Sebanyak 336 kabupaten/kota atau 65,4 persen dari total wilayah administrasi dikategorikan dalam status darurat sampah per Januari 2026. Disamping keterbatasan lahan TPA, peningkatan volume sampah yang pesat dan minimnya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga menjadi penyebab utama masalah ini. Situasi dan kondisi ini membawa pemerintah daerah di Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis serius dalam pengelolaan sampah, dan isu pengelolaan sampah inipun masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Di tengah perkembangan teknologi digital, berbagai inovasi mulai dimanfaatkan untuk membantu mengatasi persoalan tersebut salah satunya adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Dosen Departemen Manajemen FEB UGM, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., bersama tim peneliti FEB UGM mengembangkan sebuah aplikasi yang memanfaatkan AI untuk pengelolaan sampah. Aplikasi yang diberi nama Westa ini dirancang sebagai solusi untuk pengelolaan sampah. Diungkapnya pengembangan aplikasi ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi pengelolaan sampah di Indonesia yang dinilai belum tertata dengan baik. “Proses identifikasi jenis sampah selama ini masih banyak dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul sampah atau pengepul. Padahal, proses tersebut tidak mudah dan tidak banyak orang yang bersedia melakukannya,” ujarnya di Kampus UGM, Jum’at (13/3).
Melalui aplikasi Westa, Luluk menjelaskan proses mengidentifikasi sampah dapat dilakukan secara lebih cepat dan praktis. Pengguna cukup memotret sampah menggunakan kamera smartphone, kemudian sistem AI secara otomatis akan mengenali jenis sampah tersebut melalui teknologi computer vision. Aplikasi Westa, inipun dapat mengestimasi berat sampah yang dihasilkan.
Menurut Luluk, data mengenai berat sampah tersebut memiliki peran penting karena digunakan untuk menghitung estimasi emisi karbon yang dihasilkan dari limbah tersebut. Dalam mengembangkan aplikasi Westa ini, tim peneliti menggunakan emission factor dari Environmental Protection Agency sebagai acuan perhitungan emisi karbon, dan aplikasi ini juga dirancang untuk dapat mengidentifikasi merek produk yang menghasilkan sampah tersebut.
“Dengan mengidentifikasi merek produk, data sampah yang terkumpul dapat membantu menelusuri produsen yang produknya berkontribusi terhadap limbah. Kemampuan inipun berkaitan dengan konsep Extended Producer Responsibility (EPR) dalam ekonomi sirkular. Bahwa prinsip tersebut menekankan produsen tidak hanya bertanggung jawab pada tahap produksi dan distribusi, tetapi juga terhadap lingkungan setelah produk dikonsumsi,” terangnya.
Luluk menambahkan aplikasi Westa dilengkapi pula dengan fitur geotagging yang memungkinkan sistem mencatat lokasi ditemukannya sampah tertentu. Melalui fitur ini, data yang dihasilkan tidak hanya menunjukkan jenis sampah, tetapi juga memperlihatkan pola penyebaran sampah di berbagai wilayah.
Bahkan data yang terkumpul dari aplikasi Westa dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif. Melalui analisis data tersebut, pemerintah juga dapat mengidentifikasi produk yang menghasilkan limbah besar sehingga dapat mendorong produsen lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah. “Di masa depan, pengembangan Westa tidak hanya difokuskan pada organisasi atau institusi, tetapi juga diarahkan untuk dapat digunakan oleh masyarakat luas,” paparnya.
Aplikasi Westa diharapkan dapat dikembangkan hingga ke level konsumen individu. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat memotret sampah yang mereka hasilkan sehingga dapat melihat profil jenis sampah harian atau mingguan melalui dashboard aplikasi. Dengan mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan, para pengguna dapat mengidentifikasi praktik overconsumption dan mempertimbangkan untuk mengurangi konsumsi yang tidak perlu sehingga jumlah limbah yang dihasilkan dapat ditekan.
“Kita berharap aplikasi Westa dapat berkembang menjadi sebuah waste circular ecosystem, yaitu ekosistem digital yang menyediakan data komprehensif mengenai profil sampah di Indonesia. Menjadi one stop waste circular ecosystem yang menyediakan data mengenai jenis dan jumlah sampah, tingkat daur ulang, dan dampak karbonnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum/ Humas FEB UGM
Penulis : Agung Nugroho
Foto : Freepik & Dok.FEB UGM
