Sektor transportasi tercatat menyumbang sekitar 25 persen emisi gas rumah kaca global dan aktivitas penerbangan menjadi salah satu kontributor signifikan di dalamnya. Peralatan Ground Support Equipment (GSE) seperti Baggage Towing Tractor (BTT) umumnya masih mengandalkan bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon tinggi, polusi suara, serta tingginya biaya operasional. Isu ini menjadi sorotan utama dalam webinar ‘Elektrifikasi Ground Support Equipment (GSE): Strategi Efisiensi Energi dan Pengurangan Emisi di Bandar Udara’ yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM bersama BRIN, Rabu (19/11) silam.
Caretaker Pustral UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa elektrifikasi GSE merupakan langkah strategis yang selaras dengan target nasional pengurangan emisi. Menurutnya, modernisasi peralatan bandara tidak hanya penting bagi efisiensi energi, tetapi juga bagi kesehatan lingkungan dan kenyamanan operasional di bandara. Webinar ini menghadirkan 750 peserta dari berbagai institusi pemerintah, industri penerbangan, akademisi, hingga praktisi transportasi.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Prof. Dr. Cuk Supriyadi Ali Nandar, S.T., M.Eng., mengatakan bahwa transformasi menuju GSE rendah emisi harus dilakukan melalui sinergi multipihak. “Melalui webinar ini, harapannya dapat dirumuskan rekomendasi dan tindak lanjut untuk mendorong komitmen nyata yang bukan hanya mendorong teknologi namun juga pengurangan emisi,” harapnya.
Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Dr. Eng. Aam Muharam, M.T., menegaskan bahwa elektrifikasi GSE merupakan peluang strategis untuk menurunkan jejak karbon bandara sekaligus meningkatkan daya saing sektor penerbangan nasional. “Tidak hanya mendukung target pengurangan emisi nasional dan internasional, namun juga menjadi kekuatan daya saing bandara untuk ekosistem operasional yang lebih hening, bersih, dan menghemat biaya operator bandara,” katanya.
Kementerian Perhubungan RI turut menyoroti pentingnya roadmap elektrifikasi GSE yang telah ditetapkan dalam KM 08 Tahun 2023 sebagai bagian aksi mitigasi perubahan iklim sektor transportasi. Kepala Subdirektorat Penyelenggaraan dan Pengusahaan Bandar Udara, Cece Tarya, S.T., M.A., menjelaskan empat tahapan strategi nasional elektrifikasi yang dimulai tahun 2025 hingga 2029. “Aksi ini mencakup efisiensi energi, pemanfaatan energi baru terbarukan, serta langkah-langkah kebijakan dan uji kelaikan teknologi,” paparnya.
PT Angkasa Pura Indonesia turut memaparkan rencana konversi kendaraan operasional berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Airport Engineering Group Head, Akbar Putra Mardhika, menyebutkan bahwa hingga 2030 akan dilakukan konversi 197 unit kendaraan operasional dan pembangunan 147 unit SPKLU sebagai pendukung. “Namun demikian, masih ada tantangan implementasi elektrifikasi di bandara diantaranya aspek SPKLU, aspek emergency, dan biaya investasi,” jelasnya.
Pemanfaatan teknologi listrik pada BTT juga disampaikan oleh Maintenance and Engineering Services Group Head PT Gapura Angkasa, Laode M. Syamrin. Ia menunjukkan bahwa penggunaan BTT elektrik mampu menghemat biaya operasional hingga 20,73 persen dalam 10 tahun. “Saat ini di Bandara Soetta, BTT elektrik milik Gapura dengan kapasitas 1.500 hanya dipergunakan untuk menarik bagasi, tidak dipergunakan untuk menarik kargo,” ucapnya.
Kajian BRIN menunjukkan bahwa peralihan BTT diesel ke BTT listrik memberikan keuntungan finansial dan lingkungan dalam jangka panjang. Perekayasa Ahli Muda BRIN, Mohamad Ivan Aji Saputro, menjelaskan bahwa penggunaan BTT elektrik memberikan efisiensi energi nasional, fleksibilitas operasional, dan penurunan emisi yang signifikan. “Secara keseluruhan, alih teknologi dari BTT diesel ke BTT listrik cukup layak dan memberikan keuntungan finansial dan ekonomis baik bagi operator maupun masyarakat,” paparnya.
Peneliti Pustral UGM, Ir. Juhri Iwan Agriawan, S.T., M.Sc., menyampaikan bahwa elektrifikasi GSE secara langsung menurunkan emisi CO₂, NOx, dan PM di apron. Peningkatan kualitas udara dan kesehatan pekerja menjadi dampak positif yang tidak terhindarkan. “Elektrifikasi GSE adalah langkah strategis yang mendukung target Net Zero Emission dan program Green Airport nasional,” ujarnya.
Melalui rekomendasi teknis dan kajian operasional yang disampaikan dalam webinar ini, Pustral UGM dan BRIN berharap elektrifikasi GSE dapat menjadi agenda kebijakan nasional yang terukur. Sinergi antara pemerintah, industri, dan lembaga riset menjadi pondasi penting dalam mewujudkan transportasi udara yang lebih efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan.
Penulis: Jesi
Editor: Triya Andriyani
