang Indonesia, diantaranya kasus Highly Patogenic Avian Influenza (HPAI), wabah African Swine Fever (ASF), hingga wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Tidak semata-mata masalah teknis kesehatan hewan, namun situasi ini juga berkaitan dengan kondisi ekonomi, sosial-budaya, dan kelembagaan teknis kesehatan hewan nasional dan daerah, sumber daya manusia, lalu lintas perdagangan, hingga pendanaan. “Hal ini menyadarkan kita bahwa pengelolaan kesehatan hewan nasional perlu pendekatan yang lebih komprehensif dengan berwawasan one health one welfare untuk memaksimal segala potensi,” tuturnya.
Dalam mengelola kesehatan hewan, ia menyebut bahwa perlunya menggunakan konsep kausalitas dalam kesehatan populasi. Hal ini untuk memberikan pemahaman bahwa munculnya suatu penyakit tidaklah terjadi secara kebetulan. Ia menjelaskan bahwa hal ini dipengaruhi oleh adanya pola distribusi, frekuensi, hingga faktor penyebab yang diidentifikasi melalui pendekatan sistematis pada tingkat populasi yang dipelajari dalam epidemiologi. “Hubungan kausalitas kejadian penyakit perlu dipahami dalam konteks populasi, bukan hanya individu. Sehingga faktor yang memengaruhi kejadian penyakit ini digunakan sebagai dasar pengendalian dan pencegahan,” jelasnya.
Di Indonesia sendiri, penerapan epidemiologi memiliki peran penting dalam sistem surveilans, pemetaan risiko, serta perumusan kebijakan pengendalian penyakit hewan. Adapun penerapan epidemiologi deskriptif sudah lama dilakukan di Indonesia untuk menggambarkan kondisi penyakit berdasarkan frekuensi, distribusi geografis, serta waktu kejadian penyakit dalam satu populasi. Selain itu, terdapat juga epidemiologi spasial yang semakin berkembang di Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keragaman ekosistemnya. “Dengan adanya visualisasi spasial dalam bentuk peta tematik, memudahkan kita dalam mengidentifikasi klaster risiko dan prioritas intervensi,” jelasnya.
Lebih lanjut, penyidikan penyakit pada hewan juga menerapkan pendekatan epidemiologi analitik yang diterapkan sejak mewabahnya HPAI pada 2003 silam. Kajian ini bertujuan menjelaskan kejadian penyakit populasi meliputi pola penyakit secara biologis, serta arah kejadian penyakit yang meliputi hewan (inang), ruang (spasial), dan waktu. “Pendekatan deskriptif merupakan pondasi awal, namun tantangan kesehatan hewan di Indonesia yang kompleks menuntut adanya penguatan epidemiologi analitik dan spasial berbasis teknologi informasi dan sistem surveilans terintegrasi,” tuturnya.
Saat ini, pemanfaatan teknologi digital juga telah dilakukan dalam mengembangkan analisis epidemiologi kesehatan hewan di Indonesia dengan membangun Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS). Penerapan ini sangat membantu menjelaskan kondisi status penyakit pada hewan di Indonesia. Ia menyebut bahwa presentasi data informasi spasial ini diharapkan dapat mempermudah pembaca dalam mengetahui kejadian dan lokasi sebaran penyakit. “Pada lokasi yang penting dan genting, data informasi yang lebih rinci dapat dielaborasi untuk memperjelas situasi yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia,” ungkapnya.
Widagdo menjelaskan, pemodelan penyakit yang sering digunakan yakni dengan menggunakan regresi linier, regresi logistik, dan analisis tapak. Ketiga pemodelan ini bertujuan dalam memprediksi kejadian penyakit berdasarkan analisis faktor risiko secara multivariat. Dalam beberapa penelitian, analisis regresi linier digunakan untuk memprediksi prevalensi seperti contohnya pada infeksi Salmonella pada ayam petelur di Sleman. Lalu untuk memprediksi peluang kejadian penyakit, analisis regresi logistik sering digunakan seperti contohnya pada penelitian Brucellosis pada sapi di Klaten. “Dua contoh pemodelan tersebut menunjukkan faktor penyebab secara langsung dalam memprediksi kejadian penyakit,” tuturnya.
Namun, kejadian yang terjadi di lapangan tidak hanya menunjukkan faktor penyebab secara langsung (direct). Ia menjelaskan bahwa penggunaan analisis tapak mampu menunjukkan keterhubungan antar faktor dengan kejadian penyakit, baik secara langsung (direct), maupun tidak langsung (indirect). Seperti yang terjadi pada penelitian kejadian Avian Influenza pada itik di Sentra peternakan itik Alabio di Kalimantan Selatan. “Sehingga pemodelan ini memberikan gambaran faktor risiko atas kejadian dengan lebih jelas dan menarik. Hal ini merupakan faktor kunci yang dapat direkomendasikan untuk dikelola agar kejadian penyakit dapat dicegah atau diturunkan tingkat kejadiannya,” jelasnya.
Pada akhir pidatonya, ia menegaskan kembali bahwa pembangunan kesehatan hewan harus berlandaskan pada data empiris yang dikumpulkan secara sistematis, dianalisis secara ilmiah, dan dievaluasi secara berkala. Dengan begitu, kebijakan yang dihasilkan dapat adaptif terhadap dinamika penyakit, perubahan ekosistem, hingga perkembangan sosial-ekonomi di masyarakat. Sehingga dapat berdampak pada ketahanan kemandirian pangan asal hewan, perlindungan kesehatan masyarakat dari zoonosis, serta meningkatkan daya saing produk hewan Indonesia secara global. “Dengan pendekatan epidemiologi yang komprehensif, pembangunan kesehatan hewan dapat semakin terarah dalam mewujudkan Sesanti Manusya Mriga Satwa, yakni mensejahterakan masyarakat melalui kesehatan hewan secara nyata dan berkelanjutan,” pungkas Widagdo.
Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, menyampaikan bahwa Prof. Widagdo kini menjadi satu dari 547 guru besar aktif di UGM. Di lingkungan FKH UGM, ia merupakan salah satu dari 23 guru besar aktif dari 36 guru besar yang dimiliki oleh fakultas tersebut.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
