Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM melengkapi runtutan profesor aktifnya dalam pengukuhan tiga guru besar di Balai Senat Gedung Pusat UGM, Selasa (7/4). Ketiga Guru Besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes., Prof. Dr. drg. Dyah Irnawati, M.S., serta Prof. Dr. drg. Julita Hendrartini, M.Kes., FISDPH., FISPD. Tema yang disampaikan pun beragam terkait teknologi biomedika, biomaterial polimer, hingga pelayanan kesehatan gigi mulut di Indonesia.
Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Teknologi Biomedika Kedokteran Gigi, Archadian Nuryanti, M.Kes., menyampaikan pidato pengukuhannya dengan judul “Perspektif Teknologi Biomedika dalam Menjaga Kehidupan melalui Kedokteran Gigi Preventif”. Orasi ilmiahnya menyoroti keilmuan ini tidak lagi sebatas penyembuhan penyakit (tooth-centered care), melainkan menjadi pemeliharaan berkelanjutan (life-centered care).
Archadian menjelaskan beberapa transformasi kedokteran gigi preventif melalui teknologi biomedika. Seperti adanya teknologi diagnostik preventif melalui saliva, mikrobioma oral, juga imaging digital dan AI. Selain itu, ia juga menuturkan teknologi intervensi biomedika yang mencakup ultrasonik presisi rendah trauma, agen bioaktif dan herbal berbasis bukti. Ia mencatatkan adanya teknologi preventif berbasis perilaku dan lingkungan meliputi smart devices (IoT oral care) sehingga pencegahan menjadi bagian dari gaya hidup.
Berbicara tentang sejarah perawatan gigi secara preventif, Archadian menyebutkan penggunaan jamu tradisional masih marak dipercaya masyarakat hingga kini obat herbal mulai dikembangkan secara klinis. Hal tersebut seiring dengan perkembangan pesat akal imitasi (AI) yang berpotensi menopang proteksi dini. “Tetapi setiap inovasi memiliki batasan yang harus diperhatikan serta kesiapan tenaga medis untuk berkolaborasi. Pesan saya juga tindakan preventif untuk menjaga kesehatan ada dalam 3G, gerak, gelak, dan gaya,” lengkapnya.
Sementara Dyah Irnawati, menapaki bidang Ilmu Biomaterial Polimer Kedokteran Gigi yang membawa orasi ilmiahnya dalam judul “Perjalanan Biomaterial Polimer Kedokteran Gigi: Dari Polimer Konvensional sampai Polimer Cerdas”. Menilik perjalannya, ia menyebutkan polimer diawali dengan penggunaan karet alam, berkembang menjadi polimer sintesis polimetil metakrilat (PMMA), hingga pada bisfenol A glisidil metakrilat (bis-GMA). Terlebih pada berbagai cabang kedokteran gigi, peran material ini hampir digunakan seperti dalam silikon soft liners, resin, pengisi saluran akar, waxes, serta lainnya.
Dyah menyebutkan adanya kemajuan signifikan dalam pengembangan polimer cerdas. Seperti adanya polimer bersifat antimikroba, shape memory polymers yang sensitif perubahan suhu, cahaya, hingga gaya mekanis. Kemudian adanya material responsif terhadap pH, polimer self-healing yang mampu memperbaiki diri sendiri, serta peptida antimikroba cerdas. “Perkembangan ini menandakan polimer tidak lagi material statis, melainkan dinamis yang dapat beradaptasi menuju biomaterial cerdas,” sebutnya.
Dilanjutkan Julita Hendrartini, yang menyampaikan pidato pengukuhannya di bidang Kebijakan, Manajemen, dan Pembiayaan Kedokteran Gigi. Ia membawa judul “Mengatasi Ketimpangan Pelayanan Gigi dan Mulut di Indonesia” menyebutkan implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum otomatis identik dengan akses pemanfaatan layanan gigi yang nyata. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI tahun 2023) masalah gigi dan mulut mencapai 56,9 persen usia >3 tahun dan hanya 11,2 persen di antaranya yang berobat (Kemenkes, 2024).
Ketimpangan pelayanan gigi juga ditunjukkan pada data faktual lain, Dyah menjabarkan jumlah dokter gigi di Indonesia tahun 2023 ada 23.834 dan spesialis 3.243. Tidak seirama secara nasional terdapat 22,4 persen Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang tidak memiliki dokter gigi. Semakin terasa ketika data AFDOKGI 2025 menyampaikan produksi dokter gigi bisa sekitar 3.500–4.000 per tahun. “Masalah utama bukan jumlah lulusan, tetapi ke distribusi dan retensi tenaga kesehatan giginya. Jika dilihat dari sisi sosiologinya pun penempatan cenderung berkumpul di perkotaan,” sebutnya.
Ia mengusulkan solusi strategis untuk memperbaiki kondisi tersebut. Ia merasa perlu adanya reformasi distribusi SDM dokter gigi, seperti mapping kebutuhan lokasi serta insentif untuk daerah 3T. Kemenkes dapat melakukan kerja sama dengan akademisi dalam pengembangan dashboard kesehatan gigi untuk deteksi early warning in equity dalam pelayanan, serta solusi lain. “Ketimpangan ini merupakan konsekuensi interaksi dari banyak faktor. Menambah jumlah lulusan tidak otomatis menyelesaikan akses daerah terpencil jika kebijakan insentif tidak berubah, infrastruktur minim, dan jalur karier tidak jelas,” tutupnya.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
